Berita

Karhutla di Sekitar IKN, Lebih dari 200 Hektare Lahan Bukit Tengkorak Terbakar

PENAJAM PASER UTARA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda kawasan sekitar Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur. Kali ini, api membakar kawasan Bukit Tengkorak dan merambat hingga wilayah Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Soeharto.

Luas area yang terdampak kebakaran dilaporkan mencapai lebih dari 200 hektare. Api membakar vegetasi yang berada di kawasan tersebut serta sejumlah lahan perkebunan milik masyarakat.

Peristiwa itu terjadi di RT 001, Desa Sukomulyo, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Lokasinya berada di sekitar kawasan IKN dan berdekatan dengan wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara.

Kondisi lahan yang kering membuat api lebih mudah menjalar. Selain membakar semak dan vegetasi liar, kobaran api juga mengenai tanaman perkebunan warga, termasuk sawit dan pinang.

Penanganan kebakaran pun tidak berlangsung mudah. Medan yang sulit membuat kendaraan pemadam tidak dapat menjangkau seluruh titik api. Petugas harus berjalan kaki untuk mencapai sejumlah lokasi yang berada di balik semak belukar.

Puluhan Personel Dikerahkan

Upaya pemadaman mulai dilakukan pada Sabtu, 29 Agustus 2026. Personel dari berbagai instansi dikerahkan untuk mengendalikan kebakaran sekaligus mencegah api meluas ke kawasan lainnya.

Tim gabungan melibatkan Polresta Kawasan IKN, Pemadam Kebakaran Otorita IKN, Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Kalimantan Timur, Kedeputian Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Otorita IKN, serta Polsek Sepaku.

Kabag Ops Polresta Kawasan IKN AKP Ridwan Harahap memimpin sekitar 25 personel kepolisian yang diterjunkan ke lokasi.

Petugas bersama unsur lainnya melakukan penyisiran untuk menemukan titik api. Pemadaman dilakukan secara bertahap sesuai kondisi medan yang dihadapi.

Kesulitan akses menjadi salah satu persoalan terbesar dalam penanganan. Beberapa titik kebakaran berada cukup jauh dari jalan yang bisa dilalui kendaraan sehingga petugas harus membawa perlengkapan secara manual.

Vegetasi yang telah mengering juga mempercepat penjalaran api. Semak, rumput, ranting, dan material organik lainnya menjadi bahan bakar yang memungkinkan api bergerak dari satu bagian lahan ke bagian lain.

Sekat Bakar Dibuat Secara Manual

Untuk menghentikan pergerakan api, tim gabungan terlebih dahulu membuat sekat bakar. Langkah tersebut dilakukan secara manual dengan membersihkan jalur tertentu dari vegetasi yang mudah terbakar.

Sekat berfungsi sebagai penghalang agar api tidak terus bergerak menuju area yang belum terbakar.

Setelah pembatas dibuat, petugas kemudian menggunakan unit pompa untuk melakukan pemadaman. Pekerjaan tidak berhenti pada siang hari karena sebagian penanganan harus dilanjutkan hingga malam.

Petugas juga melakukan pendinginan terhadap area yang telah dipadamkan. Tahapan tersebut diperlukan untuk memastikan bara yang masih tersisa tidak kembali menjadi sumber api.

Koordinasi antarpersonel dilakukan secara berkelanjutan untuk memantau perkembangan kondisi di lapangan. Titik-titik yang telah berhasil dikendalikan tetap diperiksa guna mengantisipasi munculnya kembali kobaran api.

Tahura Bukit Soeharto Kembali Terdampak

Kebakaran di Bukit Tengkorak menambah catatan karhutla yang terjadi di kawasan Tahura Bukit Soeharto selama 2026.

Sebelumnya, kebakaran juga dilaporkan terjadi pada Kamis, 6 Agustus 2026. Saat itu, sekitar dua hektare kawasan berhutan di sekitar kilometer 73 Jalan Poros Samarinda-Balikpapan terbakar.

Petugas menerima laporan kejadian sekitar pukul 15.10 Wita. Tim kemudian bergerak melakukan pemadaman hingga api berhasil dikendalikan.

Setelah kobaran berhasil dipadamkan, proses dilanjutkan dengan pendinginan. Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah bara api kembali menyala dan memicu kebakaran susulan.

Kondisi vegetasi menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko. Rumput, ranting, serta semak yang kehilangan kelembapan selama musim kemarau dapat terbakar dengan mudah ketika terkena api.

Kawasan Hutan Menghadapi Banyak Tekanan

Ancaman terhadap kawasan Bukit Soeharto dan sekitarnya tidak hanya berasal dari kebakaran.

Pada tahun sebelumnya, Satgas Penanggulangan Aktivitas Ilegal Otorita IKN menemukan sejumlah persoalan di kawasan tersebut. Di antaranya adalah dugaan aktivitas pertambangan batu bara ilegal, perambahan kawasan hutan untuk perkebunan, serta keberadaan bangunan liar.

