
Musim kemarau yang melanda Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, mulai menimbulkan dampak serius terhadap ketersediaan air bersih. Sejumlah wilayah kini mengalami kesulitan memperoleh pasokan air akibat menurunnya debit mata air dan mengeringnya sumur warga. Kondisi tersebut membuat pemerintah daerah harus mengintensifkan distribusi bantuan air bersih untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Purbalingga mencatat sedikitnya 10 desa di enam kecamatan telah terdampak kekeringan. Warga di sejumlah desa bahkan harus mengantre untuk mendapatkan bantuan air bersih yang didistribusikan secara berkala. Pemerintah memperkirakan jumlah wilayah terdampak masih berpotensi bertambah seiring puncak musim kemarau yang diprediksi berlangsung hingga Agustus 2026.
Enam Kecamatan Mulai Mengalami Krisis Air Bersih
Kepala Pelaksana BPBD Purbalingga, Revon Haprindiat, menyampaikan bahwa desa-desa terdampak tersebar di Kecamatan Karangreja, Karanganyar, Pengadegan, Kejobong, Kemangkon, dan Rembang. Data tersebut disampaikan pada Senin (20/7/2026) berdasarkan hasil pemantauan kondisi lapangan.
Menurut BPBD, penurunan debit sejumlah mata air menjadi penyebab utama berkurangnya pasokan air bersih di berbagai wilayah. Dampaknya semakin terasa karena sebagian besar masyarakat di daerah tersebut masih mengandalkan sumber mata air maupun sumur sebagai kebutuhan utama sehari-hari.
Tidak hanya mata air yang mengalami penyusutan, sumur milik warga dengan kedalaman sekitar 20 hingga 25 meter juga mulai mengering. Akibatnya, masyarakat kesulitan memperoleh air untuk kebutuhan dasar seperti memasak, mandi, mencuci, hingga keperluan sanitasi.
Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah karena kebutuhan air bersih terus meningkat, sementara sumber air alami semakin terbatas akibat minimnya curah hujan selama musim kemarau.
Baca ; Suami Bakar Rumah Mertua di Lubuklinggau, Kebakaran Merembet hingga Hanguskan 11 Bangunan
Dampak Longsor Awal Tahun Masih Membayangi

Permasalahan kekeringan di Purbalingga tahun ini tidak semata-mata dipengaruhi oleh faktor cuaca. Sejumlah wilayah masih menghadapi dampak lanjutan dari bencana banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi pada Januari 2026.
Kerusakan jaringan distribusi air di beberapa lokasi hingga kini belum sepenuhnya pulih. Salah satu wilayah yang paling merasakan dampaknya adalah Desa Serang dan Desa Kutabawa yang berada di lereng Gunung Slamet dengan ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut.
Saat bencana terjadi, longsor menutup akses menuju sumber mata air yang selama ini dimanfaatkan masyarakat. Hingga kini, jalur tersebut belum dapat difungsikan secara normal sehingga pasokan air bersih masih mengandalkan bantuan dari BPBD.
Distribusi air bersih ke kedua desa tersebut dilakukan secara rutin sejak awal tahun. Sebelum bantuan datang, sebagian warga harus berjalan sejauh satu hingga dua kilometer untuk mendapatkan air bersih dari sumber lain yang masih tersedia.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa dampak bencana alam dapat berlangsung dalam jangka panjang, terutama ketika infrastruktur vital seperti jaringan air belum sepenuhnya dipulihkan.
BPBD Salurkan 151 Ribu Liter Air untuk Ribuan Warga
Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, BPBD Purbalingga bekerja sama dengan Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Tirta Perwira Purbalingga dalam mendistribusikan bantuan air bersih.
Hingga pertengahan Juli 2026, total air bersih yang telah disalurkan mencapai sekitar 151 ribu liter atau setara dengan 31 tangki air.
Distribusi bantuan dilakukan ke berbagai lokasi sesuai tingkat kebutuhan. Desa Serang dan Desa Kutabawa menerima sekitar 40 ribu liter air, sementara Desa Gumiwang memperoleh sekitar 26 ribu liter. Selain permukiman warga, bantuan juga disalurkan ke SMP Negeri 3 Karangreja sebanyak 5 ribu liter dan Pondok Pesantren Darurrahman di Kecamatan Karanganyar sekitar 10 ribu liter.
Berdasarkan pendataan BPBD, jumlah masyarakat yang terdampak kekeringan mencapai sekitar 2.942 jiwa atau 791 kepala keluarga.
Desa Pandansari di Kecamatan Kejobong menjadi wilayah dengan jumlah warga terdampak terbanyak. Sebanyak 1.754 jiwa atau sekitar 600 kepala keluarga di desa tersebut kini bergantung pada bantuan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
BPBD memastikan ketersediaan pasokan air dari Perumdam hingga saat ini masih mencukupi untuk mendukung kegiatan distribusi. Namun, kebutuhan diperkirakan akan terus meningkat apabila musim kemarau berlangsung lebih lama.
Warga Diimbau Menghemat Air dan Waspada Ancaman Karhutla
Menghadapi kondisi kemarau yang diperkirakan mencapai puncaknya pada Juli hingga Agustus 2026, BPBD mengimbau masyarakat agar menggunakan air secara bijaksana. Penghematan air dinilai menjadi langkah penting untuk menjaga ketersediaan sumber air hingga musim hujan tiba.
Masyarakat juga diminta menjaga sumber-sumber air yang masih tersedia agar tidak mengalami kerusakan maupun pencemaran sehingga tetap dapat dimanfaatkan bersama.
Selain ancaman kekeringan, musim kemarau juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Karena itu, BPBD mengingatkan masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Warga juga diimbau tidak membuang puntung rokok sembarangan, terutama di kawasan hutan maupun lahan kering yang mudah terbakar. Bagi masyarakat yang melakukan aktivitas di jalur pendakian Gunung Slamet, api yang digunakan untuk memasak atau keperluan lainnya harus dipastikan benar-benar padam sebelum meninggalkan lokasi.
Menurut BPBD, kawasan pegunungan menjadi salah satu daerah yang paling sulit dijangkau ketika terjadi kebakaran karena akses yang terbatas dan minimnya sumber air. Oleh sebab itu, langkah pencegahan dinilai jauh lebih efektif dibandingkan upaya pemadaman ketika api sudah terlanjur membesar.
Dengan potensi kekeringan yang masih dapat meluas dalam beberapa pekan ke depan, pemerintah daerah terus memantau perkembangan kondisi di lapangan sekaligus menyiapkan distribusi bantuan air bersih bagi desa-desa yang membutuhkan. Kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat diharapkan mampu mengurangi dampak musim kemarau serta menjaga keselamatan lingkungan dari ancaman kebakaran selama periode cuaca kering berlangsung.
