Konflik Diduga Berakar dari Sengketa Tanah Ulayat, Aparat Gabungan Masih Berjaga di Lokasi untuk Mencegah Bentrokan Susulan
Peristiwa bentrokan antarwarga kembali terjadi di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan berujung pada jatuhnya korban jiwa serta kerusakan permukiman. Insiden yang melibatkan masyarakat Desa Waiburak dan Desa Narasaosina pada Sabtu (18/7/2026) menyebabkan sedikitnya tiga orang meninggal dunia, beberapa warga mengalami luka-luka, serta puluhan rumah terbakar.
Kerusuhan tersebut memicu kepanikan di kalangan masyarakat. Sejumlah warga memilih meninggalkan rumah untuk mencari tempat yang lebih aman, sementara aparat keamanan dari unsur TNI dan Polri langsung diterjunkan guna menghentikan aksi kekerasan sekaligus menjaga agar situasi tidak meluas ke wilayah lain.
Hingga kini, penyelidikan mengenai penyebab pasti bentrokan masih terus dilakukan. Namun, informasi awal yang dihimpun aparat mengarah pada sengketa tanah adat yang telah berlangsung cukup lama dan beberapa kali memicu ketegangan di antara kedua desa.
Kericuhan Bermula di Kawasan Perbatasan Dua Desa

Bentrok terjadi di wilayah perbatasan Desa Waiburak dan Desa Narasaosina yang berada di Kecamatan Adonara Timur. Pada pagi hari, suasana yang semula berlangsung normal berubah mencekam setelah terdengar ledakan yang diduga berasal dari bahan peledak rakitan.
Tidak lama kemudian, warga dari kedua desa terlibat aksi saling serang. Berdasarkan informasi sementara, bentrokan berlangsung menggunakan berbagai jenis senjata, mulai dari senjata tajam hingga senjata api rakitan.
Situasi berkembang sangat cepat sehingga aparat keamanan harus bergerak untuk memisahkan kedua kelompok. Meski akhirnya bentrokan berhasil dikendalikan, korban jiwa dan kerusakan sudah tidak dapat dihindari.
Selain memicu korban manusia, kerusuhan juga menyebabkan sejumlah rumah warga terbakar. Api diduga muncul saat bentrokan berlangsung dan kemudian menyebar ke bangunan lain yang berada di sekitar lokasi.
Korban Jiwa dan Warga Terluka
Kepolisian memastikan bentrokan tersebut mengakibatkan tiga orang meninggal dunia. Para korban berasal dari desa yang terlibat dalam konflik sehingga peristiwa ini memberikan duka bagi kedua belah pihak.
Selain korban meninggal, beberapa warga juga mengalami luka dengan tingkat keparahan yang berbeda. Sebagian korban mendapat penanganan medis di fasilitas kesehatan terdekat, sedangkan korban dengan kondisi lebih serius dirujuk ke rumah sakit untuk menjalani perawatan lanjutan.
Polres Flores Timur mencatat terdapat lima warga mengalami luka ringan. Namun, data yang dirilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan jumlah korban luka mencapai tujuh orang.
Perbedaan angka tersebut terjadi karena proses pendataan dan verifikasi masih berlangsung. Aparat menjelaskan bahwa jumlah korban dapat berubah sesuai perkembangan hasil identifikasi di lapangan.
Puluhan Rumah Mengalami Kerusakan Akibat Kebakaran

Selain menelan korban jiwa, bentrokan juga menyebabkan kerusakan cukup besar pada kawasan permukiman.
Sedikitnya 20 rumah dilaporkan hangus terbakar. Kebakaran tersebut membuat banyak keluarga kehilangan tempat tinggal beserta harta benda yang berada di dalam rumah.
BNPB juga mencatat adanya kerusakan pada satu bangunan usaha milik warga serta satu unit sepeda motor yang ikut terbakar ketika bentrokan berlangsung.
Baca Juga; Warung Lontong Sayur bu Maryati ditagih 840 Ribu, Bukan Pajak
Tim gabungan masih melakukan pendataan terhadap kerusakan lain yang kemungkinan belum teridentifikasi. Proses tersebut membutuhkan waktu karena kondisi keamanan di lokasi baru berangsur kondusif setelah aparat memperketat pengamanan.
