Berita

Ratusan Siswa Sakit Usai Makan MBG di Berastagi, Ibu Korban Desak Jawaban soal Penyebab Keracunan

Kasus dugaan keracunan makanan yang melibatkan ratusan pelajar di Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, menyisakan keresahan bagi para orang tua. Sebanyak 353 siswa dari lima sekolah dilaporkan mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Peristiwa tersebut terjadi pada Kamis (13/8/2026). Para siswa mengalami sejumlah keluhan, mulai dari mual, muntah, pusing, sesak napas, gatal-gatal hingga kejang. Sebagian korban harus mendapatkan perawatan di fasilitas kesehatan karena kondisi mereka cukup mengkhawatirkan.

Kasus ini semakin menjadi perhatian setelah Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menemui sejumlah korban dan keluarga di Rumah Sakit Efarina Etaham, Berastagi, pada Minggu (16/8/2026).

Dalam pertemuan tersebut, seorang ibu korban menyampaikan pertanyaan yang mewakili kegelisahan banyak keluarga. Ia ingin mengetahui secara pasti zat atau bahan apa yang membuat anaknya jatuh sakit.

Ibu Korban Minta Kepastian Penyebab

Fitriani br Sijabat, ibu dari Agnesia Paruliana br Silitonga, siswa SMAN 1 Berastagi, menyampaikan keresahannya secara langsung kepada Sudaryono.

Putrinya menjadi salah satu siswa yang harus mendapatkan perawatan setelah mengonsumsi makanan MBG. Fitriani mengatakan dirinya membutuhkan kepastian mengenai penyebab kondisi kesehatan anaknya agar pengobatan dapat dilakukan secara tepat.

Ia mempertanyakan apa sebenarnya yang masuk ke tubuh anaknya dan menyebabkan berbagai keluhan kesehatan.

Kekhawatiran Fitriani bukan tanpa alasan. Agnesia sebelumnya sempat menjalani perawatan di RS Amanda Berastagi setelah mengalami gangguan pernapasan dan sesak pada hari kejadian.

Setelah kondisinya dianggap membaik, Agnesia diperbolehkan pulang. Namun, sesampainya di rumah, kondisi tersebut kembali berubah. Ia mengalami mual dan gatal-gatal sehingga keluarganya kembali membawanya ke rumah sakit.

Fitriani juga mengaku takut jika pemberian obat tidak sesuai dengan penyebab penyakit. Bagi keluarga korban, mengetahui penyebab gangguan kesehatan menjadi hal penting agar anak-anak mendapatkan penanganan yang sesuai.

Baca Juga; Cemburu Karena Chat, Siswa SMK Dianiaya Kakak Kelas

Jumlah Korban Terus Bertambah

Kejadian bermula sekitar pukul 13.00 WIB pada Kamis (13/8/2026). Setelah menyantap menu MBG, sejumlah siswa mulai menunjukkan gejala kesehatan.

Pada tahap awal, jumlah siswa yang terdampak dilaporkan sekitar 265 orang. Data kemudian berkembang menjadi 269 siswa, sebelum akhirnya jumlah keseluruhan korban mencapai 353 orang dari lima sekolah.

Beberapa sekolah yang siswanya terdampak antara lain SMAN 1 Berastagi, SMA Swasta Bersama, dan SMK Swasta Bersama.

Gejala yang muncul cukup beragam. Para siswa dilaporkan mengalami mual, muntah, pusing, sesak napas hingga kejang. Kondisi tersebut membuat sejumlah rumah sakit di Berastagi harus menangani banyak pasien pelajar dalam waktu bersamaan.

Situasi tersebut juga membuat masyarakat mempertanyakan bagaimana makanan yang dikonsumsi secara bersama-sama dapat menyebabkan gangguan kesehatan dalam jumlah besar.

Makanan Berasal dari Satu Dapur

Salah satu fakta yang menjadi perhatian dalam penyelidikan adalah makanan para siswa berasal dari dapur MBG yang sama.

Makanan tersebut diproduksi oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Berastagi Sempajaya yang berada di kawasan Kodim 0205/Tanah Karo. Pengelolaan dapur tersebut berada di bawah Yayasan Manunggal Kartika Jaya.

Karena adanya dugaan keterkaitan antara makanan dan gangguan kesehatan yang dialami siswa, sampel makanan kemudian dikirim untuk menjalani pemeriksaan laboratorium.

Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan penyebab kejadian secara ilmiah. Dengan jumlah korban yang mencapai ratusan orang, penentuan sumber masalah menjadi bagian penting dalam proses investigasi.

Skala pelayanan dapur tersebut juga cukup besar. Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution menyebut SPPG Berastagi Sempajaya melayani lebih dari 2.900 penerima manfaat dan menerapkan sistem memasak dua kali.

