Berita

Viral Dugaan Wedang Ronde Pakai Sisa Kuah Pembeli di Alun-Alun Batu, Pedagang Membantah dan Pemkot Langsung Sidak

Isu mengenai dugaan praktik tidak higienis di salah satu lapak wedang ronde kawasan Alun-Alun Kota Batu mendadak menjadi perbincangan luas di media sosial. Berawal dari sebuah unggahan di Threads, cerita tersebut dengan cepat menyebar hingga memicu reaksi masyarakat, pemerintah daerah, dan paguyuban pedagang kaki lima.

Unggahan yang viral itu menuding adanya praktik penggunaan kembali sisa kuah dan isian ronde dari mangkuk pelanggan untuk disajikan kepada pembeli berikutnya. Tuduhan tersebut langsung memunculkan kekhawatiran publik terkait kebersihan makanan yang dijual di kawasan wisata kuliner tersebut.

Di sisi lain, pedagang yang disebut dalam unggahan itu membantah seluruh tuduhan. Pemerintah Kota Batu pun bergerak cepat melakukan inspeksi mendadak (sidak) guna memperoleh penjelasan langsung dari pihak terkait.

Unggahan Threads Jadi Awal Mula Ramainya Perbincangan

Peristiwa ini bermula dari unggahan akun Threads @eggieeew pada Rabu (22/7/2026). Dalam tulisannya, pemilik akun mengaku sempat berkunjung bersama rombongan ke Alun-Alun Kota Batu pada Sabtu (18/7/2026) malam.

Saat itu mereka membeli wedang ronde di salah satu gerobak yang berada di sentra pedagang kaki lima. Awalnya, tidak ada hal mencurigakan selain kuah jahe yang menurutnya terasa lebih encer dibanding biasanya.

Namun setelah selesai makan, ia mengaku melihat sesuatu yang membuatnya terkejut. Menurut pengakuannya, penjual diduga mengumpulkan sisa kuah dari mangkuk pelanggan lain lalu menuangkannya ke sebuah wadah sebelum kembali digunakan untuk melayani pembeli berikutnya.

Ia juga menuliskan bahwa beberapa isian ronde, seperti kacang dan pacar cina, disebut-sebut diambil kembali sebelum disajikan ulang.

Unggahan tersebut diakhiri dengan imbauan agar wisatawan maupun warga lokal lebih berhati-hati ketika membeli kuliner malam di kawasan Alun-Alun Kota Batu.

Dalam waktu singkat, tulisan itu menyebar luas dan memperoleh ratusan ribu tayangan sehingga menjadi topik hangat di berbagai platform media sosial.

Banyak Warganet Mengaku Pernah Melihat Hal Serupa

Setelah unggahan tersebut viral, kolom komentar dipenuhi berbagai tanggapan dari pengguna media sosial.

Sebagian warganet mengaku pernah melihat kejadian yang menurut mereka mirip dengan cerita yang dibagikan pengunggah.

Salah satu akun bahkan menyebut sempat mengurungkan niat membeli wedang ronde di lokasi tersebut karena merasa melihat aktivitas yang dianggap tidak lazim dari kejauhan.

Ramainya pembahasan juga membuat isu tersebut meluas hingga mendapat perhatian sejumlah tokoh publik di Kota Batu. Mantan Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko, turut memberikan respons sebagaimana diberitakan media lokal.

Hal itu menunjukkan bahwa perbincangan tidak lagi terbatas di media sosial, melainkan mulai menjadi perhatian masyarakat secara lebih luas.

Pemerintah Kota Batu Langsung Melakukan Sidak

Menanggapi ramainya isu tersebut, Pemerintah Kota Batu bergerak cepat melakukan inspeksi ke lokasi.

Pada Rabu (22/7/2026), Sekretaris Daerah Kota Batu Alfi Nurhidayat bersama Pelaksana Tugas Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskumdag) Dian Fachroni mendatangi sentra PKL Alun-Alun Kota Batu.

Kedatangan mereka bertujuan mengecek kondisi lapangan sekaligus meminta klarifikasi langsung kepada pedagang yang disebut dalam unggahan viral tersebut.

Hasil pemeriksaan sementara disampaikan Kepala Bidang Diskumdag Kota Batu, Andry Yunanto.

Menurut Andry, pedagang secara tegas membantah seluruh tuduhan yang beredar di media sosial.

Ia mengatakan bahwa berdasarkan klarifikasi yang dilakukan, penjual menyatakan tidak pernah menggunakan kembali sisa kuah pelanggan untuk dijual kepada pembeli lain.

Pedagang Sebut Tidak Menggunakan Panci

Dalam penjelasannya, pedagang juga memberikan keterangan mengenai cara penyajian wedang ronde yang selama ini dilakukan.

Menurut mereka, wadah yang digunakan sehari-hari bukan berupa panci seperti yang disebut dalam unggahan viral, melainkan ceret atau teko.

