Berita

Willie Salim Klarifikasi soal Deklarasi Sumpah Pemuda, Bantah Terlibat dan Terima Bayaran

JAKARTA – YouTuber Willie Salim akhirnya angkat bicara setelah namanya ikut terseret dalam kontroversi Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia 2026 di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat. Kegiatan yang digelar untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98 itu menuai sorotan setelah muncul dugaan adanya peserta yang menggunakan identitas mahasiswa tanpa memiliki keterkaitan dengan kampus yang dikenakannya.

Melalui unggahan Instagram pada Jumat (30/10/2026), Willie menjelaskan bahwa kehadirannya dalam acara tersebut sebatas memenuhi undangan. Ia membantah terlibat dalam persiapan maupun pengaturan peserta dan menegaskan tidak memperoleh bayaran atas kehadirannya.

Willie juga menyampaikan permintaan maaf karena tidak mencari tahu lebih jauh mengenai latar belakang kegiatan sebelum memutuskan hadir. Sementara itu, polemik mengenai dugaan mahasiswa bayaran masih menjadi perhatian publik dan memunculkan pertanyaan tentang transparansi penyelenggaraan acara.

Identitas Peserta Deklarasi Jadi Sorotan Warganet

Kontroversi bermula dari kegiatan Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia 2026 yang berlangsung pada Kamis (29/10/2026) di kawasan Bundaran HI, Thamrin, Jakarta Pusat.

Acara tersebut dihadiri sejumlah elemen masyarakat, termasuk mahasiswa, influencer, personel TNI-Polri, dan organisasi kemasyarakatan. Utusan Khusus Presiden, Raffi Ahmad, juga terlihat hadir dalam kegiatan tersebut.

Namun, perhatian masyarakat berubah setelah beredar video yang memperlihatkan sejumlah peserta mengenakan jas almamater perguruan tinggi tertentu. Salah satu rekaman menunjukkan seorang pria yang mengenakan atribut Universitas Dian Nusantara (Undira) tetapi kesulitan menjelaskan identitas kampusnya ketika ditanya.

Pria yang kemudian dikenal sebagai Bayu itu disebut mengakui bahwa dirinya bukan mahasiswa Undira. Ia juga mengaku mengikuti kegiatan karena mendapatkan undangan dari komunitas tertentu dan menerima uang untuk hadir.

Pengakuan tersebut memicu perdebatan mengenai dugaan pengerahan peserta berbayar yang menggunakan atribut perguruan tinggi. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Undira pun memberikan penegasan bahwa pria dalam video tersebut bukan mahasiswa kampus mereka.

Sorotan serupa muncul pada seorang perempuan bernama Sari yang membacakan naskah deklarasi di atas panggung dengan mengenakan jas almamater berlogo lama Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI).

Menurut pemberitaan Media Duta, Sari mengaku diminta oleh oknum polisi untuk meminjam jas almamater dan membacakan teks deklarasi. Namun, pengakuan tersebut masih memerlukan verifikasi lebih lanjut dan belum disertai tanggapan resmi kepolisian dalam pemberitaan yang dirujuk.

Willie Salim Sebut Kehadirannya Murni sebagai Tamu Undangan

Nama Willie Salim ikut menjadi pembicaraan karena kehadirannya dalam acara tersebut. Sejumlah warganet mempertanyakan keterlibatan sang YouTuber, terutama setelah muncul dugaan bahwa kegiatan deklarasi melibatkan peserta yang mendapatkan bayaran.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Willie memberikan penjelasan melalui akun Instagram pribadinya. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak mempunyai tanggung jawab dalam penyelenggaraan kegiatan.

Willie menyatakan hanya datang sebagai tamu undangan. Ia tidak ikut menentukan siapa yang hadir, mengatur jalannya acara, ataupun mengoordinasikan peserta yang terlibat dalam deklarasi.

Ia juga secara tegas membantah menerima uang maupun keuntungan finansial dari kegiatan tersebut.

Menurut penjelasannya, kehadirannya didasari keinginan untuk mendukung kegiatan yang berkaitan dengan persatuan dan kebangsaan. Namun, setelah polemik mencuat, ia menyadari bahwa keputusan menghadiri acara publik seharusnya didahului dengan pemahaman yang lebih mendalam mengenai penyelenggara dan tujuan kegiatan.

Willie turut menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat yang merasa kecewa. Ia mengakui kurang teliti dalam mempertimbangkan latar belakang acara sebelum memenuhi undangan.

