Berita

Dari Taipan Properti hingga Penjara Seumur Hidup, Begini Runtuhnya Kerajaan Evergrande

Nama Hui Ka Yan atau Xu Jiayin pernah identik dengan kesuksesan luar biasa di industri properti China. Dari sebuah perusahaan yang didirikannya pada 1996, Evergrande berkembang menjadi salah satu pengembang real estat terbesar di Negeri Tirai Bambu.

Pertumbuhan perusahaan yang sangat agresif bahkan membuat Hui masuk jajaran orang terkaya di Asia. Pada 2017, Forbes mencatat kekayaannya mencapai sekitar US$45,3 miliar. Saat itu, ia menjadi simbol keberhasilan di tengah pesatnya pembangunan, urbanisasi, dan pertumbuhan sektor properti China.

Namun, kejayaan tersebut tidak bertahan selamanya. Pada Kamis, 20 Agustus 2026, Pengadilan Rakyat Menengah Shenzhen menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada Hui Ka Yan. Harta pribadinya disita dan hak politiknya dicabut secara permanen.

Perkara tersebut menjadi puncak dari keruntuhan panjang Evergrande. Kasusnya bukan hanya tentang perusahaan yang terlilit utang, tetapi juga menyangkut manipulasi laporan keuangan, penghimpunan dana ilegal, penerbitan sekuritas palsu, penyalahgunaan aset, hingga dugaan penyuapan.

Manipulasi Keuangan Mencapai Puluhan Miliar Dolar

Salah satu persoalan terbesar dalam kasus Hui berkaitan dengan laporan keuangan Hengda Real Estate, anak usaha utama Evergrande.

Dalam persidangan yang berlangsung selama dua hari pada April 2026, Hui mengakui delapan dakwaan yang ditujukan kepadanya dan menyatakan penyesalan atas perbuatannya.

Kasus tersebut sebelumnya semakin serius setelah otoritas China melakukan pengawasan terhadap Hui pada September 2023. Penyelidikan kemudian mengungkap dugaan rekayasa laporan keuangan perusahaan.

Pada 2024, China Securities Regulatory Commission (CSRC) menyatakan Hengda Real Estate telah menggelembungkan pendapatan sekitar US$78 miliar sepanjang 2019 dan 2020. Jika dikonversikan, nilainya mencapai sekitar Rp1.227 triliun.

Rekayasa tersebut membuat performa keuangan perusahaan terlihat lebih baik daripada kondisi sebenarnya. Laporan keuangan yang tidak mencerminkan keadaan perusahaan tentu dapat memengaruhi keputusan investor dan pihak lain yang berkepentingan.

Akibat pelanggaran tersebut, Hengda dijatuhi denda 4,175 miliar yuan atau sekitar Rp9,1 triliun. Hui juga dikenai denda 47 juta yuan atau sekitar Rp102 miliar serta dilarang seumur hidup memasuki pasar saham China.

Penghimpunan Dana Publik Ikut Menjerat Hui

Masalah Evergrande tidak berhenti pada manipulasi laporan keuangan. Perusahaan juga diketahui mengumpulkan dana masyarakat melalui berbagai produk manajemen kekayaan.

Ketika kondisi keuangan Evergrande mulai memburuk dan likuiditas semakin terbatas, kewajiban kepada para investor tidak dapat dipenuhi sebagaimana mestinya.

Situasi tersebut memicu kerugian bagi banyak investor ritel. Sejumlah investor bahkan melakukan aksi protes untuk meminta kejelasan mengenai dana yang telah mereka setorkan.

Hui kemudian dinyatakan bersalah dalam perkara penghimpunan dana publik secara ilegal. Unit manajemen kekayaan Evergrande disebut menawarkan produk investasi kepada masyarakat tanpa memenuhi ketentuan yang berlaku.

Ketika perusahaan kesulitan mengembalikan dana tersebut, aparat China melakukan penindakan terhadap sejumlah pihak yang berkaitan dengan aktivitas tersebut.

Perkara ini memperlihatkan bahwa masalah Evergrande bukan sekadar kegagalan membayar utang. Cara perusahaan memperoleh dan mengelola dana juga menjadi bagian penting dalam penyelidikan.

Ekspansi Besar-Besaran dengan Utang

Salah satu faktor utama yang membawa Evergrande ke dalam krisis adalah strategi ekspansi yang sangat bergantung pada utang.

Selama bertahun-tahun, perusahaan menggunakan pembiayaan dalam jumlah besar untuk membeli lahan, membangun proyek perumahan, dan mengembangkan bisnis ke berbagai sektor.

Strategi tersebut sempat menghasilkan pertumbuhan yang sangat cepat. Evergrande kemudian memiliki proyek di banyak wilayah China dan menjadi salah satu pemain terbesar di industri properti.

Namun, model bisnis dengan tingkat utang tinggi memiliki risiko besar ketika pasar mulai melemah.

Penjualan rumah menurun, akses pembiayaan semakin sulit, sementara kewajiban perusahaan terus bertambah. Pada akhirnya, utang Evergrande membengkak hingga lebih dari US$300 miliar atau sekitar Rp5.294 triliun.

Beban tersebut membuat perusahaan kesulitan memenuhi pembayaran kepada kreditur, menyelesaikan pembangunan proyek, dan memenuhi kewajiban terhadap investor.

