Berita

Kabut Asap Karhutla Indonesia Meluas ke Malaysia, Menlu Tata Ungkap Upaya Penanganan

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra dan Kalimantan kembali menjadi perhatian negara-negara tetangga. Penyebaran asap hingga Malaysia dan Singapura dilaporkan mengganggu aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan belajar di sejumlah sekolah yang terpaksa dihentikan sementara karena kualitas udara memburuk.

Pemerintah Indonesia merespons situasi tersebut melalui jalur diplomatik. Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir, yang dikenal dengan sapaan Tata, menghubungi Menteri Luar Negeri Malaysia Mohamad Hasan untuk menjelaskan langkah pemerintah dalam menangani kebakaran.

Dalam keterangannya kepada wartawan di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Sabtu (10/10/2026), Tata menyebut Indonesia telah mengerahkan puluhan ribu personel dan armada udara untuk memadamkan api. Meski berbagai upaya dilakukan, kebakaran masih menjadi tantangan akibat kondisi lahan dan cuaca yang mendukung penyebaran api.

Indonesia Kerahkan Puluhan Ribu Personel Tangani Karhutla

Tata menjelaskan bahwa lebih dari 60.000 personel dikerahkan untuk menangani karhutla di sejumlah wilayah. Operasi tersebut didukung helikopter dan pesawat yang digunakan untuk pemadaman dari udara, termasuk melalui teknik water bombing atau pengeboman air.

Data Kementerian Kehutanan juga mencatat puluhan armada udara disiagakan untuk mendukung patroli, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), dan pemadaman. Dalam data yang disampaikan, terdapat 61 armada yang terdiri atas 17 unit untuk patroli dan OMC serta 44 unit untuk pengeboman air.

Penanganan di lapangan melibatkan berbagai unsur, mulai dari Manggala Agni, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), TNI, Polri, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, relawan, hingga pihak swasta.

Langkah yang dilakukan mencakup patroli di kawasan rawan kebakaran, pemadaman langsung, pembuatan sekat bakar, serta pembasahan lahan gambut. Upaya terakhir sangat penting karena api pada lahan gambut dapat bertahan di bawah permukaan tanah meskipun kobaran di bagian atas telah padam.

Oleh sebab itu, petugas perlu terus memeriksa area yang telah ditangani untuk mencegah bara kembali menyala dan memicu kebakaran baru.

Prabowo dan Anwar Ibrahim Bahas Kabut Asap Karhutla

Sebelum komunikasi antara kedua menteri luar negeri berlangsung, persoalan kabut asap juga dibahas Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim.

Pada Kamis (8/10/2026), Anwar menyampaikan bahwa dirinya telah menghubungi Prabowo untuk membicarakan penyebaran asap ke Malaysia dan Singapura. Persoalan tersebut menjadi perhatian karena dapat memengaruhi kesehatan masyarakat dan aktivitas sehari-hari.

Dalam komunikasi itu, kedua pemimpin membahas perlunya langkah untuk menghadapi dampak kabut asap. Malaysia juga menyatakan kesediaannya mendukung upaya penanganan melalui kerja sama dengan Indonesia.

Anwar kemudian meminta Menteri Luar Negeri Malaysia Mohamad Hasan mendorong pertemuan darurat para menteri lingkungan hidup ASEAN. Forum tersebut diharapkan menjadi ruang koordinasi untuk membahas dampak lintas batas dan merumuskan langkah bersama.

Malaysia turut melakukan upaya untuk memperbaiki kondisi udara, termasuk melalui penyemaian awan guna mendorong pembentukan hujan.

Titik Panas Meningkat di Sejumlah Provinsi

Di tengah upaya diplomatik, data pemantauan SiPongi Kementerian Kehutanan menunjukkan peningkatan titik panas di Indonesia. Hingga Sabtu (10/10/2026) pukul 21.00 WIB, tercatat 793 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi secara nasional.

Jumlah tersebut bertambah 356 titik dibandingkan sehari sebelumnya yang mencatat 437 titik.

Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 288 titik, meningkat dari 122 titik. Sumatra Selatan mencatat 60 titik, sedangkan Kalimantan Barat mencapai 44 titik, naik dari 13 titik pada hari sebelumnya.

Kalimantan Selatan juga mengalami peningkatan dari 13 menjadi 28 titik. Sementara itu, Jambi tercatat memiliki satu titik panas dan Riau tidak mencatat titik panas dalam data untuk periode tersebut.

