BeritaInternasional

Kebakaran Gunung Gede Kembali Muncul, Jalur Pendakian Ditutup hingga Kondisi Aman

Kebakaran hutan dan lahan masih menjadi ancaman di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Jawa Barat. Setelah api di kawasan Alun-alun Suryakencana berhasil dikendalikan, petugas kembali menemukan titik kebakaran baru di sekitar Kawah Wadon.

Situasi tersebut membuat upaya penanganan harus dilakukan secara berkelanjutan. Petugas dan relawan tidak hanya memadamkan kobaran yang terlihat, tetapi juga menyisir kawasan untuk memastikan tidak ada bara yang berpotensi kembali menjadi api.

Hingga Minggu malam, 9 Agustus 2026, sekitar 150 personel gabungan masih berada di lapangan. Mereka menghadapi kondisi medan yang sulit, vegetasi kering, serta angin yang cukup kencang.

Karena risiko kebakaran masih tinggi, aktivitas pendakian di seluruh kawasan TNGGP ditutup sementara. Kebijakan tersebut berlaku hingga kondisi kawasan dinyatakan aman oleh pihak berwenang.

Api Pertama Terlihat di Suryakencana

Kebakaran pertama diketahui pada Kamis, 6 Agustus 2026, sekitar pukul 15.15 WIB.

Petugas Resor PTN Wilayah Gunung Putri memperoleh informasi dari Dedi, salah seorang pengelola basecamp. Laporan tersebut menyebut adanya api di bagian barat Alun-alun Suryakencana.

Lokasi tersebut merupakan kawasan sabana yang cukup populer di kalangan pendaki. Titik api berada di sekitar arah Gunung Gumuruh dan membakar hamparan rumput yang kondisinya sudah kering.

Tidak lama setelah informasi diterima, petugas Kementerian Kehutanan bersama Masyarakat Mitra Polhut (MMP) dan relawan langsung menuju lokasi.

Api kemudian berhasil dikendalikan sekitar tiga jam setelah pertama kali dilaporkan. Area yang terbakar pada saat itu diperkirakan sekitar satu hektare.

Sebagian besar vegetasi yang terdampak berupa rumput kering. Meski demikian, terdapat pula beberapa tanaman berkayu di sekitar lokasi.

Salah satu tanaman yang berhasil terhindar dari kobaran api adalah edelweis. Tanaman tersebut berada sekitar lima meter dari titik kebakaran dan tidak ikut terbakar.

Kebakaran Baru Ditemukan di Kawah Wadon

Saat penanganan di Suryakencana selesai, petugas justru menghadapi persoalan baru.

Pada Jumat, 7 Agustus 2026, sekitar pukul 03.00 WIB, titik api terpantau di kawasan Kawah Wadon. Lokasinya berbeda cukup jauh dari area kebakaran sebelumnya.

Titik api tersebut terdeteksi melalui kamera pengawas Pos Pengamatan Gunung Api Ciloto.

Kondisinya menjadi perhatian karena Kawah Wadon berada di zona inti TNGGP yang tidak dibuka untuk aktivitas wisata maupun pendakian. Dari area tersebut, api kemudian bergerak mendekati Tanjakan Rantai yang berada di jalur pendakian.

Situasi ini membuat pendaki yang berada di jalur Cibodas diarahkan untuk segera turun.

Ratusan Petugas Diterjunkan ke Lapangan

Penanganan kebakaran kemudian melibatkan lebih banyak personel.

Sekitar 80 anggota MMP dan relawan dikerahkan pada Jumat melalui jalur Gunung Putri dan Cibodas.

Jumlah tersebut bertambah pada Sabtu. Sekitar 142 personel gabungan dari berbagai unsur terlibat dalam penanganan. Mereka terdiri atas petugas TNGGP, TNI, Polri, BPBD, Satpol PP, serta petugas pemadam kebakaran.

Pada Minggu, jumlah personel yang berada di lapangan meningkat menjadi sekitar 150 orang.

BPBD Cianjur juga mengirimkan 25 petugas dan sukarelawan untuk mendukung proses pemadaman.

Tugas mereka tidak hanya memadamkan api yang terlihat. Tim juga melakukan penyisiran untuk menemukan titik panas dan bara yang mungkin masih tersembunyi di antara vegetasi.

Kondisi Medan Membuat Pemadaman Tidak Mudah

Penanganan kebakaran di kawasan Gunung Gede memiliki tantangan tersendiri.

Medan pegunungan yang curam dan sulit dijangkau membuat kendaraan pemadam kebakaran tidak dapat digunakan secara maksimal. Akibatnya, sebagian besar proses pemadaman harus dilakukan menggunakan peralatan manual.

Juru Bicara Balai Besar TNGGP Ade Bagja mengatakan petugas harus berhadapan dengan kondisi medan yang berat serta vegetasi yang mudah terbakar.

Angin kencang juga memperbesar risiko penyebaran api. Bara yang terbawa angin dapat jatuh ke area lain yang dipenuhi rumput kering dan memunculkan titik api baru.

Karena itu, padamnya kobaran utama belum bisa menjadi tanda bahwa kawasan sudah aman.