Identitas Korban Mulai Terungkap
Pihak kepolisian mengungkap identitas tiga korban meninggal dalam bentrokan tersebut.
Korban pertama adalah Nayamudin Iskandar yang berusia 21 tahun dan merupakan warga Dusun Bele, Desa Waiburak. Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, korban diduga meninggal akibat luka tembak.
Korban kedua diketahui bernama Hugo, berusia 62 tahun. Ia merupakan warga Desa Lewonara yang masih berada dalam wilayah Narasaosina. Dugaan sementara menyebut korban mengalami luka akibat senjata tajam.
Sementara itu, korban ketiga adalah Petrus Kopong Emit, warga Desa Narasaosina, yang meninggal dunia di lokasi bentrokan.
Di antara korban luka terdapat seorang pemuda berusia 19 tahun bernama Purnama B.L. yang mengalami luka tembak pada bagian dada. Korban kemudian mendapatkan penanganan intensif di RSUD Lewoleba.
Proses Evakuasi Dilakukan Setelah Situasi Lebih Aman
Evakuasi korban sempat menghadapi kendala karena aparat harus memastikan kondisi di lokasi benar-benar aman sebelum proses penyelamatan dilakukan.
Dua korban meninggal berhasil dimakamkan pada hari yang sama setelah diserahkan kepada keluarga masing-masing. Sementara satu korban lainnya baru dapat dievakuasi pada keesokan harinya karena lokasi sebelumnya masih dianggap berisiko.
Selain mengevakuasi korban, petugas juga membantu warga yang rumahnya terbakar untuk berpindah ke tempat yang lebih aman sambil menunggu penanganan lebih lanjut dari pemerintah daerah.
Sengketa Tanah Adat Diduga Menjadi Pemicu Utama
Meski penyelidikan masih berlangsung, aparat menyebut konflik diduga berkaitan dengan persoalan tanah ulayat yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Perselisihan mengenai batas dan kepemilikan lahan antara kedua desa disebut beberapa kali memicu ketegangan. Hingga kini, persoalan tersebut belum menemukan penyelesaian yang dapat diterima seluruh pihak.
Bentrokan pada Juli 2026 bukan menjadi insiden pertama. Sebelumnya, konflik serupa juga pernah terjadi pada Maret tahun yang sama.
Berulangnya aksi kekerasan menunjukkan bahwa penyelesaian melalui pendekatan keamanan saja belum cukup. Diperlukan langkah yang lebih menyeluruh agar akar persoalan dapat diselesaikan dan hubungan masyarakat kembali membaik.
Aktivitas Masyarakat Sempat Terganggu
Kerusuhan yang terjadi turut berdampak terhadap aktivitas warga di sekitar lokasi.
Arus lalu lintas di Jalur Trans Waiwerang sempat terganggu karena masyarakat memilih menghindari kawasan yang dianggap rawan. Beberapa aktivitas ekonomi juga mengalami perlambatan akibat warga lebih memilih bertahan di rumah atau mengungsi ke lokasi yang dinilai aman.
Pemerintah daerah bersama aparat keamanan terus berupaya memulihkan kondisi agar aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan normal.
Aparat Tingkatkan Pengamanan dan Dorong Dialog Damai
Setelah bentrokan berhasil dihentikan, aparat gabungan TNI dan Polri memperkuat penjagaan di sejumlah titik yang dianggap rawan. Personel tambahan dari Brimob juga diterjunkan guna mengantisipasi kemungkinan munculnya bentrokan susulan.
Selain pengamanan, pemerintah daerah bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), tokoh adat, tokoh agama, dan tokoh masyarakat mulai melakukan pendekatan dialog kepada kedua belah pihak.
Langkah tersebut diharapkan mampu meredam ketegangan sekaligus membuka ruang penyelesaian terhadap sengketa yang selama ini menjadi sumber konflik.
Masyarakat juga diimbau untuk tidak mudah terpancing informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya serta menyerahkan seluruh proses hukum kepada aparat yang berwenang. Hingga saat ini, situasi di Kecamatan Adonara Timur dilaporkan mulai berangsur kondusif, meski petugas keamanan masih tetap bersiaga untuk memastikan kondisi tetap aman dan mencegah konflik kembali terjadi.