Klarifikasi tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa dirinya tidak ingin dianggap sebagai bagian dari pihak yang mengatur dugaan pengerahan peserta. Meski begitu, penjelasan Willie belum mengungkap secara rinci siapa pihak yang mengundangnya dan bagaimana proses penyelenggaraan deklarasi dilakukan.

UBSI Bantah Mengirim Mahasiswa dalam Kegiatan

Persoalan penggunaan atribut kampus turut mendapat respons dari pihak perguruan tinggi. Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) menjadi salah satu institusi yang memberikan klarifikasi setelah jas almamater berlogo lama kampus tersebut terlihat dalam acara.

Wakil Rektor II Bidang Nonakademik UBSI, Adi Supriyatna, menyampaikan bahwa pihak universitas tidak menerima undangan resmi dan tidak mengirimkan delegasi mahasiswa untuk menghadiri deklarasi di Bundaran HI.

Ia juga menyebut perempuan yang membacakan naskah deklarasi tidak tercatat sebagai mahasiswa aktif UBSI berdasarkan informasi dari pihak kampus.

Selain itu, UBSI menjelaskan bahwa logo yang terlihat pada jas almamater tersebut sudah tidak digunakan sejak institusi itu berstatus universitas pada 2018.

Kritik juga disampaikan dosen UBSI, Ziko Harnadi. Ia menilai dugaan penggunaan atribut perguruan tinggi oleh pihak yang tidak memiliki hubungan dengan institusi tersebut dapat merugikan reputasi kampus dan mahasiswa.

Sementara itu, Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) menegaskan bahwa keikutsertaan mahasiswa dalam kegiatan tersebut tidak serta-merta menunjukkan keterlibatan atau dukungan resmi universitas.

Hal ini menjadi pengingat bahwa partisipasi mahasiswa secara pribadi harus dibedakan dari representasi institusi. Penggunaan atribut perguruan tinggi juga perlu memperhatikan aturan dan tanggung jawab agar tidak menimbulkan persepsi yang keliru di tengah masyarakat.

Baca Juga; Tabrakan 2 Kereta Cepat di Spanyol

Muncul Kritik soal Kebebasan Menyampaikan Pendapat

Di luar dugaan penggunaan mahasiswa bayaran, kegiatan tersebut juga memunculkan kritik mengenai perlakuan terhadap aksi-aksi mahasiswa di ruang publik.

Milchias Jacob, mahasiswa Universitas Bung Karno (UBK) sekaligus pengurus PAC PDI Perjuangan Ciracas, menyoroti perbedaan situasi antara aksi mahasiswa pada Rabu (28/10/2026) dan deklarasi yang berlangsung sehari setelahnya.

Ia mempertanyakan perbedaan perlakuan terhadap kegiatan yang sama-sama berlangsung di kawasan publik. Menurut kritik yang disampaikannya, aksi mahasiswa yang membawa aspirasi dan kritik disebut mengalami hambatan, sedangkan deklarasi Sumpah Pemuda justru dapat berlangsung dengan melibatkan berbagai pihak.

Pernyataan tersebut memunculkan diskusi mengenai kebebasan berekspresi dan kesetaraan perlakuan terhadap kelompok masyarakat yang ingin menyampaikan pendapat.

Meski demikian, kritik tersebut merupakan pandangan pihak yang menyampaikannya dan masih memerlukan penelusuran lebih lanjut untuk memastikan keseluruhan situasi yang terjadi.

Hingga Sabtu (31/10/2026), klarifikasi Willie telah memberikan gambaran mengenai posisi pribadinya dalam kegiatan tersebut. Namun, dugaan pembayaran kepada peserta, penggunaan identitas perguruan tinggi, serta pihak yang bertanggung jawab mengoordinasikan acara masih menyisakan sejumlah pertanyaan.

Polemik ini pada akhirnya menjadi pengingat bahwa peringatan Sumpah Pemuda tidak cukup hanya diwujudkan melalui deklarasi dan seremoni. Kejujuran, keterbukaan, serta penghormatan terhadap identitas dan kebebasan berpendapat juga menjadi bagian penting dari semangat persatuan yang ingin dijaga.

Related posts

Aron Ashab Kembali ke Tempat Rehabilitasi, Keluarga dan Sang Kreator Punya Versi Berbeda

dewapbn

Cuma Satu Murid Baru, SD Negeri di Boyolali Hadapi Realitas Menyusutnya Jumlah Siswa

dewapbn

Vilmei Kehilangan Rp1,2 Miliar, Uang Hasil Konten Selama 7 Tahun Diduga Digelapkan Karyawan

dewapbn