BeritaUncategorized

Ledakan Tambang Batu Bara di Pakistan Tewaskan 34 Pekerja, Proses Evakuasi Berlangsung Hampir Dua Hari

Sebuah ledakan besar di tambang batu bara kawasan Sorange, Provinsi Balochistan, Pakistan, berujung pada tragedi yang menewaskan puluhan pekerja. Insiden yang terjadi pada Kamis (30/7/2026) itu menyebabkan lorong-lorong tambang runtuh sehingga para penambang terjebak jauh di bawah permukaan tanah. Setelah operasi penyelamatan berlangsung sekitar 45 jam, otoritas setempat memastikan sebanyak 34 orang meninggal dunia.

Peristiwa tersebut kembali menjadi sorotan karena menambah daftar panjang kecelakaan kerja di sektor pertambangan Pakistan, khususnya di wilayah Balochistan yang selama ini dikenal memiliki cadangan batu bara cukup besar namun juga memiliki tingkat risiko keselamatan yang tinggi.

Ledakan Diduga Dipicu Akumulasi Gas Metana

Berdasarkan penyelidikan awal, ledakan diduga berasal dari gas metana yang terakumulasi di dalam lorong tambang. Gas tersebut diperkirakan tersulut sehingga memicu ledakan hebat yang merusak struktur bawah tanah.

Akibat ledakan tersebut, sejumlah terowongan ambruk dan menutup jalur keluar para pekerja yang saat itu sedang menjalankan aktivitas penambangan. Kerusakan juga terjadi pada sistem ventilasi yang memiliki fungsi penting untuk menjaga sirkulasi udara di dalam tambang.

Hingga kini, penyebab pasti munculnya ledakan masih diselidiki oleh pihak berwenang. Pemerintah setempat menyatakan investigasi menyeluruh akan dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat kelalaian dalam penerapan standar keselamatan kerja.

Lokasi Tambang Berada Dekat Quetta

Tambang yang mengalami ledakan berada di kawasan Sorange, sekitar 30 hingga 50 kilometer dari Kota Quetta, ibu kota Provinsi Balochistan.

Daerah tersebut merupakan salah satu kawasan pertambangan batu bara yang telah lama beroperasi dan menjadi sumber mata pencaharian bagi banyak warga. Meski memiliki potensi ekonomi besar, aktivitas pertambangan di wilayah ini kerap diwarnai kecelakaan yang dipicu berbagai faktor, mulai dari ledakan gas hingga runtuhnya terowongan.

Tragedi terbaru ini menjadi salah satu kecelakaan tambang paling mematikan di Pakistan dalam beberapa tahun terakhir.

Proses Evakuasi Berlangsung Selama 45 Jam

Sesaat setelah ledakan terjadi, tim penyelamat segera diterjunkan ke lokasi. Operasi pencarian melibatkan petugas dari badan penanggulangan bencana, aparat pemerintah daerah, tenaga medis, hingga pekerja tambang yang turut membantu proses evakuasi.

Namun upaya penyelamatan tidak berjalan mudah. Reruntuhan batu dan rusaknya struktur tambang membuat akses menuju lokasi para korban tertutup.

Tim penyelamat harus bekerja secara hati-hati untuk membuka jalur menuju area terdalam tanpa memicu longsoran susulan yang dapat membahayakan petugas.

Setelah bekerja tanpa henti selama hampir dua hari, seluruh korban akhirnya berhasil dievakuasi. Dua jenazah terakhir ditemukan pada Sabtu di bagian tambang yang paling sulit dijangkau.

Data Korban Sempat Berbeda

Pada awal penanganan, jumlah pekerja yang diperkirakan berada di dalam tambang sempat berbeda menurut masing-masing instansi.

Provincial Disaster Management Authority (PDMA) Balochistan awalnya menyebut terdapat 41 pekerja di area tambang saat ledakan terjadi.

Sementara itu, Menteri Pertambangan dan Mineral Balochistan Shoaib Nosherwani menyampaikan bahwa sekitar 36 pekerja berada di lokasi yang terdampak.

Belakangan, Kepala Inspektur Tambang Muhammad Atif menjelaskan bahwa total korban berada di dua tambang yang letaknya saling berdekatan dengan jumlah keseluruhan 34 pekerja.

Perbedaan data tersebut disebut terjadi karena proses pendataan masih berlangsung ketika operasi penyelamatan dilakukan.

Kedalaman Tambang Menjadi Tantangan Besar

Kesulitan utama dalam proses pencarian berasal dari lokasi korban yang berada pada kedalaman sekitar 760 hingga 1.200 meter di bawah permukaan tanah.

