Kondisi Febiona Purba, siswi berusia 16 tahun asal Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, membawa kabar positif setelah menjalani pemeriksaan di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta.
Siswi SMK tersebut sebelumnya menjadi perhatian setelah dilaporkan mengalami perubahan kemampuan mengingat dan berkomunikasi usai sakit dalam rangkaian kejadian yang dikaitkan dengan dugaan keracunan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Karo.
Namun, hasil evaluasi tim dokter RSCM menunjukkan tidak ditemukan gangguan pada fungsi otak Febiona. Pemeriksaan juga menunjukkan kemampuan memorinya masih baik, baik untuk ingatan jangka pendek maupun jangka panjang.
Kepastian mengenai kondisi tersebut disampaikan neurolog anak RSCM, Prof. Setyo Handryastuti. Pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh untuk mengetahui kondisi neurologis Febiona sekaligus memastikan apakah keluhan yang sebelumnya muncul berkaitan dengan gangguan pada sistem saraf.
Dokter Pastikan Tidak Ada Gangguan Fungsi Otak

Prof. Setyo Handryastuti menjelaskan bahwa penilaian terhadap kondisi Febiona dilakukan melalui beberapa tahapan. Tim medis tidak hanya mengandalkan satu jenis pemeriksaan, melainkan terlebih dahulu menggali informasi mengenai kondisi pasien dan riwayat kesehatannya.
Dokter juga mendapatkan keterangan dari keluarga, mempelajari riwayat perawatan yang telah dijalani Febiona, kemudian melakukan pemeriksaan fisik serta pemeriksaan neurologis.
Salah satu pemeriksaan yang dilakukan adalah elektroensefalografi atau EEG. Pemeriksaan tersebut digunakan untuk merekam aktivitas listrik otak sehingga dokter dapat melihat apakah terdapat kelainan tertentu pada aktivitas otak pasien.
Berdasarkan keseluruhan pemeriksaan tersebut, tim RSCM tidak menemukan adanya gangguan fungsi otak pada Febiona.
Kemampuan mengingatnya pun dinilai baik. Febiona mampu mengingat informasi untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Ia bahkan dapat menceritakan kembali berbagai peristiwa yang dialaminya secara runtut.
Temuan tersebut menjadi perkembangan penting bagi keluarga yang sebelumnya sempat khawatir dengan perubahan kondisi Febiona setelah sakit.
Dengan hasil pemeriksaan tersebut, dokter juga menyampaikan optimisme bahwa Febiona dapat kembali menjalani aktivitas sehari-hari.
Kondisi Psikologis Turut Diperiksa
Selain mengevaluasi fungsi otak dan sistem saraf, tim medis RSCM juga memberikan perhatian terhadap kondisi psikologis Febiona.
Psikiater RSCM Tjhin Wiguna turut melakukan pemeriksaan terhadap kondisi emosional siswi tersebut. Dari evaluasi yang dilakukan, kondisi emosi Febiona secara umum dinilai relatif stabil.
Meski demikian, masih terdapat rasa gelisah yang muncul sesekali. Kondisi tersebut menjadi salah satu hal yang tetap diperhatikan dalam proses pemulihannya.
Perhatian terhadap kondisi psikologis ini tidak terlepas dari pengalaman yang telah dilalui Febiona. Ia sebelumnya mengalami sakit setelah kejadian yang membuat banyak siswa di Berastagi mengalami keluhan kesehatan.
Setelah menjalani perawatan, Febiona juga sempat mengalami kondisi yang kembali memburuk. Situasi tersebut membuat keluarga harus menjalani serangkaian pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui penyebab keluhan yang dialaminya.
Dengan hasil pemeriksaan neurologis yang menunjukkan kondisi otaknya normal, penanganan selanjutnya dapat diarahkan pada pemulihan secara menyeluruh, termasuk membantu Febiona kembali merasa nyaman dan percaya diri dalam menjalani aktivitas.
Keluhan Muncul Setelah Peristiwa di Berastagi

Perjalanan medis Febiona bermula dari kejadian pada 13 Agustus 2026. Saat itu, ratusan siswa dari sejumlah sekolah di Berastagi, Kabupaten Karo, dilaporkan mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi makanan yang berasal dari program MBG.
Berbagai gejala dilaporkan muncul pada para siswa. Keluhannya antara lain rasa gatal pada bagian mulut dan kulit, sesak napas, hingga muntah.
Dalam perkembangan berikutnya, Febiona menjadi salah satu siswa yang mendapat perhatian lebih karena mengalami kondisi kesehatan yang cukup berat.
Setelah mendapatkan perawatan dan diperbolehkan pulang, kondisi Febiona dilaporkan kembali menurun. Ia sempat mengalami kejang dan akhirnya harus kembali mendapatkan penanganan medis.
Keluarga kemudian menyampaikan adanya perubahan yang terjadi pada Febiona. Pada periode tersebut, ia disebut mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dan sempat tidak mengenali sejumlah orang yang berada di sekitarnya.
Perubahan tersebut menimbulkan kekhawatiran di keluarga, terutama karena muncul setelah Febiona mengalami sakit.
Ia selanjutnya menjalani pemeriksaan oleh sejumlah dokter spesialis di RSUP H. Adam Malik Medan. Pemeriksaan melibatkan bidang gastroenterologi anak, neurologi anak, dan psikiatri.
