Berita

ISPA di Kalbar Capai 165 Ribu Kasus, Pontianak Paling Banyak Dapat Peringatan

Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kalimantan Barat menunjukkan angka yang cukup tinggi sepanjang 2026. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalimantan Barat mencatat lebih dari 165 ribu kasus hingga akhir Agustus tahun ini.

Lonjakan tersebut terjadi ketika aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kemunculan titik panas di sejumlah wilayah Kalimantan Barat juga menjadi perhatian. Kondisi kualitas udara yang memburuk akibat asap membuat masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap gangguan kesehatan pernapasan.

Kepala Dinkes Provinsi Kalimantan Barat, dr. Erna Yulianti, menyampaikan perkembangan tersebut pada Jumat, 28 Agustus 2026. Berdasarkan data yang dihimpun pemerintah daerah, peningkatan kasus telah terlihat sejak beberapa bulan sebelumnya.

Meski demikian, Dinkes mengingatkan bahwa peningkatan kasus ISPA tidak dapat secara langsung dikaitkan seluruhnya dengan karhutla. Ada berbagai faktor lain yang juga dapat menyebabkan seseorang mengalami infeksi saluran pernapasan.

Data Dinkes Catat 165.727 Kasus hingga 22 Agustus

Berdasarkan pencatatan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR), terdapat 165.727 kasus ISPA yang dilaporkan sejak 1 Januari hingga 22 Agustus 2026.

Erna mengatakan data tersebut berasal dari laporan yang masuk melalui sistem pemantauan penyakit yang digunakan untuk mendeteksi perubahan tren kesehatan di masyarakat.

“Dari periode 1 Januari sampai 22 Agustus 2026 tercatat sebanyak 165.727 kasus ISPA yang dilaporkan melalui sistem alert kami,” kata Erna dalam keterangannya.

Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Kalimantan Barat, angka tersebut berada di kisaran 29 kasus untuk setiap 1.000 penduduk.

Data tersebut memberikan gambaran mengenai besarnya beban penyakit pernapasan yang tercatat di wilayah tersebut. Namun, angka tersebut merupakan jumlah kasus yang dilaporkan melalui sistem pemantauan dan bukan berarti seluruh penduduk Kalimantan Barat mengalami ISPA.

Peningkatan Mulai Terlihat Sejak Pekan Ke-21

Kenaikan kasus ISPA ternyata sudah terdeteksi sejak akhir Mei 2026. Berdasarkan pemantauan Dinkes Kalbar, tren peningkatan mulai terlihat pada minggu ke-21 dan terus berlangsung hingga minggu ke-32 atau sekitar pertengahan Agustus.

Perkembangan tersebut menjadi perhatian karena terjadi bersamaan dengan peningkatan jumlah titik panas di beberapa wilayah Kalimantan Barat.

Peningkatan kasus juga terlihat dari aktivitas pelayanan kesehatan. Sejumlah fasilitas kesehatan, termasuk puskesmas, mencatat adanya kenaikan kunjungan masyarakat dengan keluhan yang berkaitan dengan gangguan pernapasan.

“Terjadi peningkatan ISPA di fasilitas pelayanan kesehatan dibandingkan minggu-minggu sebelumnya. Artinya kunjungan masyarakat ke puskesmas lebih meningkat,” ujar Erna.

Data tersebut kemudian menjadi salah satu dasar bagi pemerintah daerah untuk memperkuat pemantauan terhadap perkembangan penyakit pernapasan.

Pontianak Pimpin Jumlah Alert ISPA

Dinkes Kalimantan Barat menggunakan sistem SKDR untuk memantau wilayah yang menunjukkan perubahan kasus secara signifikan. Sistem tersebut menghasilkan alert ketika jumlah kasus di suatu wilayah memenuhi kondisi tertentu yang perlu mendapat perhatian.

Pada minggu ke-32, Kota Pontianak tercatat sebagai wilayah dengan jumlah alert paling tinggi. Total terdapat sembilan alert yang terdeteksi di kota tersebut.

Kabupaten Ketapang berada di posisi berikutnya dengan enam alert. Sementara itu, Kabupaten Sintang dan sejumlah wilayah lainnya tercatat memiliki lima alert pada periode yang sama.

Keberadaan alert tidak secara otomatis berarti seluruh penduduk di wilayah tersebut terpapar penyakit. Namun, data tersebut menunjukkan adanya perubahan tren yang perlu ditindaklanjuti oleh petugas kesehatan.

Informasi tersebut dapat digunakan untuk menentukan wilayah mana yang memerlukan pemantauan lebih intensif dan respons kesehatan yang lebih cepat.

Asap Karhutla Bukan Satu-Satunya Penyebab

Tingginya kasus ISPA terjadi bersamaan dengan meningkatnya aktivitas karhutla di Kalimantan Barat. Meski demikian, Dinkes mengingatkan masyarakat agar tidak langsung menganggap seluruh kasus ISPA disebabkan oleh kabut asap.