Selain harus membersihkan reruntuhan, petugas juga menghadapi ancaman gas beracun yang masih memenuhi sebagian lorong tambang akibat rusaknya sistem ventilasi.

Sebelum memasuki area tertentu, tim penyelamat terlebih dahulu menggunakan alat penyedot udara untuk mengurangi konsentrasi gas berbahaya agar kondisi lebih aman bagi petugas.

Kondisi tersebut menyebabkan proses evakuasi berlangsung jauh lebih lama dibandingkan kecelakaan tambang pada umumnya.

Upaya Penyelamatan Berujung Duka

Di tengah proses penyelamatan, seorang pekerja tambang bernama Ahmed Zada menceritakan bahwa beberapa rekan korban sempat mencoba masuk ke dalam terowongan untuk memberikan pertolongan segera setelah ledakan terjadi.

Namun kondisi tambang yang sudah tidak stabil membuat upaya tersebut justru berisiko tinggi. Sebagian pekerja yang berusaha menolong akhirnya turut menjadi korban akibat paparan gas dan runtuhan di dalam tambang.

Sementara itu, keluarga para penambang terus menunggu di sekitar lokasi dengan harapan ada korban yang dapat ditemukan dalam keadaan hidup.

Sayangnya, seluruh pekerja yang berhasil dievakuasi dinyatakan meninggal dunia.

Jenazah kemudian dibawa ke Civil Hospital Quetta untuk proses identifikasi sebelum dipulangkan ke daerah asal masing-masing guna dimakamkan oleh keluarga.

Pemerintah Janjikan Investigasi

Tragedi tersebut mendapat perhatian langsung dari pemerintah Pakistan.

Presiden Asif Ali Zardari dan Perdana Menteri Shehbaz Sharif menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban sekaligus meminta seluruh instansi terkait memberikan penanganan terbaik.

Pemerintah Provinsi Balochistan juga memerintahkan investigasi menyeluruh terhadap penyebab kecelakaan.

Menteri Besar Balochistan Mir Sarfraz Bugti meminta Departemen Pertambangan dan Mineral menyusun laporan lengkap mengenai insiden tersebut. Ia menegaskan bahwa pihak yang terbukti lalai akan diproses sesuai ketentuan hukum.

Selain melakukan penyelidikan, pemerintah turut menyiapkan bantuan keuangan bagi keluarga korban. Keluarga penambang yang meninggal dijanjikan menerima santunan sebesar 500.000 rupee Pakistan, sedangkan korban luka akan memperoleh bantuan sebesar 300.000 rupee.

Baca Juga; Pilot Malaysia Ditangkap Diduga Selundupkan Narkoba

Keselamatan Kerja Kembali Dipertanyakan

Organisasi pekerja menilai tragedi ini kembali menunjukkan masih lemahnya penerapan standar keselamatan di sejumlah tambang batu bara Pakistan.

Selama bertahun-tahun, berbagai kecelakaan serupa terus terjadi dengan penyebab yang hampir sama, yakni akumulasi gas metana, buruknya ventilasi, dan minimnya alat pendeteksi gas berbahaya.

Pada Maret 2026, dua pekerja tambang dilaporkan meninggal akibat menghirup gas metana di kawasan Chamalang. Sebelumnya, ledakan tambang di Sanjdi pada Januari 2025 menewaskan 11 orang, sementara kecelakaan lain di Harnai pada 2024 merenggut 12 korban jiwa.

Rentetan insiden tersebut membuat berbagai kalangan mendesak adanya pembenahan menyeluruh terhadap sistem keselamatan pertambangan di Pakistan.

Meski Balochistan dikenal sebagai wilayah yang kaya akan batu bara, emas, dan tembaga, para pekerja masih menghadapi risiko tinggi setiap kali memasuki terowongan bawah tanah. Tragedi di Sorange kembali menjadi pengingat bahwa peningkatan standar keselamatan kerja merupakan kebutuhan mendesak agar kecelakaan serupa tidak terus berulang dan merenggut lebih banyak nyawa di masa mendatang.

Related posts

Skandal Korupsi Kebun Binatang Surabaya: Dana Pakan Satwa Diduga Diselewengkan, Kerugian Negara Capai Rp10,2 Miliar

dewapbn

Pukat Ugm Dorong Kejagung Keluarkan Red Notice Untuk Eks Stafsus Nadiem

Dolirena

Warung Lontong Sayur Bu Maryati Ramai Disorot Usai Ditagih Rp840 Ribu, Pemkab Pati Tegaskan Itu Retribusi Bukan Pajak

dewapbn