Kodam I/Bukit Barisan Ungkap Penyebab Meninggalnya Siswa Dikmata Setelah Hasil Autopsi Keluar
Kematian seorang siswa Pendidikan Pertama Tamtama (Dikmata) TNI Angkatan Darat di lingkungan Resimen Induk Kodam (Rindam) I/Bukit Barisan sempat memunculkan berbagai pertanyaan di tengah masyarakat. Genial Gavensi Gulo (21), yang baru beberapa hari mengikuti pendidikan militer, ditemukan meninggal dunia di kawasan belakang kompleks Rindam I/BB, Pematangsiantar, Sumatera Utara, pada Senin (20/7/2026).
Setelah melalui serangkaian penyelidikan dan pemeriksaan forensik, Kodam I/Bukit Barisan akhirnya menyampaikan hasil investigasi terkait penyebab kematian prajurit siswa tersebut. Berdasarkan hasil autopsi dan penyelidikan gabungan, tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Tim menyimpulkan bahwa Genial meninggal dunia akibat mengakhiri hidupnya sendiri.
Pernyataan resmi tersebut disampaikan pada Kamis (24/7/2026), sekaligus menjawab berbagai dugaan yang sempat berkembang sejak kabar meninggalnya siswa Dikmata itu mencuat.
Tidak Hadir Senam Pagi, Pencarian Berakhir dengan Penemuan Jenazah

Peristiwa bermula pada Senin dini hari sekitar pukul 04.00 WIB ketika Genial diketahui tidak mengikuti kegiatan senam pagi yang menjadi agenda rutin para siswa pendidikan militer.
Ketidakhadiran tersebut segera menjadi perhatian para pelatih dan pengasuh. Pihak satuan kemudian melakukan pengecekan serta menyisir area pendidikan untuk mencari keberadaan siswa yang berasal dari Kabupaten Nias Barat itu.
Upaya pencarian berlangsung selama beberapa jam hingga akhirnya sekitar pukul 10.25 WIB, Genial ditemukan dalam keadaan sudah meninggal dunia di area belakang kompleks Rindam I/BB, tepatnya di sekitar aliran sungai yang berada di Kelurahan Setia Negara, Kecamatan Siantar Sitalasari, Kota Pematangsiantar.
Korban pertama kali ditemukan oleh salah seorang pelatih yang turut terlibat dalam proses pencarian.
Saat informasi tersebut pertama kali dikonfirmasi kepada publik, Komandan Rindam I/Bukit Barisan Brigjen TNI Abdul Razak Rangkuti membenarkan bahwa korban merupakan siswa Dikmata yang baru menjalani pendidikan selama empat hari.
Namun pada saat itu pihak Rindam belum memberikan kesimpulan mengenai penyebab kematian karena proses pemeriksaan masih berlangsung.
Proses Autopsi Dilakukan Hingga Malam Hari
Beberapa jam setelah penemuan jenazah, tim Identifikasi Forensik (Inafis) Polres Pematangsiantar tiba di kompleks Rindam sekitar pukul 12.00 WIB untuk melakukan olah tempat kejadian perkara.
Sekitar satu jam kemudian, jenazah dibawa menggunakan ambulans menuju Instalasi Forensik dan Medikolegal RSUD dr Djasamen Saragih untuk menjalani autopsi.
Pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh, baik pemeriksaan luar maupun pemeriksaan dalam terhadap jenazah. Proses autopsi berlangsung cukup lama dan baru selesai pada Senin malam sekitar pukul 23.00 WIB.
Selama proses tersebut, pihak kepolisian maupun rumah sakit belum memberikan informasi mengenai hasil pemeriksaan karena masih menunggu analisis dari tim forensik.
Tim Investigasi Gabungan Pastikan Tidak Ada Unsur Kekerasan

Kepala Penerangan Kodam I/Bukit Barisan Kolonel Infanteri Sandy menjelaskan bahwa kesimpulan penyebab kematian diperoleh melalui investigasi yang dilakukan secara menyeluruh oleh tim gabungan.
Tim tersebut melibatkan berbagai unsur di lingkungan Kodam I/BB, antara lain Inteldam I/BB, Polisi Militer Kodam (Pomdam) I/BB, Kesehatan Kodam (Kesdam) I/BB, Kumdam I/BB, serta Deninteldam.
Hasil penyelidikan internal kemudian diperkuat oleh hasil autopsi dari tim forensik RSUD dr Djasamen Saragih.