Erna menjelaskan bahwa ISPA memiliki banyak faktor risiko. Gangguan pernapasan dapat dipengaruhi oleh berbagai kondisi lingkungan maupun faktor individu.

“ISPA memiliki berbagai faktor risiko dan penyebab. Jadi tidak bisa langsung dikatakan seluruh peningkatan kasus disebabkan oleh karhutla,” jelasnya.

Kendati demikian, keberadaan asap kebakaran tetap menjadi faktor yang perlu diwaspadai. Partikel hasil pembakaran yang terhirup dapat mengiritasi saluran pernapasan dan memperburuk kondisi orang yang sebelumnya memiliki masalah kesehatan tertentu.

Karena itu, meningkatnya kasus ISPA di tengah aktivitas karhutla tetap menjadi perhatian pemerintah daerah.

Kelompok Rentan Diminta Lebih Berhati-hati

Paparan udara yang tercemar asap dapat memberikan risiko lebih besar bagi kelompok masyarakat tertentu. Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki kondisi kesehatan tertentu termasuk kelompok yang perlu mendapatkan perhatian lebih.

Dinkes Kalbar meminta masyarakat menyesuaikan aktivitas ketika kondisi udara memburuk. Kegiatan di luar ruangan yang tidak mendesak sebaiknya dikurangi, terutama ketika konsentrasi asap meningkat.

Penggunaan masker ketika harus berada di luar ruangan juga dianjurkan sebagai salah satu langkah perlindungan. Selain itu, masyarakat diminta menjaga kebersihan diri, mencukupi kebutuhan cairan, serta menerapkan pola hidup bersih dan sehat.

Masyarakat juga perlu memperhatikan kondisi kesehatan masing-masing. Jika muncul keluhan pernapasan yang mengganggu atau kondisi semakin memburuk, pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan perlu dilakukan.

Data Hotspot dan Kasus Terus Dibandingkan

Dinkes Kalbar tidak hanya mengandalkan data kasus dari fasilitas kesehatan. Perkembangan penyakit juga dipantau dengan melihat kondisi lingkungan, termasuk persebaran titik panas atau hotspot.

Data kasus ISPA kemudian dibandingkan dengan informasi mengenai aktivitas hotspot untuk membantu pemerintah memetakan wilayah yang memiliki risiko lebih tinggi.

Pemantauan dilakukan secara berkala dengan melibatkan fasilitas pelayanan kesehatan di berbagai daerah. Puskesmas menjadi salah satu sumber penting dalam memberikan laporan mengenai perubahan jumlah pasien dan keluhan kesehatan masyarakat.

Pendekatan tersebut memungkinkan pemerintah melihat perkembangan kasus secara lebih terarah. Jika suatu wilayah menunjukkan peningkatan kasus bersamaan dengan kondisi lingkungan yang kurang baik, pengawasan kesehatan dapat diperkuat.

Baca Juga; Jasad Pria Ditemukan di Roda Pesawat

Masyarakat Diminta Tidak Mengabaikan Gejala Pernapasan

Tingginya jumlah kasus ISPA di Kalimantan Barat menjadi pengingat bahwa gangguan pernapasan perlu mendapat perhatian, terutama ketika kualitas udara mengalami penurunan.

Meski belum dapat dikatakan seluruh peningkatan kasus berkaitan langsung dengan karhutla, paparan asap tetap perlu diminimalkan. Masyarakat dapat melakukan langkah sederhana seperti mengurangi aktivitas luar ruangan, menggunakan perlindungan pernapasan, dan menjaga kondisi tubuh.

Pemerintah daerah juga terus melakukan pemantauan melalui sistem kewaspadaan dini. Data dari puskesmas dan fasilitas kesehatan akan menjadi bagian penting dalam menentukan langkah selanjutnya.

Dengan kasus yang telah mencapai 165.727 hingga 22 Agustus 2026, kewaspadaan masyarakat tetap diperlukan. Terlebih, aktivitas hotspot dan kondisi udara di sejumlah wilayah masih menjadi faktor yang harus dipantau.

Dinkes Kalbar mengimbau masyarakat mengikuti informasi resmi mengenai kualitas udara dan perkembangan kesehatan, serta segera mencari pertolongan medis apabila mengalami keluhan pernapasan yang semakin berat.

Related posts

Ganjar Pranowo Tanggapi Santai Rencana Kaesang Nyaleg di Dapil Puan Maharani, Sebut Persaingan Hal Biasa

dewapbn

Jelang Demo 27 Agustus 2026, Massa Bawa Tuntutan Hukuman Mati Koruptor hingga Evaluasi Program MBG

dewapbn

45 Tim Bola Voli Berkompetisi Di Ajang Safin Pati Cup 2025

Dolirena