Berita

Anggota TNI Mengamuk Bawa Sajam di Mataram, Sejumlah Warga Terluka

Warga di kawasan Udayana dan Karang Baru, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), dikejutkan oleh aksi seorang anggota TNI aktif yang mengamuk sambil membawa senjata tajam pada Kamis pagi (22/10/2026). Insiden tersebut menyebabkan sejumlah warga terluka dan memicu keresahan di lingkungan permukiman.

Aksi itu menjadi perhatian setelah rekaman videonya tersebar di media sosial. Dalam video tersebut, seorang pria terlihat mengacungkan senjata tajam dan mengancam warga serta pengguna jalan. Situasi semakin menegangkan ketika pria itu naik ke atap rumah warga, membuat masyarakat berusaha menjauh untuk menghindari bahaya.

Pihak Kodim 1606/Mataram kemudian menyampaikan bahwa prajurit tersebut diduga mengalami gangguan kesehatan mental berupa skizofrenia paranoid. Ia telah dibawa ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Mutiara Sukma untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Di tengah proses penanganan medis tersebut, korban meminta agar kejadian ditangani secara transparan. Kodim 1606/Mataram menyatakan akan menanggung biaya pengobatan warga yang terluka.

Aksi Berlangsung di Kawasan Permukiman

Video yang diunggah akun Instagram @buntungcees memperlihatkan seorang pria mengenakan baju merah, celana jeans biru, dan helm putih sambil membawa senjata tajam. Rekaman berdurasi sekitar satu menit 22 detik itu menunjukkan pria tersebut mengancam warga di sekitarnya dan menghadang pengguna jalan.

Aksi tersebut mengganggu aktivitas masyarakat pada pagi hari, termasuk warga yang hendak berangkat bekerja. Ketegangan meningkat ketika pria itu naik ke atap rumah. Sejumlah warga dilaporkan memilih bertahan di dalam rumah karena khawatir menjadi sasaran serangan.

Peristiwa itu disebut terjadi di Kelurahan Karang Baru, Kecamatan Selaparang, dengan keresahan turut dirasakan masyarakat di kawasan Udayana.

Ketua Badan Konsultasi dan Bantuan Hukum Universitas Mataram (BKBH Unram), Joko Jumadi, menyampaikan bahwa salah satu korban diserang ketika keluar ke teras rumah setelah mendengar keributan. Korban yang bermaksud mengetahui sumber suara tersebut justru dikejar dan diserang menggunakan senjata tajam yang diduga berupa golok.

Seorang mahasiswi yang tinggal di indekos kawasan Udayana, Susi, mengaku takut kejadian serupa terulang. Warga lainnya, Dewi, juga meminta aparat mengambil langkah agar tidak ada lagi masyarakat yang menjadi korban.

Jumlah Korban dan Kondisi Luka

Sejumlah warga dilaporkan mengalami luka pada bagian tubuh, termasuk kepala dan lengan. Namun, jumlah korban yang diberitakan belum seragam. Laporan detikBali menyebutkan empat orang menjadi korban dan tiga di antaranya harus menjalani rawat inap. Sementara itu, Suara NTB melaporkan tiga orang diduga menjadi korban pembacokan.

Salah satu korban yang memperoleh pendampingan BKBH Unram masih dirawat di Rumah Sakit Umum Provinsi Nusa Tenggara Barat (RSUP NTB). Dua korban lainnya juga disebut telah menghubungi lembaga bantuan hukum tersebut untuk mendapatkan pendampingan.

Joko Jumadi menyebut, berdasarkan informasi yang diterimanya dari pihak korban, kejadian tersebut diduga bukan kali pertama terjadi. Insiden pada Kamis pagi itu diklaim sebagai peristiwa keempat yang melibatkan prajurit yang sama.

Meski demikian, riwayat kejadian sebelumnya masih perlu ditelusuri melalui pemeriksaan dan dokumentasi resmi. Kepastian mengenai jumlah korban, kronologi, serta hubungan dengan peristiwa terdahulu diperlukan untuk menentukan langkah penanganan selanjutnya.

Kodim Ungkap Dugaan Gangguan Kesehatan Mental

Kodim 1606/Mataram membenarkan bahwa pria yang terlibat dalam insiden tersebut merupakan anggota TNI aktif di satuannya. Sejumlah pemberitaan menyebut prajurit itu berinisial Lettu B.

