Berita

Video Jet Pribadi Kiky Saputri Kembali Viral, Respons Windah Basudara Picu Perdebatan

Video lama yang menampilkan komika Kiky Saputri saat berada di dalam jet pribadi kembali menjadi perbincangan di media sosial. Salah satu bagian yang menarik perhatian adalah ketika Kiky melontarkan candaan dengan menyapa masyarakat menggunakan istilah “rakyat jelata”. Cuplikan tersebut menuai kritik karena dinilai kurang sensitif terhadap kondisi masyarakat.

Polemik semakin meluas setelah kreator konten Windah Basudara turut mengunggah ulang video tersebut. Ia menyertakan kata “Rumbling” dan gambar karakter Eren Yeager dari anime Attack on Titan. Unggahan itu kemudian memunculkan perdebatan baru mengenai cara menyampaikan kritik terhadap pemerintah maupun figur publik yang dianggap dekat dengan kekuasaan.

Rekaman Lama Kiky Saputri Kembali Beredar

Video yang menjadi sorotan tersebut kembali ramai dibicarakan pada Jumat, 30 Oktober 2026. Rekaman itu diunggah ulang melalui platform Threads oleh akun @cepscornelius_.

Dalam tayangan tersebut, Kiky terlihat berada di dalam sebuah jet pribadi bersama vokalis Gigi, Armand Maulana, serta artis Gilang Dirga. Penerbangan itu disebut berkaitan dengan kegiatan Kementerian Perhubungan ketika Budi Karya Sumadi masih menjabat sebagai Menteri Perhubungan pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Dengan demikian, video tersebut bukan dokumentasi kejadian baru. Rekaman lama itu kembali mendapatkan perhatian setelah beredar ulang dan dikaitkan dengan perbincangan mengenai kondisi sosial serta hubungan figur publik dengan pemerintah.

Candaan “Rakyat Jelata” Jadi Sorotan Warganet

Di dalam video, Kiky tampak bersemangat karena mengaku baru pertama kali merasakan perjalanan menggunakan jet pribadi. Ia kemudian melontarkan sejumlah candaan dengan gaya khasnya sebagai komika.

Kiky sempat membayangkan momen tersebut sebagai kesempatan untuk berfoto sambil membawa tas mewah, seperti orang-orang yang ingin memamerkan kekayaan. Ia juga menyebut dirinya norak dan meminta agar sikapnya dimaklumi karena baru pertama kali mengalami hal tersebut.

Dalam candaan lainnya, Kiky menyampaikan bahwa perjalanan itu dilakukan untuk kepentingan tugas negara. Namun, bagian yang paling banyak menarik perhatian adalah ketika ia mengucapkan sapaan “hai rakyat jelata”.

Potongan tersebut memicu beragam tanggapan. Sejumlah warganet menganggap ucapan itu tidak tepat, terutama jika dikaitkan dengan situasi masyarakat yang masih menghadapi berbagai persoalan ekonomi dan sosial.

Bagi sebagian pengguna media sosial, candaan tersebut memberikan kesan adanya jarak antara kehidupan figur publik yang menikmati fasilitas mewah dan masyarakat biasa. Meski disampaikan dalam suasana bercanda, mereka menilai pilihan kata tetap dapat menimbulkan persoalan ketika dipublikasikan kepada khalayak luas.

Kritik juga berkembang ke latar belakang Kiky yang disebut pernah berprofesi sebagai guru. Beberapa warganet mempertanyakan apakah ia pernah menyuarakan persoalan kesejahteraan tenaga pendidik, termasuk kondisi guru yang menerima penghasilan terbatas.

Selain itu, muncul pula komentar yang menghubungkan Kiky dengan dugaan kedekatannya dengan pemerintah. Namun, berbagai komentar tersebut merupakan penilaian warganet yang berkembang di media sosial, bukan keterangan yang telah terkonfirmasi.

Hingga informasi dalam pemberitaan tersebut beredar, belum terlihat tanggapan langsung dari Kiky mengenai kembali viralnya rekaman lama itu.