Berbagai persoalan itu menunjukkan bahwa kawasan hutan di sekitar IKN menghadapi tekanan dari berbagai arah.

Kebakaran dapat mengurangi tutupan vegetasi dan mengganggu fungsi ekologis hutan. Sementara itu, aktivitas ilegal berpotensi menyebabkan perubahan penggunaan lahan dan memperbesar tekanan terhadap kawasan konservasi.

Karena itu, perlindungan kawasan tidak cukup hanya dilakukan ketika kebakaran sudah terjadi. Pemantauan terhadap berbagai aktivitas manusia juga diperlukan untuk menjaga fungsi hutan dalam jangka panjang.

Musim Kemarau Tingkatkan Ancaman Kebakaran

Kebakaran di Bukit Tengkorak terjadi ketika Kalimantan Timur memasuki periode yang relatif kering. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya menyebut Agustus sebagai salah satu periode puncak musim kemarau di Samarinda dan sejumlah wilayah Kalimantan Timur.

Curah hujan yang rendah menyebabkan kelembapan tanah dan vegetasi menurun. Dalam kondisi tersebut, material kering yang menumpuk di permukaan tanah lebih mudah terbakar.

Ancaman semakin besar apabila kondisi kering berlangsung bersamaan dengan angin yang membantu membawa api ke area lain.

Data mengenai titik panas di Kalimantan Timur juga menunjukkan adanya potensi karhutla yang perlu diwaspadai.

Hingga pekan ketiga Agustus 2026, sekitar 8.000 titik panas disebut telah terpantau di wilayah Kalimantan Timur.

Sementara itu, data BPBD Kalimantan Timur untuk periode 1 hingga 26 Agustus 2026 mencatat 14.795 titik panas. Dari jumlah tersebut, sebanyak 820 titik masuk kategori tingkat kepercayaan tinggi.

Kabupaten Berau mencatat jumlah titik panas tertinggi dengan sekitar 6.004 titik. Berikutnya Kutai Timur dengan 3.003 titik, Kutai Kartanegara sebanyak 2.426 titik, dan Paser sekitar 1.934 titik.

Baca Juga; Marc Marquez Kuasai MotoGP Aragon

Deteksi Dini Sangat Penting

Banyaknya titik panas menjadi peringatan bahwa potensi kebakaran tersebar di berbagai wilayah. Penanganan sejak api masih berukuran kecil menjadi sangat penting, terutama di kawasan yang sulit dijangkau.

Kebakaran yang terlambat ditangani dapat berkembang menjadi lebih luas karena tersedianya bahan bakar alami berupa vegetasi kering.

Karena itu, sistem pemantauan dan deteksi dini perlu terus diperkuat. Informasi mengenai titik panas harus segera ditindaklanjuti dengan pengecekan di lapangan untuk memastikan apakah terdapat kebakaran nyata.

Kesiapan personel juga perlu disertai ketersediaan peralatan, seperti pompa, sumber air, kendaraan, serta perlengkapan pemadaman manual.

Kondisi medan di Bukit Tengkorak memperlihatkan bahwa akses menjadi faktor penting. Ketika kendaraan tidak dapat mencapai lokasi, petugas harus berjalan kaki dan membutuhkan waktu lebih lama untuk membawa peralatan menuju titik api.

Masyarakat Diminta Waspada

Selama musim kemarau, masyarakat di sekitar kawasan hutan diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap kegiatan yang berpotensi memicu kebakaran.

Pembukaan lahan dengan cara membakar serta membuang benda yang dapat menjadi sumber api sembarangan perlu dihindari. Percikan kecil dapat berubah menjadi kebakaran besar ketika kondisi lingkungan sangat kering.

Hingga laporan ini disusun, petugas masih melakukan pemantauan di sekitar lokasi untuk mengantisipasi munculnya titik api baru. Penyebab kebakaran Bukit Tengkorak juga masih dalam proses penelusuran.

Kebakaran yang melanda lebih dari 200 hektare tersebut menjadi pengingat bahwa kawasan hutan di sekitar IKN menghadapi ancaman serius selama musim kemarau.

Respons cepat, pemantauan titik panas, kesiapan petugas, serta keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting untuk mencegah kebakaran berkembang lebih luas dan mengurangi kerusakan terhadap kawasan hutan serta lahan masyarakat.

Related posts

Doa Rosario Hari Ini Selasa, 1 Juli: Insiden Kristus Wafat Di Kayu Salib

Dolirena

Vilmei Kehilangan Rp1,2 Miliar, Uang Hasil Konten Selama 7 Tahun Diduga Digelapkan Karyawan

dewapbn

Kerap Diabaikan, Ini Gejala Kena Kolesterol Tinggi Di Usia Muda

Dolirena