Upaya menemukan delapan orang yang hilang setelah speedboat Arupadhatu 1 kehilangan kontak di perairan Selat Sunda masih terus dilakukan. Memasuki Kamis pagi, 10 September 2026, tim SAR gabungan belum menemukan keberadaan lima jurnalis dan tiga awak kapal yang berada di dalam speedboat tersebut.
Rombongan terakhir kali diketahui berada di kawasan perairan antara Carita, Kabupaten Pandeglang, dan Gunung Anak Krakatau. Mereka berangkat dari wilayah Carita untuk menjalankan tugas jurnalistik, yakni meliput perkembangan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang dalam beberapa hari terakhir menunjukkan peningkatan.
Operasi pencarian memasuki hari ketiga dengan melibatkan berbagai unsur. Basarnas memastikan seluruh personel dan peralatan yang tersedia akan dimaksimalkan untuk memperbesar peluang menemukan para korban.
Deputi Operasi dan Kesiapsiagaan Basarnas Edy Prakoso meminta dukungan doa agar proses pencarian dapat berjalan dengan lancar dan seluruh korban segera ditemukan.
“Basarnas beserta unsur di lapangan akan mengoptimalkan seluruh kekuatan yang ada. Mohon doanya semoga proses pencarian korban dapat berjalan dengan lancar, aman, dan selamat serta seluruh korban dapat ditemukan,” ujar Edy.
Delapan orang yang dicari terdiri atas lima jurnalis dan tiga awak kapal. Lima jurnalis tersebut yakni M. Bagus Khoirunnas dari Kantor Berita ANTARA, Ari Basuki dari Merdeka.com, Yudhis dari iNews, Daus dari Anadolu Agency, serta Donal yang merupakan pewarta lepas.
Sementara tiga awak Arupadhatu 1 adalah Warta, 55 tahun, yang bertugas sebagai kapten, Surakman, 60 tahun, sebagai anak buah kapal, dan Heriyanto, 49 tahun, sebagai pemandu.
Kontak Terakhir Terjadi Tak Lama Setelah Berangkat

Rombongan memulai perjalanan dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, pada Senin, 7 September 2026, sekitar pukul 14.00 WIB.
Mereka menuju kawasan perairan Selat Sunda untuk mendapatkan dokumentasi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau. Sekitar 42 menit setelah keberangkatan, salah seorang jurnalis masih sempat mengirimkan lokasi terakhir kepada rekannya.
Titik tersebut berada di kawasan antara Carita dan Gunung Anak Krakatau. Namun, komunikasi kemudian terputus. Kontak dengan rombongan tercatat berhenti sekitar pukul 15.04 WIB.
Sejak saat itu, keberadaan Arupadhatu 1 tidak lagi diketahui. Tim SAR kemudian menggunakan titik koordinat terakhir sebagai salah satu dasar pencarian. Perhitungan juga mempertimbangkan arah angin, arus laut, serta kemungkinan speedboat bergeser dari lokasi terakhir setelah komunikasi terputus.
Pada hari kedua, area pencarian diperluas hingga sekitar 271 nautical mile. Perluasan dilakukan berdasarkan hasil SAR Mission Planning yang memperkirakan objek kemungkinan bergerak ke arah barat daya Gunung Anak Krakatau.
Kepala Sub Seksi Operasi dan Siaga Basarnas Banten Rizky Dwianto mengatakan perubahan wilayah pencarian dilakukan setelah pemetaan menunjukkan kemungkinan pergeseran posisi ke arah tersebut.
Sekitar 250 personel gabungan dikerahkan untuk operasi tersebut. Kapal dan perahu karet dibagi ke sejumlah Search and Rescue Unit (SRU) untuk menyisir sektor masing-masing.
Namun hingga pencarian hari kedua berakhir, petugas belum menemukan Arupadhatu 1 maupun tanda-tanda keberadaan delapan orang yang berada di dalamnya.
Fokus Pencarian Bergeser ke Utara
Memasuki hari ketiga, tim SAR kembali mengubah pola pencarian. Area di sisi selatan Gunung Anak Krakatau hingga radius sekitar 20 nautical mile dari titik tengah gunung dinilai telah mendapatkan penyisiran yang cukup luas.
Fokus kemudian dialihkan menuju kawasan utara Gunung Anak Krakatau.
Kepala Kantor SAR Banten Al Amrad menjelaskan bahwa perubahan sektor tersebut dilakukan berdasarkan perhitungan kondisi arus, gelombang, dan arah angin yang dapat memengaruhi pergerakan speedboat.
Pencarian pada Kamis direncanakan dimulai sekitar pukul 07.00 WIB. Tim membagi area menjadi lima sektor yang didukung tujuh SRU. Sebanyak sembilan alat utama disiapkan untuk melakukan penyisiran dalam radius sekitar 15 sampai 20 nautical mile dari koordinat terakhir.
