Berita

10 Hari Pencarian Arupadhatu 1 Resmi Dihentikan, Jejak Lima Jurnalis dan Tiga Kru Masih Dicari

Operasi pencarian speed boat Arupadhatu 1 yang membawa delapan orang di perairan Selat Sunda resmi dihentikan setelah berlangsung selama 10 hari. Kapal tersebut membawa lima jurnalis foto dan tiga kru ketika dilaporkan hilang kontak setelah berangkat dari kawasan Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten.

Selama operasi berlangsung, tim SAR gabungan mengerahkan ratusan personel, puluhan kapal, drone thermal, hingga memperluas wilayah penyisiran ke sejumlah perairan di Banten dan Lampung.

Meski pencarian aktif dalam skala besar telah dihentikan, Basarnas memastikan pemantauan terhadap perairan Selat Sunda tetap berjalan. Jika nantinya muncul informasi atau temuan baru yang diduga berkaitan dengan Arupadhatu 1, operasi SAR masih dapat kembali dibuka.

Arupadhatu 1 Berangkat untuk Meliput Aktivitas Anak Krakatau

Peristiwa hilangnya Arupadhatu 1 bermula pada Senin, 7 September 2026. Rombongan berangkat dari Dermaga Pagedongan, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, menggunakan speed boat tersebut.

Tujuan perjalanan adalah melakukan peliputan sekaligus mengabadikan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau dari kawasan perairan Selat Sunda. Namun, setelah keberangkatan, kapal kemudian kehilangan kontak.

Laporan mengenai kapal yang tidak diketahui keberadaannya langsung ditindaklanjuti oleh tim SAR. Operasi pencarian resmi dimulai pada Selasa, 8 September 2026.

Total terdapat delapan orang di dalam Arupadhatu 1. Lima di antaranya merupakan jurnalis foto, yaitu M. Bagus Khoirunnas dari LKBN ANTARA, Arie Basuki dari Merdeka.com, Yudistiro Pranoto dari iNews.id, Firdaus Wajidi dari Anadolu Agency, serta Donal Husni yang merupakan jurnalis foto lepas.

Sementara itu, tiga orang lainnya merupakan kru kapal. Mereka adalah Warta selaku nakhoda, Sukarman sebagai anak buah kapal, dan Heriyanto yang bertugas sebagai pemandu.

Dalam pemberitaan, terdapat variasi penulisan nama kapal, seperti KM Arupadatu I dan Arupadhatu 1. Penyebutan tersebut merujuk pada kapal yang sama.

Pencarian Meluas dari Banten hingga Lampung

Penyisiran tidak hanya dilakukan di sekitar lokasi awal keberadaan rombongan. Seiring berjalannya operasi, tim SAR memperluas area pencarian berdasarkan berbagai kemungkinan arah pergerakan kapal.

Wilayah yang disisir mencakup barat Teluk Belimbing, bagian barat laut Pulau Panaitan, perairan Ujung Kulon, kawasan sekitar Gunung Anak Krakatau, hingga pesisir Anyer dan Carita.

Pencarian kemudian bergerak ke sejumlah wilayah lain, termasuk perairan Pulau Sebesi, Pulau Sebuku, Pulau Legundi, serta kawasan perairan Lampung. Tim juga melakukan penyisiran hingga wilayah Teluk Semangka.

Sejumlah kapal TNI Angkatan Laut ikut dikerahkan dalam operasi tersebut. Di antaranya KRI Dewa Kembar, KRI Leuser, KRI Lepu, KRI Kerambit, dan KRI Teluk Gilimanuk.

Untuk membantu pengamatan permukaan laut, tim juga menggunakan drone thermal. Pada hari terakhir pencarian, wilayah operasi mencapai sekitar 8.509 nautical mile persegi yang terbagi menjadi 10 sektor.

Sebanyak 24 kapal dari unsur TNI AL, Polairud, Basarnas, dan KPLP dilibatkan dengan total 523 personel gabungan.

Selain penyisiran langsung, informasi juga disebarkan melalui e-broadcast kepada kapal-kapal yang melintas di sekitar wilayah pencarian. Helikopter HR 3604 turut disiagakan di Bogor untuk mendukung pemantauan dengan mempertimbangkan kondisi cuaca dan jarak pandang.

Selama operasi berlangsung, tim menemukan 13 objek di laut. Beberapa di antaranya berupa terpal, galon air, dan pelampung. Seluruh benda diperiksa untuk mengetahui kemungkinan keterkaitannya dengan Arupadhatu 1.

Setelah dilakukan verifikasi, tidak ada satu pun dari 13 objek tersebut yang dinyatakan berkaitan dengan kapal yang dicari.

Harapan sempat kembali muncul setelah beredar video di media sosial yang memperlihatkan benda menyerupai speed boat dalam kondisi terbalik di sekitar Gunung Anak Krakatau. Namun, area tersebut sebelumnya telah diperiksa tim SAR pada 11-13 September dan belum dapat dipastikan sebagai Arupadhatu 1.

Sinyal Ponsel Menjadi Salah Satu Petunjuk

Salah satu informasi yang turut diperhatikan selama pencarian adalah jejak sinyal telepon seluler.