Pasi Intel Kodim 1606/Mataram, Mayor Arh Lalu Dedy Junaidi, mengatakan prajurit tersebut telah dibawa ke RSJ Mutiara Sukma untuk menjalani pemeriksaan. Sementara itu, Pasi Pers Kodim 1606/Mataram, Mayor Cpl Annas, menyampaikan bahwa berdasarkan informasi medis yang diterima pihaknya, prajurit tersebut mengalami skizofrenia paranoid.

Skizofrenia merupakan gangguan kesehatan mental serius yang dapat memengaruhi cara seseorang berpikir dan mempersepsikan keadaan. Namun, kondisi setiap pasien berbeda sehingga diagnosis dan penanganannya harus didasarkan pada pemeriksaan profesional.

Mayor Dedy juga membantah kabar di media sosial yang menghubungkan insiden tersebut dengan judi online. Ia mengimbau masyarakat agar tidak langsung mempercayai informasi yang belum terverifikasi.

Dari pihak Denpom IX/2 Mataram, Kapten Cpm I Wayan Syaputra menyebut prajurit tersebut sebelumnya telah memiliki surat keterangan gangguan jiwa dari rumah sakit jiwa dan dilaporkan mengalami kekambuhan.

Status kedinasannya disebut belum resmi diakhiri. Satuan terkait tengah mengurus pengajuan pensiun dini berdasarkan kondisi yang dilaporkan. Namun, keputusan akhir tetap memerlukan pemeriksaan dan mengikuti mekanisme administrasi yang berlaku di lingkungan TNI.

Korban Meminta Penanganan Transparan

Joko Jumadi meminta agar kasus tersebut ditangani secara tegas dan transparan. Menurutnya, dugaan gangguan kesehatan mental pada prajurit tidak boleh membuat penderitaan korban terabaikan.

Ia juga menyoroti pentingnya evaluasi dan pencegahan apabila memang terdapat riwayat gangguan kesehatan berulang. Penilaian terhadap kemampuan prajurit menjalankan tugas dinilai penting untuk mengurangi risiko kejadian serupa.

Meski begitu, pertanggungjawaban pidana seseorang yang diduga mengalami gangguan jiwa harus ditentukan melalui proses pemeriksaan yang tepat. Diagnosis yang diberitakan tidak dengan sendirinya menentukan kesimpulan hukum. Proses pidana juga berbeda dari pemeriksaan disiplin maupun administrasi militer.

Di sisi lain, korban tetap membutuhkan perawatan, pendampingan hukum, dan kejelasan mengenai penanganan laporan mereka.

Baca Juga; Razia WNA di Kalibata City Jadi Sorotan

Kodim Siap Menanggung Biaya Pengobatan

Kodim 1606/Mataram menyatakan akan menanggung biaya pengobatan warga yang terluka akibat insiden tersebut. Langkah ini diharapkan dapat membantu korban dan keluarga selama menjalani perawatan.

Sementara itu, prajurit yang bersangkutan masih menjalani pemeriksaan di RSJ Mutiara Sukma dan evaluasi terkait status kedinasannya. Warga di kawasan Udayana dan Karang Baru pun menunggu kejelasan mengenai hasil pemeriksaan medis serta tindak lanjut penanganan kasus.

Peristiwa ini menegaskan pentingnya respons cepat terhadap ancaman keselamatan di lingkungan permukiman. Penanganan medis, pemeriksaan hukum, dan evaluasi kedinasan perlu berjalan sesuai kewenangan masing-masing, dengan tetap memperhatikan hak korban.

Kejelasan hasil pemeriksaan dan langkah pencegahan selanjutnya diharapkan dapat membantu memulihkan rasa aman warga sekaligus mencegah terulangnya insiden serupa.

Related posts

KPK Tetapkan Empat Tersangka dalam OTT Pemalang, Dugaan Pemerasan Libatkan Pejabat Daerah hingga Oknum Internal

dewapbn

Pukat Ugm Dorong Kejagung Keluarkan Red Notice Untuk Eks Stafsus Nadiem

Dolirena

IHSG Anjlok 8 Persen, Wacana Penurunan Status MSCI Picu Kekhawatiran Investor

dewapbn