Pencarian terhadap delapan orang yang hilang bersama kapal Arupadhatu 1 di perairan Selat Sunda masih berlangsung. Di tengah operasi SAR yang belum menemukan titik terang, muncul sebuah temuan baru dari wilayah yang cukup jauh dari lokasi awal hilangnya kapal.
Warga menemukan jasad seorang pria tanpa identitas di kawasan pesisir Sawang Bengkok, Desa Khayapu, Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, pada Sabtu, 12 September 2026.
Temuan tersebut kemudian dilaporkan kepada Kantor Pencarian dan Pertolongan atau Basarnas Bengkulu. Karena identitas korban belum diketahui, muncul dugaan bahwa jasad tersebut mungkin memiliki kaitan dengan rombongan Arupadhatu 1 yang hingga kini belum ditemukan.
Namun, dugaan tersebut belum dapat dipastikan. Polisi masih melakukan pemeriksaan forensik dan menunggu hasil tes DNA untuk mengetahui identitas korban secara lebih akurat.
Kondisi Jasad Membuat Identifikasi Tidak Bisa Dilakukan Secara Visual

Kondisi jasad yang ditemukan di Enggano membuat proses pengenalan melalui ciri wajah menjadi sulit. Karena itu, kepolisian tidak menjadikan pemeriksaan secara kasatmata sebagai dasar untuk menentukan identitas.
Polda Bengkulu melakukan autopsi terhadap jasad tersebut sekaligus mengambil sampel DNA. Sampel itu nantinya akan dibandingkan dengan data antemortem dari orang-orang yang masih dinyatakan hilang.
Kabid Humas Polda Bengkulu Kombes Imam Wijayanto menegaskan belum ada kepastian bahwa jasad tersebut merupakan salah satu anggota rombongan Arupadhatu 1.
Dari pemeriksaan awal, polisi juga mengetahui bahwa jasad tersebut bukan warga Pulau Enggano. Kondisi itu kemudian mendorong koordinasi dengan kepolisian di wilayah lain, termasuk Polda Lampung dan Polda Banten.
Langkah tersebut diperlukan untuk mengetahui apakah ciri-ciri korban memiliki kesesuaian dengan laporan orang hilang yang tengah ditangani.
Jenazah Dibawa dari Enggano ke Bengkulu
Karena jasad ditemukan di Pulau Enggano, proses evakuasinya membutuhkan transportasi udara. Kepala Kantor SAR Bengkulu Muslikun Sodik mengatakan jenazah diterbangkan menuju Kota Bengkulu pada Senin, 14 September 2026.
Pemindahan dilakukan menggunakan pesawat perintis Susi Air. Pesawat berangkat dari Bandara Enggano sekitar pukul 07.58 WIB dan menuju Bandara Fatmawati Soekarno di Kota Bengkulu.
Selama proses evakuasi, jenazah dikawal oleh dua anggota kepolisian.
Sesampainya di Bengkulu, jasad langsung diserahkan kepada Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Bengkulu untuk pemeriksaan lebih lanjut. Proses autopsi kemudian dilakukan sebagai bagian dari upaya mengungkap identitas dan kondisi korban.
Sampel DNA yang diambil menjadi bagian paling penting dalam proses tersebut. Hasil pemeriksaan laboratorium nantinya akan menentukan apakah jasad memiliki hubungan dengan delapan orang yang hilang di Selat Sunda.
Polisi Cocokkan Data dengan Keluarga Korban
Polda Banten telah mengumpulkan data antemortem dari keluarga lima jurnalis dan tiga kru kapal Arupadhatu 1.
Data antemortem diperlukan untuk proses pencocokan identitas apabila ditemukan korban dalam kondisi yang tidak memungkinkan dikenali secara langsung.
Kabid Humas Polda Banten Kombes Maruli Ahiles Hutapea menyebut jasad yang ditemukan di Enggano berjenis kelamin laki-laki. Tingginya sekitar 165 sentimeter dan diperkirakan berusia lebih dari 50 tahun.
Meski terdapat ciri fisik tersebut, polisi belum dapat memastikan identitasnya. Kerusakan pada bagian wajah membuat pencocokan berdasarkan penampilan menjadi tidak memungkinkan.
Karena itu, hasil DNA akan menjadi dasar utama dalam menentukan identitas korban.
