
Kebakaran hebat melanda kawasan permukiman di Jalan Teuku Nyak Arif, RT 05/01, Kebayoran Lama Utara, Jakarta Selatan, pada Selasa malam. Kobaran api yang muncul saat warga masih beraktivitas dengan cepat membesar dan merambat ke sejumlah bangunan di sekitarnya.
Sedikitnya 18 rumah tinggal dan empat tempat usaha terdampak dalam peristiwa tersebut. Kebakaran juga membuat sekitar 50 kepala keluarga atau 150 jiwa harus meninggalkan tempat tinggal mereka untuk sementara waktu.
Meski api menghanguskan area cukup luas dan menyebabkan kerugian materiil yang diperkirakan mencapai Rp1,2 miliar, tidak ada korban jiwa maupun warga yang dilaporkan mengalami luka-luka.
Setelah kebakaran berhasil dipadamkan, warga terdampak kemudian ditempatkan sementara di tenda pengungsian yang didirikan tidak jauh dari lokasi kejadian. Pemerintah setempat bersama instansi terkait masih melakukan pendataan dan menyiapkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan para korban.
Api Muncul dari Kawasan Kontrakan
Kebakaran pertama kali diketahui warga sekitar pukul 20.31 WIB. Saat itu, api terlihat dari sebuah bangunan kontrakan yang berada di sekitar lampu merah.
Menurut saksi bernama Atik, kobaran api kemudian menjalar dengan cepat ke bagian belakang rumah warga. Kondisi permukiman yang cukup padat membuat api lebih mudah berpindah dari satu bangunan ke bangunan lainnya.
Warga yang mengetahui kejadian tersebut sempat berusaha melakukan pemadaman secara mandiri. Sejumlah warga menggunakan Alat Pemadam Api Ringan atau APAR untuk menahan kobaran api sembari menunggu petugas pemadam kebakaran tiba.
Namun, usaha tersebut tidak banyak membantu karena api sudah terlanjur membesar. Dalam waktu singkat, kobaran api semakin terlihat dan mengancam bangunan lain yang berada di sekitarnya.
Ketua RT setempat, Nanang, juga berada di lokasi saat kebakaran terjadi. Ia yang juga menjadi salah satu pemilik rumah di kawasan tersebut ketika itu sedang berjualan.
Nanang mengaku baru mengetahui kejadian setelah mendapatkan laporan dari warga bahwa bagian atas sebuah bangunan kontrakan telah terbakar. Ia kemudian ikut mencoba memadamkan api menggunakan APAR.
Akan tetapi, kobaran api sudah terlalu besar sehingga warga tidak mampu mengendalikannya sendiri.
Sementara itu, keterangan lain disampaikan saksi bernama Jimmy. Ia menyebut api diduga pertama kali terlihat dari sebuah warteg sebelum merambat ke bengkel ban yang berada di sebelahnya.
Adanya perbedaan keterangan mengenai titik awal kebakaran membuat penyebab dan lokasi pertama munculnya api masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan lebih lanjut.
Baca : Menembus Perut KM Virgo, Penyelam Temukan Banyak Jasad di Kamar Penumpang
24 Mobil Pemadam Dikerahkan ke Lokasi

Laporan mengenai kebakaran diterima Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan atau Sudin Gulkarmat Jakarta Selatan melalui sambungan telepon darurat pada pukul 20.31 WIB.
Mengingat kebakaran terjadi di kawasan permukiman dan api telah membesar, petugas langsung mengerahkan armada dalam jumlah besar. Sebanyak 24 unit mobil pemadam kebakaran bersama 128 personel diterjunkan untuk melakukan penanganan.
Petugas tidak hanya berupaya memadamkan api di titik utama, tetapi juga mencegah kobaran menjalar lebih jauh ke bangunan lain. Kondisi lingkungan yang dipenuhi bangunan warga membuat proses pemadaman membutuhkan penanganan secara cepat dan terkoordinasi.
Sekitar pukul 21.20 WIB, petugas berhasil melakukan lokalisasi. Setelah penyebaran api dapat dihentikan, petugas melanjutkan penanganan dengan proses pendinginan.
Tahap pendinginan dilakukan untuk memastikan bara dan titik panas yang masih tersisa tidak kembali memicu kebakaran. Proses tersebut dimulai sekitar pukul 21.33 WIB.
Setelah petugas memastikan tidak ada lagi titik api yang membahayakan, proses pemadaman akhirnya dinyatakan selesai sekitar tengah malam.
Dengan demikian, petugas membutuhkan waktu sekitar tiga setengah jam sejak laporan pertama diterima hingga seluruh rangkaian penanganan kebakaran selesai.
18 Rumah dan Empat Tempat Usaha Terbakar
Kepala Sudin Gulkarmat Jakarta Selatan Asril Rizal menyampaikan bahwa kebakaran berdampak pada 18 rumah tinggal dan sejumlah bangunan usaha warga.
