Hampir setahun lamanya keluarga Mozza Axillia Gunarsa menunggu kabar tentang keberadaan putri mereka. Gadis berusia 18 tahun asal Desa Gebugan, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, itu sebelumnya dilaporkan hilang pada Juni 2025.
Penantian panjang tersebut akhirnya menemukan jawaban yang begitu menyakitkan. Mozza ternyata telah meninggal dunia dan menjadi korban pembunuhan. Polisi mengungkap kasus tersebut setelah memperoleh petunjuk baru yang berkaitan dengan perangkat elektronik yang masih terhubung dengan akun media sosial milik korban.
Dari hasil penyelidikan, polisi kemudian mengarah kepada seorang pria yang diketahui merupakan teman dekat Mozza. Pria berinisial MDVA alias V, berusia 22 tahun, akhirnya diamankan di Kabupaten Blora, Jawa Tengah.
Kepada polisi, pelaku mengakui perbuatannya dan menunjukkan lokasi tempat ia membuang jasad korban.
Komunikasi Terakhir Mozza dengan Sang Ayah

Jejak hilangnya Mozza bermula pada Rabu, 25 Juni 2025. Sekitar pukul 10.00 WIB, Mozza mengirimkan pesan kepada ayahnya, Singgih.
Dalam pesan tersebut, Mozza mengatakan hendak mengantarkan laptop milik seorang teman ke kawasan Makodam Semarang. Tidak ada yang menyangka bahwa pesan singkat itu akan menjadi komunikasi terakhir antara Mozza dan keluarganya.
Setelah itu, Mozza tidak lagi memberikan kabar. Foto profil WhatsApp miliknya juga kemudian menghilang.
Singgih mulai merasa ada sesuatu yang tidak biasa. Kecurigaannya semakin kuat setelah teman yang disebut dalam pesan tersebut mengaku tidak pernah membuat janji bertemu dengan Mozza pada hari itu.
Biasanya, menurut Singgih, putrinya kerap memberikan informasi ketika bepergian, termasuk mengirimkan foto lokasi. Namun, kali ini tidak ada pesan maupun petunjuk lain yang diterima keluarga.
Keluarga akhirnya melaporkan hilangnya Mozza kepada kepolisian pada 28 Juni 2025.
Sang Ayah Menyisir Berbagai Daerah Demi Mencari Putrinya
Selama berbulan-bulan tidak mendapatkan kepastian, Singgih tidak berhenti berusaha menemukan anaknya. Berbagai informasi yang masuk selalu ia tindak lanjuti, meskipun lokasi yang disebutkan berada jauh dari Kabupaten Semarang.
Pencarian dilakukan hingga sejumlah wilayah, termasuk Semarang dan sekitarnya, Solo, Indramayu di Jawa Barat, hingga Jombang di Jawa Timur.
Singgih bahkan pernah mendatangi langsung lokasi di Jombang bersama tim penyidik setelah memperoleh informasi bahwa nomor lama ponsel Mozza sempat terdeteksi di wilayah tersebut.
Namun, harapan itu kembali pupus setelah diketahui nomor tersebut ternyata telah digunakan oleh orang lain.
Selain melakukan pencarian secara langsung, Singgih juga memanfaatkan berbagai jalur digital. Ia berusaha menyebarkan informasi mengenai hilangnya Mozza melalui media sosial.
Upaya meminta bantuan juga dilakukan dengan menghubungi sejumlah pejabat, mulai dari Bupati Semarang, Gubernur Jawa Tengah, hingga jajaran kepolisian. Semua dilakukan agar pencarian terhadap putrinya tetap mendapatkan perhatian dan tidak berhenti di tengah jalan.
Penyelidikan Polisi Sempat Mengalami Hambatan
Pencarian terhadap Mozza bukan perkara mudah bagi polisi. Salah satu kendala yang ditemukan penyidik berkaitan dengan perangkat komunikasi milik korban.
Kasat Reskrim Polres Semarang AKP Bodia Teja Lelana menjelaskan bahwa ponsel Mozza telah di-reset ke pengaturan pabrik. Kondisi tersebut membuat penyidik mengalami kesulitan dalam melacak berbagai jejak digital yang mungkin dapat membantu mengungkap keberadaan korban.