Karena kondisi tersebut kemudian menjadi perhatian publik, muncul pula kekhawatiran mengenai kemungkinan adanya gangguan fungsi otak yang berkaitan dengan kejadian sakit setelah konsumsi makanan MBG.
Baca Juga; Aisar Khaled Dilaporkan ke Polda Metro Jaya
Febiona Diterbangkan ke Jakarta Bersama Siswi Lain
Untuk memperoleh pemeriksaan yang lebih lengkap, Febiona akhirnya dibawa ke Jakarta. Langkah tersebut dilakukan setelah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka meminta agar anak-anak yang mengalami kondisi medis maupun trauma lebih berat mendapatkan pemeriksaan lanjutan.
Febiona bersama seorang siswi lainnya, Agnes Parulina, diterbangkan ke Jakarta pada 12 September 2026.
Keduanya kemudian menjalani pemeriksaan dan mendapatkan perawatan di RSCM. Kondisi mereka tidak mengharuskan perawatan di ruang intensif atau ICU.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin turut mengoordinasikan pemeriksaan dengan melibatkan tim ahli. Pemeriksaan di Jakarta diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih menyeluruh mengenai kondisi kesehatan kedua siswi tersebut.
Khusus Febiona, hasil pemeriksaan neurologis kemudian memberikan kesimpulan yang cukup melegakan. Tidak ditemukan gangguan fungsi otak berdasarkan evaluasi yang dilakukan tim dokter RSCM.
Temuan ini sekaligus memberikan gambaran medis yang lebih jelas mengenai keluhan ingatan yang sebelumnya menjadi perhatian keluarga dan masyarakat.
Sebelumnya, Kementerian Kesehatan juga mengingatkan agar kondisi Febiona tidak langsung dikaitkan dengan program MBG sebelum seluruh pemeriksaan medis dilakukan. Karena itu, hasil evaluasi di RSCM menjadi bagian penting dalam melihat kondisi Febiona berdasarkan pemeriksaan dokter.
Evaluasi Keamanan Makanan MBG Tetap Menjadi Perhatian
Meski kondisi fungsi otak Febiona dinyatakan normal, kejadian yang berlangsung di Karo tetap menjadi perhatian dalam evaluasi pelaksanaan program MBG.
Program tersebut menyediakan makanan bagi anak-anak sekolah dalam jumlah besar. Karena itu, aspek keamanan pangan menjadi bagian penting yang harus diperhatikan, mulai dari bahan baku hingga makanan diterima dan dikonsumsi siswa.
Dalam investigasi awal terhadap kejadian di Karo, Badan Gizi Nasional atau BGN sebelumnya menyoroti persoalan penyimpanan bahan makanan.
Salah satu temuan yang disebutkan berkaitan dengan bahan ikan yang tidak disimpan di dalam freezer. Bahan tersebut dilaporkan berada pada suhu ruang selama lebih dari 12 jam sebelum kemudian diolah.
Temuan semacam itu menjadi perhatian karena proses penyimpanan bahan makanan merupakan salah satu bagian penting dalam menjaga keamanan pangan.
Selain penyimpanan, pengawasan juga diperlukan pada proses pengolahan dan distribusi makanan. Makanan yang diproduksi dalam jumlah besar harus memenuhi standar kebersihan agar tetap aman ketika sampai di sekolah.
Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia atau JPPI juga sebelumnya menghimpun data mengenai jumlah korban yang dikaitkan dengan kejadian keracunan MBG sejak 2025 hingga Agustus 2026. Data tersebut kemudian menjadi salah satu dasar munculnya dorongan agar standar keamanan dan kebersihan dalam pelaksanaan program semakin diperkuat.
BGN juga telah mengambil langkah dengan melakukan penutupan sementara terhadap sejumlah dapur MBG yang dinilai belum memenuhi standar higiene.
Kondisi Febiona Jadi Kabar Positif bagi Keluarga
Hasil pemeriksaan di RSCM memberikan kelegaan bagi keluarga Febiona. Kekhawatiran mengenai kemungkinan adanya gangguan fungsi otak kini telah mendapatkan penjelasan melalui pemeriksaan langsung oleh tim dokter.
Kemampuan mengingat yang dinilai baik serta tidak ditemukannya gangguan fungsi otak menjadi perkembangan positif dalam perjalanan pemulihan Febiona.
Perhatian selanjutnya diarahkan agar Febiona dapat memulihkan kondisi secara menyeluruh, termasuk dari sisi emosional. Dengan kondisi yang semakin membaik, ia diharapkan dapat kembali menjalani aktivitas sehari-hari dan melanjutkan pendidikan.
Di sisi lain, kejadian di Karo tetap menjadi pengingat bahwa pelaksanaan program makanan untuk siswa membutuhkan pengawasan ketat. Jumlah makanan yang berhasil didistribusikan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Keamanan bahan, proses penyimpanan, kebersihan dapur, pengolahan, hingga distribusi juga perlu menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program.
Bagi keluarga Febiona, hasil pemeriksaan RSCM menjadi titik terang setelah melewati serangkaian pemeriksaan dan kekhawatiran mengenai kondisi kesehatan anak mereka.
Kini, dengan fungsi otak yang dinyatakan normal, proses pemulihan Febiona dapat berlanjut sambil tetap mendapatkan perhatian terhadap kondisi fisik maupun psikologisnya.