Menurut Sandy, pemeriksaan medis tidak menemukan adanya luka maupun tanda kekerasan yang mengarah pada tindakan penganiayaan atau tindak pidana terhadap korban.
Dengan demikian, tim menyimpulkan bahwa penyebab kematian Genial merupakan tindakan bunuh diri.
Penjelasan tersebut sekaligus meredam berbagai spekulasi yang sempat beredar di media sosial maupun masyarakat mengenai kemungkinan adanya kekerasan selama korban menjalani pendidikan militer.
Keluarga Sempat Meminta Autopsi Dilakukan
Sebelum hasil pemeriksaan diumumkan, pihak keluarga mengaku masih mempertanyakan penyebab meninggalnya Genial.
Ketua DPC Pemuda Peduli Nias Pematangsiantar, Kari Halawa, yang mendampingi keluarga di RSUD dr Djasamen Saragih, mengatakan bahwa keluarga terakhir kali bertemu dengan Genial pada saat pembukaan pendidikan Dikmata pada 16 Juli 2026.
Menurut keluarga, selama mengikuti seluruh tahapan seleksi hingga dinyatakan lulus sebagai siswa Dikmata, Genial berada dalam kondisi sehat, baik secara fisik maupun mental.
Keluarga juga menyebut tidak mengetahui adanya persoalan pribadi ataupun masalah keluarga yang dialami korban sebelum memasuki pendidikan militer.
Karena itulah keluarga meminta agar autopsi dilakukan sehingga penyebab kematian dapat diketahui secara pasti dan tidak menimbulkan berbagai dugaan.
Pada hari pertama setelah kejadian, informasi yang diterima keluarga masih sangat terbatas. Bahkan beberapa anggota keluarga yang datang dari Medan mengaku belum memperoleh penjelasan resmi mengenai penyebab meninggalnya Genial.
Sementara itu, Kepala Instalasi Forensik RSUD dr Djasamen Saragih, dr Reinhard Hutahaean, saat itu hanya memastikan bahwa pemeriksaan telah dilakukan sesuai prosedur. Ia menjelaskan hasil resmi forensik membutuhkan waktu sehingga masyarakat diminta menunggu proses penyidikan selesai.
Sosok Genial yang Bercita-cita Menjadi Prajurit TNI
Genial Gavensi Gulo lahir pada 2 November 2005 dan merupakan anak kedua dari delapan bersaudara.
Sejak kecil, ia disebut memiliki cita-cita menjadi prajurit TNI. Kesempatan tersebut akhirnya terwujud setelah dirinya mengikuti seleksi penerimaan TNI AD.
Menurut keluarga, Genial hanya sekali mengikuti proses seleksi dan langsung dinyatakan lulus sebagai siswa Dikmata Infanteri Gelombang II Tahun Anggaran 2026.
Pendidikan tersebut baru resmi dimulai pada 16 Juli 2026 sehingga saat meninggal dunia, status Genial masih sebagai prajurit siswa dan belum dilantik menjadi anggota TNI AD.
Setelah proses autopsi selesai, jenazah diberangkatkan dari RSUD dr Djasamen Saragih menuju kampung halamannya di Kabupaten Nias Barat menggunakan ambulans dengan pengawalan Polisi Militer.
Perjalanan menuju rumah duka menempuh jarak sekitar 350 kilometer melalui jalur darat dan penyeberangan laut. Atas permintaan keluarga, jenazah terlebih dahulu disemayamkan di rumah duka sebelum dimakamkan.
Baca Juga; Viral Dugaan Wedang Ronde Pakai Sisa
Kodam I/BB Akan Melakukan Evaluasi Pembinaan
Menanggapi peristiwa tersebut, Kodam I/Bukit Barisan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban.
Pihak Kodam menegaskan bahwa keselamatan dan pembinaan peserta didik menjadi perhatian utama selama menjalani pendidikan militer.
Selain memastikan proses investigasi berjalan secara transparan, Kodam I/BB juga menyatakan akan menjadikan peristiwa ini sebagai bahan evaluasi terhadap sistem pembinaan, pengawasan, dan pendampingan siswa selama mengikuti pendidikan.
Evaluasi tersebut diharapkan dapat memperkuat mekanisme pembinaan di lingkungan pendidikan TNI AD agar kejadian serupa tidak kembali terjadi, sekaligus memastikan seluruh peserta didik memperoleh pengawasan yang optimal selama menjalani masa pendidikan.