Kepolisian juga mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru menghubungkan setiap temuan jasad dengan rombongan Arupadhatu 1. Sebelumnya, terdapat pula jasad yang ditemukan di Kali Terate, Serang, yang sempat dikaitkan dengan korban kapal tersebut.
Setelah dilakukan pemeriksaan, polisi memastikan jenazah di Kali Terate bukan bagian dari rombongan Arupadhatu 1.
Delapan Orang Hilang Saat Meliput Anak Krakatau

Arupadhatu 1 diketahui membawa delapan orang dalam perjalanan menuju kawasan Gunung Anak Krakatau.
Kapal tersebut berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang, Banten, pada Senin, 7 September 2026 sekitar pukul 14.00 WIB. Rombongan tersebut hendak melakukan peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Perjalanan diperkirakan hanya membutuhkan waktu sekitar dua jam. Namun, sekitar pukul 14.42 WIB, komunikasi dengan kapal dilaporkan terputus di antara perairan Carita dan kawasan Gunung Anak Krakatau.
Lima orang di dalam kapal merupakan jurnalis. Mereka adalah M. Bagus Khoirunnas dari ANTARA, Ari Basuki dari Merdeka.com, Yudistiro Pranoto dari iNews, Firman Daus dari Anadolu Agency, serta Donal Husni yang berprofesi sebagai jurnalis sekaligus fotografer lepas.
Tiga orang lainnya merupakan kru kapal, yaitu Warta sebagai kapten, Sukarman sebagai anak buah kapal, dan Heriyanto yang bertugas sebagai pemandu.
Laporan mengenai hilangnya kapal diterima Basarnas pada 8 September. Sejak saat itu, operasi pencarian langsung dilakukan.
Baca Juga; Konsep Karnaval Malam Tuai Polemik
Area Pencarian Terus Diperluas di Enggano
Pencarian awal dilakukan berdasarkan pedoman internasional IAMSAR dengan durasi tujuh hari. Namun, hingga memasuki hari ketujuh, delapan orang tersebut belum ditemukan.
Tim SAR kemudian memperluas pencarian. Sebanyak 18 kapal dan satu helikopter Basarnas dikerahkan untuk menyisir sejumlah area perairan.
Operasi juga menghadapi berbagai tantangan. Aktivitas Gunung Anak Krakatau yang menghasilkan asap tebal dapat mengganggu jarak pandang dari udara. Selain itu, arus laut memungkinkan korban maupun benda dari kapal terbawa menjauh dari lokasi awal.
Polda Lampung juga melakukan penyisiran di wilayah perairannya untuk mengantisipasi kemungkinan adanya korban atau benda yang terbawa arus menuju kawasan tersebut.
Beberapa benda memang ditemukan selama operasi, seperti jaket pelampung, galon, helm, dan terpal. Namun, belum ada yang dapat dipastikan berasal dari Arupadhatu 1.
Jaket pelampung berwarna oranye yang ditemukan TNI AL, misalnya, disebut bukan milik kapal tersebut berdasarkan keterangan pemiliknya.
Operasi SAR Diperpanjang Tiga Hari
Setelah melakukan evaluasi, Kepala Kantor SAR Banten Al Amrad menyatakan operasi pencarian diperpanjang selama tiga hari hingga periode berikutnya.
Keputusan tersebut diambil karena keberadaan delapan orang masih belum diketahui dan belum ditemukan bukti yang dapat menjelaskan kondisi mereka.
Keluarga korban pun masih menunggu di Posko SAR Pantai Carita. Mereka berharap perluasan pencarian dapat menemukan petunjuk yang membawa kepastian mengenai nasib para korban.
Kini, perhatian juga tertuju pada jasad yang ditemukan di Pulau Enggano. Hasil pemeriksaan DNA menjadi kunci untuk memastikan apakah korban tersebut memiliki kaitan dengan rombongan Arupadhatu 1.
Jika hasilnya cocok, temuan tersebut dapat menjadi petunjuk penting bagi proses pencarian. Namun, apabila hasil DNA tidak menunjukkan kecocokan, operasi pencarian terhadap lima jurnalis dan tiga kru kapal tetap akan dilanjutkan.
Untuk sementara, kepolisian masih meminta masyarakat menunggu hasil pemeriksaan resmi. Identitas korban belum dapat dipastikan hanya berdasarkan jenis kelamin, usia, tinggi badan, atau kemiripan ciri fisik. Kepastian baru dapat diperoleh setelah pemeriksaan forensik dan pencocokan DNA selesai dilakukan.