Meski belum menemukan hasil dalam waktu lama, polisi tetap melanjutkan pencarian.
Kapolres Semarang AKBP Ratna Quratul Ainy sebelumnya juga memastikan bahwa penyidik terus melakukan upaya pencarian, termasuk terhadap perangkat komunikasi yang berkaitan dengan korban.
Penyelidikan yang berlangsung cukup panjang akhirnya mendapatkan perkembangan baru beberapa minggu sebelum kasus tersebut terungkap.
Perangkat Elektronik Membuka Jalan Menuju Pelaku

Titik terang muncul setelah keluarga memberikan informasi mengenai sebuah perangkat elektronik yang ternyata masih terhubung dengan akun media sosial milik Mozza.
Petunjuk tersebut kemudian dianalisis oleh penyidik. Dari sana, polisi mendapatkan informasi yang mengarah kepada seorang pria yang diketahui memiliki hubungan pertemanan dekat dengan korban.
Penelusuran selanjutnya membawa polisi ke sebuah rumah indekos di kawasan Sriwijaya, Kota Semarang. Penyidik menggali informasi dari orang-orang yang mengenal pria tersebut, termasuk teman-teman yang tinggal di lingkungan kos.
Dari rangkaian informasi itu, polisi kemudian mendapatkan petunjuk baru mengenai keberadaan pria yang dicurigai berkaitan dengan hilangnya Mozza.
Penyelidikan terus dikembangkan hingga akhirnya mengarah ke Kabupaten Blora.
Baca Juga; Nelayan Terjebak Erupsi Anak Krakatau
Teman Dekat Korban Diamankan di Blora
Tim gabungan polisi akhirnya mengamankan MDVA alias V di wilayah Blora, Jawa Tengah. Pria berusia 22 tahun tersebut ditangkap tanpa perlawanan berarti.
Hasil pemeriksaan kemudian mengungkap fakta mengejutkan. MDVA mengakui bahwa dirinya telah melakukan pembunuhan terhadap Mozza.
Kepada penyidik, pelaku menyebut peristiwa tersebut terjadi pada 25 Juni 2025, tepat pada hari ketika Mozza terakhir kali berkomunikasi dengan keluarganya.
Artinya, Mozza diduga telah meninggal dunia tiga hari sebelum keluarganya secara resmi melaporkan dirinya hilang kepada polisi.
Setelah mengakui perbuatannya, pelaku kemudian menunjukkan lokasi tempat ia membuang jasad korban.
Polisi mendatangi lokasi yang berada di pinggir Jalan Tol Jangli. Di tempat tersebut, petugas menemukan kerangka manusia bersama beberapa lembar kain.
Kerangka tersebut kemudian dievakuasi dan dibawa ke RS Bhayangkara untuk proses lebih lanjut.
Keluarga Akhirnya Mendapat Kepastian yang Selama Ini Dicari
Terungkapnya kasus tersebut sekaligus mengakhiri penantian panjang keluarga Mozza. Namun, kepastian yang selama ini mereka harapkan datang dalam bentuk kabar duka.
Pada Jumat malam, 4 September 2026, jenazah Mozza akhirnya dibawa pulang ke rumah duka di Dusun Gebugan menggunakan ambulans PMI Kabupaten Semarang.
Kedatangan jenazah disambut keluarga dan para pelayat. Salat jenazah kemudian dilaksanakan, disertai doa untuk kepergian Mozza.
Sang kakek, Ngadirin, mengaku masih sulit menerima kenyataan mengenai cucunya. Ia mengatakan sempat merasakan firasat tidak baik sebelum memperoleh kabar mengenai kondisi Mozza.
Perjalanan pencarian yang dilakukan keluarga selama berbulan-bulan akhirnya berakhir di rumah duka. Singgih yang selama ini terus mencari putrinya kini telah memperoleh kepastian mengenai nasib Mozza, meski jawaban tersebut meninggalkan duka mendalam.
Kasus ini masih menjadi perhatian kepolisian. Setelah mengamankan pelaku, penyidik terus mendalami perkara untuk mengungkap rangkaian kejadian secara menyeluruh dan memastikan proses hukum terhadap pihak yang bertanggung jawab berjalan sesuai ketentuan.