Beberapa tempat usaha yang ikut terdampak antara lain warung kelontong, warung pecel ayam dan lele, toko handphone, serta bengkel ban.
Luas area yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 1.205 meter persegi. Kerusakan tersebut membuat warga bukan hanya kehilangan tempat tinggal, tetapi sebagian juga kehilangan tempat untuk menjalankan usaha sehari-hari.
Berdasarkan pendataan resmi, sekitar 50 kepala keluarga atau 150 jiwa terdampak akibat kebakaran. Sementara kerugian materiil untuk sementara diperkirakan mencapai Rp1,2 miliar.
Pada awal kejadian, informasi mengenai jumlah bangunan dan warga terdampak sempat berbeda. Ada data awal yang menyebut sekitar 60 kepala keluarga atau 180 jiwa terdampak, dengan luas area terbakar sekitar 1.100 meter persegi.
Salah seorang warga bernama Roni juga sempat memperkirakan jumlah rumah yang terbakar mencapai sekitar 25 unit.
Namun, setelah pendataan dilakukan lebih lanjut, Sudin Gulkarmat Jakarta Selatan mencatat jumlah rumah yang terbakar sebanyak 18 unit dengan sekitar 150 jiwa terdampak.
Perbedaan data tersebut dapat terjadi karena proses pendataan dilakukan secara bertahap, terutama ketika petugas masih fokus menangani kobaran api dan memastikan kondisi di sekitar lokasi aman.
Dugaan Korsleting Listrik Masih Diperiksa
Berdasarkan asesmen sementara, kebakaran diduga dipicu korsleting listrik dari salah satu rumah warga.
Meski demikian, dugaan tersebut belum menjadi kesimpulan akhir. Penyebab pasti kebakaran masih menunggu hasil pemeriksaan dan penyelidikan lebih lanjut.
Polisi telah memasang garis pembatas di sekitar lokasi kebakaran. Area tersebut perlu dijaga agar proses pemeriksaan dapat dilakukan dengan lebih mudah, termasuk untuk mencari titik awal api dan memastikan sumber pemicunya.
Keterangan dari warga mengenai bangunan yang pertama kali terbakar juga masih perlu dicocokkan dengan hasil pemeriksaan di lapangan.
Penyelidikan menjadi penting karena kebakaran terjadi di lingkungan dengan bangunan yang berdempetan. Penentuan titik awal api dapat membantu menggambarkan bagaimana kobaran api pertama kali muncul dan kemudian menyebar hingga menghanguskan puluhan bangunan.
Sementara pemeriksaan berlangsung, warga diminta tetap berhati-hati ketika berada di sekitar lokasi karena masih terdapat material bangunan yang rusak akibat terbakar.
Warga Kehilangan Rumah dan Bertahan di Pengungsian
Setelah api berhasil dipadamkan, suasana di kawasan Kebayoran Lama berubah. Bangunan yang sebelumnya digunakan warga untuk tinggal dan mencari penghasilan kini menyisakan bagian-bagian yang hangus.
Sejumlah material bangunan terlihat rusak akibat terbakar. Bagi warga yang rumahnya terdampak, persoalan tidak berhenti setelah api padam. Mereka harus memikirkan kebutuhan tempat tinggal sementara sekaligus berbagai kebutuhan dasar lainnya.
Warga yang kehilangan tempat tinggal kini bertahan di tenda pengungsian yang didirikan tidak jauh dari lokasi kebakaran.
Roni, salah seorang warga terdampak, mengatakan rumahnya yang berada di bagian belakang juga ikut terbakar. Meski kehilangan tempat tinggal dan sejumlah barang, ia bersyukur tidak ada anggota keluarganya maupun warga lain yang menjadi korban jiwa.
Namun, Roni mengaku belum mengetahui sampai kapan dirinya bersama warga lain harus tinggal di tempat pengungsian.
Kondisi tersebut membuat kebutuhan dasar menjadi salah satu perhatian utama. Warga terdampak membutuhkan makanan, pakaian, perlengkapan tidur, serta berbagai kebutuhan sehari-hari setelah sebagian besar barang mereka tidak dapat diselamatkan.
Pemerintah setempat bersama instansi terkait masih melakukan pendataan terhadap warga terdampak dan kerugian yang ditimbulkan. Bantuan juga disiapkan untuk membantu memenuhi kebutuhan warga selama berada di pengungsian.
Kebakaran di Kebayoran Lama tersebut meninggalkan kerusakan yang cukup besar bagi warga. Sebanyak 18 rumah dan empat tempat usaha harus menghadapi dampak kebakaran, sementara puluhan keluarga kini harus menjalani kehidupan dari tempat pengungsian.
Di tengah proses pemulihan, penyelidikan mengenai penyebab kebakaran masih berlangsung. Warga berharap kebutuhan mereka dapat segera terpenuhi dan penanganan pascakebakaran berjalan dengan baik sehingga mereka bisa kembali menjalani kehidupan secara bertahap.