Titik panas merupakan anomali suhu yang terdeteksi melalui pemantauan satelit dan tidak selalu berarti kebakaran telah terkonfirmasi. Karena itu, temuan tersebut perlu diperiksa langsung untuk memastikan lokasi serta tingkat ancamannya.

Sebelumnya, pada Senin (5/10/2026), jumlah titik panas nasional dilaporkan mencapai 1.359 titik. Perubahan angka tersebut menunjukkan bahwa situasi karhutla dapat berkembang dengan cepat dan memerlukan pemantauan berkelanjutan.

Kabut Asap Ganggu Aktivitas Sekolah di Malaysia

Dampak kabut asap dilaporkan terasa di sejumlah wilayah Malaysia. Pada Jumat (9/10/2026), kegiatan belajar di sekolah-sekolah di Kuala Lumpur, Putrajaya, Johor, Melaka, Negeri Sembilan, Pahang, dan Selangor dihentikan sementara akibat memburuknya kualitas udara.

Kebijakan tersebut bertujuan mengurangi paparan asap terhadap siswa, guru, dan tenaga kependidikan.

Malaysia memiliki ketentuan penghentian kegiatan sekolah berdasarkan Indeks Pencemar Udara atau Air Pollutant Index (API). Penutupan dapat diberlakukan ketika indeks melampaui 180 atau berada di atas 150 selama tiga hari berturut-turut.

Dampak pencemaran juga dilaporkan di Singapura. Indeks Standar Pencemar atau Pollutant Standards Index (PSI) untuk periode 24 jam disebut sempat mencapai 181, menjadi tingkat tertinggi sepanjang musim asap 2026 menurut laporan yang dikutip dalam pemberitaan.

Partikel asap dapat menurunkan kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan orang dengan kondisi kesehatan tertentu.

Dampak Kesehatan Juga Menjadi Perhatian

Kabut asap bukan hanya persoalan hubungan antarnegara, tetapi juga ancaman kesehatan bagi masyarakat di wilayah terdampak. Dalam pemberitaan terkait karhutla, Kementerian Kesehatan dilaporkan mencatat lebih dari 170.000 kasus infeksi saluran pernapasan.

Angka tersebut perlu dipahami sesuai cakupan dan periode data yang digunakan. Namun, kondisi itu menegaskan pentingnya perlindungan masyarakat ketika kualitas udara memburuk.

Selain gangguan kesehatan, karhutla dapat mengurangi jarak pandang, menghambat transportasi, serta mengganggu kegiatan ekonomi dan pendidikan.

Masyarakat disarankan membatasi aktivitas luar ruangan saat udara tercemar, menggunakan masker yang sesuai ketika harus berada di luar, serta mengikuti informasi resmi mengenai kualitas udara dari pemerintah dan otoritas kesehatan.

Baca Juga; Konflik Sarwendah dan Ruben Onsu Memanas

Pemerintah Berharap Hujan Membantu Pemadaman

Menlu Tata berharap curah hujan pada Oktober hingga November 2026 dapat membantu meredakan karhutla. Namun, hujan tidak selalu langsung memadamkan api, terutama pada lahan gambut yang memungkinkan bara bertahan di bawah permukaan.

Karena itu, pemadaman perlu disertai pembasahan lahan dan pemantauan lanjutan. Pencegahan kebakaran baru juga membutuhkan pengawasan kawasan rawan, penegakan hukum terhadap pembakaran lahan, serta peningkatan kesiapsiagaan masyarakat.

Komunikasi Indonesia dengan Malaysia dan negara-negara ASEAN diharapkan berjalan seiring dengan tindakan nyata di lapangan. Penanganan karhutla bukan hanya penting untuk mengurangi dampak kabut asap lintas batas, tetapi juga untuk melindungi kesehatan masyarakat dan menjaga lingkungan.

Selama titik panas masih ditemukan, pemerintah dan petugas gabungan perlu terus meningkatkan kewaspadaan agar kebakaran tidak meluas dan kabut asap tidak kembali mengganggu aktivitas masyarakat di dalam maupun luar negeri.

Catatan sebelum publikasi: Verifikasi kembali data titik panas, jumlah personel, angka kasus kesehatan, dan informasi penutupan sekolah melalui sumber resmi terbaru.

Related posts

Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026, Taklukkan Thailand Lewat Adu Penalti

dewapbn

Selamat Jalan, Sempurna, Orang Utan yang Kalah Melawan Asap Karhutla

dewapbn

Kpk Ingatkan Kepala Tempat Baru Wajib Lapor Lhkpn, Batas Final 20 Mei

Dolirena