Pedagang menjelaskan bahwa apabila terdapat sisa kuah dari pelanggan, cairan tersebut langsung dibuang dan tidak dimasukkan kembali ke wadah penyajian.

Andry menilai perbedaan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa pihaknya meragukan kebenaran narasi yang beredar.

Ia juga membandingkan kasus ini dengan kejadian lain yang pernah terjadi di kawasan sama, yakni dugaan pelanggaran oleh pedagang nasi goreng.

Pada kasus sebelumnya, terdapat rekaman video yang menjadi bahan pemeriksaan. Sementara dalam isu wedang ronde, informasi yang beredar hanya berupa tulisan tanpa disertai foto maupun video sebagai bukti pendukung.

Baca Juga; Skandal Korupsi Kebun Binatang Surabaya

Paguyuban Pedagang Ikut Memberikan Klarifikasi

Sehari setelah sidak dilakukan, Ketua Paguyuban Pasar Laron, Sahid, turut menyampaikan penjelasan kepada publik.

Ia mengaku telah mendatangi lapak yang menjadi sorotan untuk meminta keterangan secara langsung.

Saat itu pemilik usaha yang dikenal dengan panggilan Pak Jarwo sedang tidak berada di lokasi sehingga klarifikasi dilakukan kepada karyawannya.

Menurut Sahid, hasil penjelasan yang diterima sama dengan keterangan yang telah disampaikan kepada Pemerintah Kota Batu.

Pedagang disebut membantah pernah mengembalikan sisa kuah pelanggan ke dalam wadah penyajian.

Ia juga menegaskan bahwa lapak tersebut menggunakan ceret sebagai tempat kuah sehingga menurutnya tuduhan mengenai pengembalian kuah ke dalam panci tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.

Muncul Dugaan Persaingan Usaha

Selain memberikan klarifikasi, Sahid juga mengungkapkan adanya dugaan bahwa isu tersebut bisa saja dipengaruhi faktor persaingan usaha.

Menurutnya, lapak yang menjadi sasaran tuduhan memang dikenal cukup ramai dikunjungi pembeli dibanding beberapa pedagang lainnya.

Karena itu, ia menduga muncul kemungkinan adanya persaingan antarpedagang di balik penyebaran cerita tersebut.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa dugaan tersebut hanyalah asumsi pribadi dan hingga kini belum ada bukti yang menunjukkan adanya pihak tertentu yang sengaja menyebarkan informasi tersebut.

Dampak Viral Terasa bagi Seluruh Pedagang

Terlepas dari benar atau tidaknya tuduhan tersebut, dampak ekonomi mulai dirasakan oleh para pedagang di kawasan Pasar Laron.

Sahid mengungkapkan jumlah pengunjung mengalami penurunan setelah isu tersebut ramai diperbincangkan.

Menurutnya, kondisi pasar sebenarnya sudah mengalami penurunan pembeli dalam beberapa waktu terakhir. Namun setelah unggahan viral beredar, jumlah wisatawan yang datang semakin berkurang.

Akibatnya, bukan hanya satu lapak yang terdampak, melainkan hampir seluruh pedagang di sentra kuliner tersebut ikut merasakan penurunan pendapatan.

Pemkot Perketat Pengawasan PKL

Pemerintah Kota Batu memanfaatkan momentum ini untuk meningkatkan pengawasan terhadap seluruh pedagang kaki lima di kawasan Alun-Alun.

Melalui Satgas Gabungan, Diskumdag akan membentuk empat tim inspeksi yang bertugas memantau sembilan paguyuban PKL secara berkala.

Dalam pemeriksaan tersebut, terdapat lima aspek utama yang menjadi perhatian, yakni standar kebersihan dan higienitas, kepemilikan sertifikat halal, keamanan pangan sesuai ketentuan BPOM, kepastian harga bagi konsumen, serta kualitas pelayanan kepada wisatawan.

Pemerintah berharap langkah tersebut mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap sentra kuliner Alun-Alun Kota Batu sekaligus memastikan seluruh pedagang menjalankan usaha sesuai standar kesehatan dan keamanan pangan.

Hingga saat ini, belum ada temuan resmi yang dapat membuktikan ataupun membantah secara pasti tuduhan yang pertama kali muncul melalui media sosial. Karena itu, masyarakat diimbau tetap bijak dalam menyikapi informasi yang beredar serta tidak terburu-buru menyimpulkan suatu peristiwa sebelum terdapat hasil pemeriksaan yang jelas dari pihak berwenang.

Related posts

Pd Sebut Mbg Kesempatan Ekonomi Baru: Bayangkan Sehari Butuh 82,9 Juta Telur

Dolirena

Kalender Bali Hari Ini Ahad 6 Juli 2025, Tidak Baik Untuk Melaspas

Dolirena

Cerita 2 Pasien Kanker Otak Ketika Alami Tanda-Tanda Awal, Bukan Hanya Sakit Kepala

Dolirena