Polda Banten menyampaikan bahwa nomor telepon milik Firdaus Wajidi sempat terdeteksi oleh jaringan BTS di wilayah Rajabasa, Lampung Selatan, pada Senin, 7 September 2026. Lokasi tersebut berada di sekitar kawasan Pulau Sebesi.

Sinyal tersebut kemudian menjadi salah satu petunjuk yang diperhitungkan dalam pencarian. Namun, perangkat yang terdeteksi tersebut tidak kembali aktif setelah sinyal ditemukan.

Selain itu, polisi berkoordinasi dengan Polda Bengkulu mengenai penemuan jenazah laki-laki di Pulau Enggano. Jenazah tersebut telah diekshumasi dan menjalani pemeriksaan di RS Bhayangkara Polda Bengkulu.

Data antemortem, termasuk sampel DNA dari keluarga, telah diserahkan untuk membantu proses identifikasi. Meski demikian, sampai operasi SAR dihentikan, belum ada kesimpulan yang memastikan jenazah tersebut berkaitan dengan salah satu penumpang Arupadhatu 1.

Proses identifikasi masih membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut dan dapat berlangsung hingga sekitar dua minggu.

Baca Juga; RSCM Nyatakan Fungsi Otak Febiana Normal

Operasi Resmi Berakhir, Pemantauan Tetap Dilakukan

Keputusan menghentikan operasi SAR diambil setelah rapat evaluasi pada Kamis, 17 September 2026 sekitar pukul 17.00 WIB.

Pengumuman tersebut disampaikan Gubernur Banten Andra Soni dalam konferensi pers di Posko Utama SAR Gabungan, Dermaga Marina Carita. Ia didampingi Kepala Kantor Basarnas Banten Al Amrad dan Danlanal Banten Letkol Laut (P) Wawan Subagyo Mardani.

Menurut Andra, operasi pencarian sebelumnya telah diperpanjang selama tiga hari. Setelah dilakukan evaluasi, pengerahan kekuatan besar dinilai tidak lagi efektif sehingga operasi gabungan akhirnya dihentikan.

Namun, Kepala Kantor Basarnas Banten Al Amrad menegaskan bahwa penghentian operasi aktif bukan berarti pemantauan terhadap Arupadhatu 1 berakhir.

Basarnas masih melakukan pemantauan melalui sistem yang tersedia, termasuk SRUP dan VTS, serta berkoordinasi dengan Lanal. Kapal-kapal yang melintas di Selat Sunda juga dapat memberikan informasi apabila menemukan benda atau kondisi yang diduga berkaitan dengan pencarian.

Pemantauan tersebut tidak memiliki batas waktu tertentu. Jika muncul petunjuk baru, Basarnas masih dapat membuka kembali operasi SAR untuk menindaklanjuti informasi tersebut.

Dengan demikian, status pencarian berubah dari operasi aktif berskala besar menjadi pemantauan. Namun, peluang untuk kembali melakukan pencarian tetap terbuka apabila ditemukan bukti atau informasi baru.

Keluarga dan Rekan Jurnalis Tetap Menaruh Harapan

Penghentian operasi menjadi momen emosional bagi keluarga delapan orang yang belum diketahui keberadaannya.

Di Posko SAR Gabungan Marina Carita, keluarga terlihat saling menguatkan setelah keputusan tersebut diumumkan. Desi Purnama Sari, istri M. Bagus Khoirunnas, Yanti yang merupakan istri Arie Basuki, serta Rodiah Nasution, istri Yudistiro Pranoto, turut mengikuti perkembangan pencarian.

Aning, istri Donal Husni, bahkan sempat ikut berada di kapal yang digunakan untuk mendukung pencarian pada 12 September.

Sehari sebelum operasi dihentikan, keluarga juga menggelar istighosah semalaman di kawasan Marina Carita. Kegiatan tersebut turut dihadiri perwakilan Basarnas, Polairud, dan Lanal Banten.

Setelah pengumuman penghentian operasi, rekan-rekan seprofesi dari berbagai media juga berkumpul untuk menggelar doa bersama. Para jurnalis dari media daring, televisi, serta komunitas fotografer menaruh mawar putih sebagai simbol harapan bagi lima jurnalis foto dan tiga kru kapal.

Doa dan dukungan juga datang dari komunitas pewarta di sejumlah daerah, termasuk Yogyakarta dan Sumatera Selatan.

Setelah 10 hari penyisiran, armada SAR memang telah kembali dari operasi besar-besaran. Namun, pencarian informasi mengenai Arupadhatu 1 belum sepenuhnya berakhir.

Perairan Selat Sunda masih dipantau, kapal-kapal yang melintas tetap dapat memberikan informasi, dan setiap petunjuk baru akan ditindaklanjuti. Karena itu, meski operasi SAR resmi dihentikan, harapan untuk menemukan jejak Arupadhatu 1 beserta delapan orang di dalamnya masih tetap terbuka.

Related posts

40+ Ucapan Tahun Baru 2025 Modern Bahasa Inggris + Terjemahan

Dolirena

49 Hotspot Muncul di Gorontalo, Ancaman Karhutla Meningkat Saat Musim Kemarau

dewapbn

Kelakar Pramono Dikala Lepas 26 Ribu Pemudik Dari Dki: Apabila Bisa, Aku Ikut

Dolirena