Wilayah operasi juga mencakup sejumlah kawasan di sekitar Selat Sunda. Selain Gunung Anak Krakatau, tim memperluas pencarian menuju Pulau Sebesi, Pulau Lagundi, Pulau Sebuku, hingga Teluk Semangka.
Dukungan datang dari berbagai unsur. TNI Angkatan Laut mengerahkan tiga kapal perang, yaitu KRI Leuser-924, KRI Kerambit-627, dan KRI Lepu-861. Kapal dari Lanal Banten serta Lanal Lampung juga turut membantu.
Polda Lampung menurunkan kapal patroli, sedangkan Basarnas Lampung mengirimkan dua unit RIB. Warga dan komunitas lokal juga menyatakan kesiapan untuk membantu penyisiran, termasuk pencarian di sekitar kawasan Panaitan.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau Jadi Pertimbangan Keselamatan

Operasi SAR berlangsung di tengah kondisi alam yang penuh risiko. Selain luasnya wilayah laut yang harus disisir, tim harus bekerja di sekitar Gunung Anak Krakatau yang masih berstatus aktif.
Pada Rabu, 9 September 2026, sekitar pukul 13.31 WIB, gunung tersebut kembali mengalami erupsi ketika operasi pencarian sedang berlangsung.
Aktivitas vulkanik menjadi salah satu faktor yang harus diperhitungkan dalam menentukan pergerakan personel. Abu vulkanik, arah angin, kondisi laut, serta potensi erupsi dapat memengaruhi keselamatan tim.
Al Amrad menegaskan bahwa aktivitas Gunung Anak Krakatau terus dipantau. Jika situasi dinilai membahayakan, strategi pencarian akan disesuaikan agar keselamatan petugas tetap menjadi prioritas.
Cuaca juga membuat pencarian dari udara belum dapat dilakukan secara maksimal. Angin kencang dan kondisi atmosfer yang kurang mendukung membatasi penggunaan sarana udara. Sebagai alternatif, tim menggunakan drone meski perangkat tersebut memiliki keterbatasan durasi terbang.
Gunung Anak Krakatau diketahui berstatus Level III atau Siaga sejak 2 Juli 2026. Badan Geologi merekomendasikan masyarakat tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif.
Sebelumnya, aktivitas erupsi juga sempat berlangsung selama sekitar 25 jam, mulai 4 September pukul 23.07 WIB hingga 6 September pukul 00.04 WIB. Aktivitas tersebut disertai lava fountain dan suara dentuman yang terdengar hingga sejumlah wilayah. Abu vulkanik bahkan sempat memengaruhi operasional sejumlah bandara.
Keluarga Berharap Semua Titik Kemungkinan Diperiksa
Di tengah operasi yang belum menemukan hasil, keluarga delapan orang yang hilang terus menanti kabar.
Desi, istri M. Bagus Khoirunnas, menyampaikan informasi mengenai kemungkinan lokasi yang sempat menjadi rencana persinggahan rombongan. Berdasarkan informasi yang diterimanya, rombongan disebut sempat berencana singgah di Pulau Sertung, di sebelah barat Gunung Anak Krakatau.
Ia berharap kawasan tersebut ikut menjadi perhatian dalam operasi pencarian. Namun, lokasi Pulau Sertung juga memiliki risiko tersendiri karena berada relatif dekat dengan kawasan aktivitas vulkanik.
Dukungan bagi pencarian datang dari sesama pekerja media. Pada Rabu, sejumlah jurnalis lintas media di Banten menggelar doa bersama di Pandeglang untuk mendoakan keselamatan rekan-rekan mereka.
Pemerintah turut memberikan dukungan. Kementerian Komunikasi dan Digital berkoordinasi dengan operator telekomunikasi guna mendukung kebutuhan komunikasi tim SAR selama melakukan pencarian di kawasan Selat Sunda.
Menteri Komdigi Meutya Hafid juga mengingatkan insan pers agar tetap mengutamakan keselamatan ketika menjalankan tugas di wilayah yang memiliki risiko bencana.
Wakil Ketua DPR RI Saan Mustopa menyampaikan pesan serupa. Menurutnya, aktivitas jurnalistik di wilayah berbahaya perlu disertai persiapan keselamatan yang memadai.
Baca Juga; Operasi SAR Anak Krakatau Berlanjut
Kini, pencarian memasuki fase penting. Kapal-kapal SAR terus bergerak menyisir sektor yang telah ditentukan, sementara kondisi cuaca dan aktivitas vulkanik terus dipantau.
Bagi keluarga dan rekan kerja, operasi tersebut bukan sekadar pencarian sebuah speedboat. Lima jurnalis dan tiga awak kapal masih dinantikan kepulangannya.
Tim SAR pun berpacu dengan waktu, arus, gelombang, angin, serta aktivitas Gunung Anak Krakatau untuk menemukan Arupadhatu 1 dan delapan orang yang hingga kini belum diketahui keberadaannya.