Dugaan Penyalahgunaan Aset dan Penyuapan

Hui juga dinyatakan bersalah dalam perkara yang berkaitan dengan penyalahgunaan posisi untuk mengalihkan aset perusahaan.

Tindakan tersebut dinilai merugikan kepentingan perusahaan sekaligus berdampak pada hak kepemilikan pihak publik maupun swasta.

Kasus lain yang turut memperberat persoalan adalah penerbitan sekuritas palsu. Perkara ini berkaitan erat dengan manipulasi laporan keuangan yang dilakukan sebelumnya.

Ketika kondisi keuangan perusahaan digambarkan lebih baik daripada keadaan sebenarnya, sekuritas yang diterbitkan berdasarkan informasi tersebut berpotensi membuat investor mengambil keputusan berdasarkan data yang menyesatkan.

Pemegang obligasi Evergrande di dalam maupun luar China kemudian menghadapi risiko besar ketika kondisi sebenarnya perusahaan terungkap.

Hui juga terseret kasus penyuapan. Perkara tersebut memperlihatkan bahwa masalah tata kelola di tubuh perusahaan telah berkembang menjadi persoalan hukum yang lebih luas.

Lima Eksekutif Senior Turut Mendapat Hukuman

Hui Ka Yan bukan satu-satunya pihak yang harus mempertanggungjawabkan kasus Evergrande.

Pada hari yang sama, pengadilan juga menjatuhkan hukuman penjara kepada lima eksekutif senior perusahaan. Mereka masing-masing menerima hukuman antara enam hingga 18 tahun.

Media pemerintah CCTV melaporkan sebanyak 56 orang yang berkaitan dengan skandal tersebut menerima putusan hukum. Dua putra Hui, Xu Tenghe dan Xu Zhijian, juga termasuk dalam pihak yang mendapatkan hukuman.

Banyaknya orang yang terseret menunjukkan bahwa persoalan Evergrande berlangsung dalam skala luas dan melibatkan berbagai tingkatan di dalam perusahaan.

Penindakan tersebut juga menjadi pesan bagi sektor bisnis China bahwa ukuran perusahaan dan posisi seseorang tidak membuat mereka kebal terhadap hukum.

Baca Juga; Balita 2 Tahun Bikin Warga Wonosobo Panik

Evergrande Sudah Lebih Dulu Runtuh

Sebelum Hui dijatuhi hukuman seumur hidup, kerajaan bisnis yang dibangunnya sebenarnya telah mengalami keruntuhan.

Pengadilan Hong Kong memerintahkan likuidasi Evergrande pada awal 2024. Tidak lama kemudian, saham perusahaan resmi dihapus dari bursa pada Agustus 2025.

Rangkaian kejadian tersebut menunjukkan perubahan ekstrem yang dialami Evergrande. Perusahaan yang dahulu menjadi simbol ekspansi properti China berubah menjadi salah satu contoh terbesar kegagalan bisnis akibat kombinasi utang tinggi dan persoalan tata kelola.

Kejatuhan Evergrande juga memberikan dampak lebih luas terhadap sektor properti China. Industri properti beserta sektor turunannya pernah menjadi salah satu penggerak utama perekonomian negara tersebut.

Ketika Evergrande gagal memenuhi kewajibannya pada akhir 2021, kepercayaan terhadap pasar properti ikut melemah. Pengembang besar lainnya seperti Country Garden, Vanke, dan Kaisa juga menghadapi tekanan keuangan.

Penjualan rumah baru ikut mengalami penurunan. Kondisi tersebut turut menyebabkan banyak proyek hunian terhenti dan menimbulkan persoalan bagi pembeli yang telah membayar rumah mereka.

Vonis Hui Belum Mengakhiri Masalah Evergrande

Hukuman seumur hidup yang diterima Hui Ka Yan menjadi akhir dari perjalanan hukum sang pendiri, tetapi belum otomatis menyelesaikan seluruh persoalan Evergrande.

Masih ada kreditur yang menunggu pembayaran, investor yang mengalami kerugian, serta pembeli rumah yang menantikan penyelesaian proyek mereka.

Sebagian pihak berharap aset yang disita dari para pelaku dapat membantu memulihkan dana dan mendukung penyelesaian kewajiban perusahaan. Namun, proses tersebut tentu membutuhkan waktu dan tidak serta-merta menghapus seluruh persoalan.

Perjalanan Hui Ka Yan menjadi gambaran dramatis tentang bagaimana kekayaan dapat dibangun dengan sangat cepat sekaligus runtuh dalam waktu singkat.

Dari sosok dengan kekayaan sekitar US$45 miliar, Hui kini kehilangan harta, hak politik, dan kebebasannya. Sementara itu, Evergrande meninggalkan persoalan besar yang masih harus diselesaikan oleh kreditur, investor, pembeli rumah, dan pemerintah China.

Related posts

Heboh Video Mie Gacoan Matraman Dikira Diserang Massa Bersenjata, Polisi Luruskan Kronologi Sebenarnya

dewapbn

3 Aduan Tambang Ilegal Di Kaltim Diproses Hukum

Dolirena

Kecelakaan Pikap dan Truk Tangki di Tanah Bumbu Tewaskan Tujuh Orang, Mahasiswa KKN Jadi Korban

dewapbn