Relawan lingkungan Andri Gunawan dari komunitas Volunteer Raindeward1819 mengatakan beberapa lokasi yang sebelumnya ditangani masih mengeluarkan asap ketika terkena hembusan angin.

Temuan tersebut membuat petugas harus tetap melakukan pemantauan dan penyisiran.

Data Luasan Kebakaran Gn Gede Belum Seragam

Besaran area yang terbakar juga masih dalam proses pendataan.

Balai Besar TNGGP memperkirakan kebakaran di kawasan Kawah Wadon telah berdampak pada area lebih dari enam hektare.

Namun, BPBD Cianjur masih mencatat luasan sementara sekitar satu hektare. Sementara itu, BPBD Jawa Barat memberikan estimasi yang lebih besar.

Kepala Pelaksana BPBD Jawa Barat Teten Ali Mulku Engkun memperkirakan total area terdampak dapat berada di kisaran 15 hingga 20 hektare apabila seluruh lokasi yang mengalami kebakaran diperhitungkan.

Perbedaan angka tersebut masih mungkin berubah karena tim di lapangan masih melakukan verifikasi.

Kepala Balai Besar TNGGP Sadtata Noor Adirahmanta juga menyampaikan bahwa hasil pemantauan udara pada 8 Agustus menunjukkan adanya perubahan kondisi dibandingkan hari sebelumnya. Namun, angka resmi masih menunggu pendataan lebih lanjut.

Penyebab Kebakaran Masih Didalami

Dugaan penyebab kebakaran di kedua lokasi juga tidak sama.

Untuk kejadian di Alun-alun Suryakencana, dugaan sementara mengarah pada peralatan memasak milik pendaki. Kompor yang mengalami kebocoran diduga kemudian meledak dan memicu kebakaran.

Meski begitu, dugaan tersebut masih harus ditelusuri lebih lanjut.

Sementara itu, kebakaran di Kawah Wadon lebih diduga berkaitan dengan kondisi alam.

Suhu tinggi di sekitar kawasan kawah diduga membuat rumput mengering hingga akhirnya mudah terbakar. Api kemudian berpotensi merambat ke vegetasi lain.

Tidak ditemukan aktivitas manusia di sekitar lokasi sebelum kebakaran. Hal tersebut menjadi salah satu pertimbangan karena Kawah Wadon merupakan area yang memang tertutup bagi pendaki.

Semua Jalur Pendakian Ditutup Sementara

Untuk melindungi pendaki sekaligus mempermudah proses pemadaman, seluruh jalur pendakian Gunung Gede Pangrango ditutup sementara mulai 7 hingga 11 Agustus 2026.

Penutupan diberlakukan di seluruh pintu masuk dan tidak tersedia jalur alternatif resmi.

Pendaki yang sudah melakukan pemesanan untuk periode penutupan dapat mengajukan refund melalui mekanisme yang ditetapkan Balai Besar TNGGP.

Informasi mengenai pengembalian dana dikirimkan melalui WhatsApp resmi BBTNGGP kepada nomor ketua kelompok yang digunakan ketika melakukan pendaftaran.

Pendaki juga diminta waspada terhadap pesan atau tautan refund yang berasal dari sumber tidak resmi.

Baca Juga; Lagi Live Tiktok Sambil Bercanda, Influencer Meksiko Ditembak

Musim Kemarau Meningkatkan Risiko Kebakaran

Kebakaran Gunung Gede terjadi ketika sebagian besar wilayah Indonesia tengah mengalami musim kemarau.

Data BMKG menunjukkan bahwa hingga awal Agustus 2026, sekitar 73,8 persen wilayah Indonesia atau 516 zona musim telah memasuki periode kemarau.

Sebagian besar wilayah tersebut juga mengalami kondisi yang lebih kering dibandingkan kondisi rata-rata.

Kondisi demikian membuat vegetasi lebih mudah terbakar. Api yang awalnya berukuran kecil dapat menyebar dengan cepat apabila bertemu rumput kering dan mendapat dorongan angin.

Karena itu, masyarakat dan pendaki perlu meningkatkan kewaspadaan.

Hal sederhana seperti memastikan bara api benar-benar mati, menggunakan peralatan memasak dengan aman, serta tidak membuang benda yang berpotensi menjadi sumber api secara sembarangan dapat membantu mencegah kejadian serupa.

Untuk sementara, calon pendaki disarankan menunda perjalanan hingga ada pengumuman resmi mengenai pembukaan kembali jalur.

Dengan kondisi kebakaran yang masih dipantau dan proses penyisiran yang terus berlangsung, keselamatan harus menjadi prioritas. Gunung Gede baru sebaiknya kembali dikunjungi setelah pihak pengelola memastikan seluruh kawasan telah aman dari ancaman api.

Related posts

Bolehkah Potong Kuku Dan Rambut Sebelum Kurban Idul Adha? Ini Penjelasannya

Dolirena

Sinopsis Self/Less: Kehidupan Baru Penuh Misteri dan Konsekuensi

Dolirena

Dugaan Korupsi KUR di Jember Terbongkar, Ratusan Petani Jadi Korban Pencatutan Identitas untuk Pinjaman Fiktif

dewapbn