Windah Basudara Ikut Angkat Video dan Serukan “Rumbling”

Perhatian publik semakin besar setelah Windah Basudara ikut membagikan ulang video Kiky. Dalam unggahannya, Windah menuliskan kata “Rumbling” serta menyertakan stiker Eren Yeager, karakter dari serial anime Attack on Titan.

Dalam cerita anime tersebut, Rumbling merupakan peristiwa yang menggambarkan kehancuran besar sebagai puncak konflik. Istilah itu kemudian digunakan Windah untuk menggambarkan kemarahan dan kekecewaannya terhadap situasi yang sedang dipersoalkan.

Unggahan Windah tidak berhenti pada penggunaan istilah tersebut. Ketika seorang warganet mengingatkan bahwa video Kiky merupakan rekaman lama, ia memberikan respons bahwa usia rekaman bukan persoalan utama baginya. Ia menyebut tidak mempermasalahkan apakah video tersebut dibuat tiga tahun atau bahkan sepuluh tahun sebelumnya.

Windah juga menyampaikan keinginannya untuk menyasar satu per satu pihak yang menurut pandangannya mendukung pemerintah. Ia mengaitkan sikap tersebut dengan kemarahan terhadap pemerintahan yang ia sebut sebagai rezim penindasan.

Ia menjelaskan bahwa pendekatan yang dipilihnya berangkat dari emosi atau “RAGE”. Menurut Windah, cara tersebut berbeda dengan sejumlah kreator lain yang lebih memilih menyampaikan kritik melalui pendekatan akademis dan edukatif.

Pernyataan ini turut mengundang perhatian karena memperlihatkan bagaimana kritik di media sosial dapat disampaikan melalui berbagai gaya, mulai dari pembahasan berbasis data hingga ekspresi kemarahan secara terbuka.

Baca Juga; RANS Carnival di Yogyakarta

Perbedaan Pandangan tentang Humor dan Kritik Sosial

Viralnya kembali video Kiky dan respons Windah memperlihatkan dua persoalan yang saling berkaitan. Pertama, bagaimana sebuah candaan lama dapat dimaknai secara berbeda ketika muncul kembali dalam situasi sosial yang berubah.

Di satu sisi, ucapan Kiky berada dalam konteks humor dan memperlihatkan gaya spontan seorang komika. Ia juga terlihat menjadikan pengalaman pertamanya naik jet pribadi sebagai bahan lelucon. Namun, di sisi lain, sebagian masyarakat merasa sapaan “rakyat jelata” terdengar merendahkan dan kurang mempertimbangkan kondisi orang lain.

Persoalan berikutnya adalah persepsi publik terhadap figur terkenal yang dianggap memiliki kedekatan dengan pemerintah. Ketika masyarakat sedang menaruh perhatian pada persoalan kesejahteraan dan ketimpangan, tindakan atau ucapan selebritas yang berkaitan dengan fasilitas mewah dapat memunculkan kritik lebih luas.

Sementara itu, respons Windah menunjukkan bahwa ekspresi kekecewaan publik tidak selalu disampaikan melalui diskusi yang tenang. Ada pihak yang memilih pendekatan emosional untuk menunjukkan penolakan terhadap sesuatu yang dianggap tidak adil.

Meski demikian, kritik tetap perlu memiliki batas. Menyoroti pernyataan, perilaku, atau kebijakan merupakan bagian dari kebebasan berpendapat. Sebaliknya, ajakan untuk menyasar individu satu per satu berisiko menggeser kritik menjadi serangan personal atau perundungan.

Pada akhirnya, polemik ini memperlihatkan bahwa video lama sekalipun dapat kembali memicu perdebatan ketika berhadapan dengan sensitivitas masyarakat saat ini. Perbedaan pendapat mengenai humor, kehidupan figur publik, dan cara menyampaikan kritik menjadi bagian dari dinamika percakapan di media sosial.

Related posts

Pemprov Sulsel Siapkan Mitigasi Risiko Ekonomi Pengaruh Perang Iran-Israel

Dolirena

Polisi Selidiki Dugaan Bullying usai Siswa SMP di Pemalang Meninggal Dunia, Hasil Autopsi Masih Ditunggu

dewapbn

3 Aduan Tambang Ilegal Di Kaltim Diproses Hukum

Dolirena