Artinya, gangguan dalam proses penyimpanan atau pengolahan bahan makanan berpotensi berdampak kepada penerima dalam jumlah besar.

Penanganan Ikan Jadi Sorotan

Dalam evaluasi awal, BGN menemukan adanya persoalan dalam penyimpanan bahan makanan, terutama ikan.

Kepala BGN Sudaryono mengungkapkan bahwa sebagian ikan telah ditempatkan di dalam freezer. Namun, terdapat sekitar 200 hingga 300 ekor ikan yang disebut tidak masuk ke dalam freezer dan berada pada suhu ruangan selama kurang lebih 12 jam atau lebih.

Temuan tersebut menjadi perhatian karena ikan termasuk bahan pangan yang membutuhkan pengendalian suhu secara tepat. Jika penyimpanannya tidak sesuai, kualitas bahan dapat menurun dan risiko kontaminasi maupun pertumbuhan mikroorganisme dapat meningkat.

Salah satu kemungkinan yang kemudian muncul adalah keracunan scombroid. Kondisi tersebut berkaitan dengan peningkatan histamin pada ikan yang tidak disimpan dalam suhu yang sesuai.

Gejalanya dapat mencakup gatal-gatal, mual, muntah, sakit kepala, kemerahan hingga gangguan pernapasan.

Meski demikian, dugaan tersebut belum dapat dinyatakan sebagai penyebab pasti. Pemeriksaan laboratorium tetap diperlukan untuk memastikan sumber gangguan kesehatan yang dialami para siswa.

Operasional Dapur Dihentikan

Sebagai tindak lanjut, BGN menghentikan sementara operasional SPPG Berastagi Sempajaya. Penghentian tersebut disebut berlangsung selama 30 hari.

Selain itu, kepala SPPG juga dicopot dari jabatannya sebagai bagian dari evaluasi terhadap pengelolaan dapur.

Sudaryono menekankan bahwa keamanan makanan harus menjadi perhatian utama dalam pelaksanaan program MBG. Dapur yang menyediakan makanan untuk masyarakat dalam jumlah besar memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan seluruh proses berlangsung sesuai standar.

Pengawasan tidak hanya dibutuhkan ketika makanan sudah selesai dimasak. Pemeriksaan harus dimulai sejak bahan baku diterima, bagaimana bahan disimpan, proses pengolahan, hingga makanan didistribusikan kepada penerima.

Standar Keamanan Pangan Diperketat

Kasus di Berastagi juga menjadi bahan evaluasi secara nasional. BGN meminta puluhan ribu kepala SPPG memperketat penerapan prosedur keamanan pangan di masing-masing dapur.

Pengawasan harus dilakukan pada seluruh tahapan produksi. Kondisi bahan baku, suhu penyimpanan, kebersihan peralatan, proses memasak, hingga distribusi makanan perlu diperhatikan secara konsisten.

Langkah tersebut diperlukan karena program MBG melayani penerima dalam jumlah besar. Kesalahan kecil dalam pengelolaan bahan makanan berpotensi memberikan dampak luas apabila tidak segera diketahui.

Sudaryono juga menegaskan bahwa kelalaian yang dapat membahayakan penerima manfaat tidak boleh ditoleransi.

Puluhan Siswa Masih Dirawat

Proses pemulihan para korban masih berlangsung setelah kejadian. Hingga Minggu (17/8/2026), tercatat 64 anak masih menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan.

Salah satu pasien dengan kondisi lebih berat harus dirujuk dari RS Efarina Berastagi ke rumah sakit di Medan. Pasien tersebut mengalami sesak napas dan kondisi yang belum stabil sehingga membutuhkan perawatan di Pediatric Intensive Care Unit (PICU).

Pada Selasa (18/8/2026), kondisi pasien dilaporkan mulai membaik. Meski demikian, pemantauan medis masih dilakukan secara ketat.

Kasus ini menunjukkan bahwa keberhasilan program MBG tidak hanya ditentukan oleh kandungan gizi dalam makanan. Keamanan bahan pangan, kebersihan, penyimpanan, pengolahan, dan distribusi juga menjadi bagian yang sama pentingnya.

Bagi keluarga korban, pertanyaan mengenai penyebab ratusan siswa jatuh sakit masih menunggu jawaban pasti. Hasil pemeriksaan laboratorium diharapkan dapat memberikan kejelasan sekaligus menjadi dasar evaluasi agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.

Related posts

Sarwendah Unggah Rekaman Lengkap Pertengkaran dengan Ruben Onsu, Beberkan Kronologi hingga Singgung Dugaan Perselingkuhan

dewapbn

Bentrokan Warga di Adonara Flores Timur Tewaskan Tiga Orang, Puluhan Rumah Ikut Dilalap Api

dewapbn

Cristiano Ronaldo dan Georgina Rodriguez Resmi Menikah Diam-Diam di Portugal

dewapbn