Harga minyak mentah dunia yang terus bergerak di atas US$100 per barel mulai memberikan tekanan terhadap harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi di Indonesia. Pertamax menjadi salah satu produk yang berpotensi terdampak apabila kondisi pasar minyak global masih bertahan pada level tinggi.
Direktur Pemasaran Ritel PT Pertamina Patra Niaga, Eko Ricky Susanto, menyebut harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax dan Pertamina Dex secara teoritis dapat berada di rentang Rp18 ribu hingga Rp20 ribuan per liter jika harga minyak dunia tidak kunjung turun.
Pernyataan itu disampaikan Eko dalam media gathering di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, Jumat, 11 September 2026. Ia mengatakan hingga saat ini belum terlihat sinyal kuat bahwa harga minyak mentah global akan segera kembali ke level yang lebih rendah.
Meski demikian, kemungkinan tersebut belum dapat diartikan sebagai keputusan Pertamina untuk menaikkan harga Pertamax hingga Rp20 ribu per liter. Harga BBM nonsubsidi masih akan melalui evaluasi dengan mempertimbangkan berbagai kondisi ekonomi.
Harga Pertamax Saat Ini Masih Rp15.950 per Liter

Untuk saat ini, harga Pertamax dengan Research Octane Number (RON) 92 masih dipatok Rp15.950 per liter di wilayah dengan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) sebesar 5 persen, termasuk DKI Jakarta.
Pertamina masih mempertahankan harga tersebut meskipun harga minyak mentah dunia mengalami lonjakan. Kebijakan harga BBM tidak hanya bergantung pada satu indikator, tetapi juga mempertimbangkan kondisi keekonomian dan kemampuan masyarakat dalam menghadapi perubahan harga.
Karena itu, angka Rp18 ribu hingga Rp20 ribuan yang disebut Pertamina lebih menggambarkan potensi harga apabila tekanan dari pasar minyak global berlangsung dalam waktu lebih lama.
Kondisi harga minyak hingga akhir September akan menjadi salah satu hal penting yang menentukan arah evaluasi harga BBM nonsubsidi berikutnya.
Produk BBM Nonsubsidi Lain Sudah Mengalami Kenaikan
Sebelum Pertamax berubah harga, sejumlah produk BBM nonsubsidi Pertamina justru sudah mengalami penyesuaian sejak awal September 2026.
Pertamax Turbo RON 98 mengalami kenaikan dari Rp18.300 menjadi Rp19.600 per liter. Sementara itu, Pertamax Green 95 naik dari Rp16.600 menjadi Rp19.150 per liter.
Kenaikan yang lebih tinggi terjadi pada jenis BBM diesel. Harga Dexlite berubah dari Rp19.700 menjadi Rp23.700 per liter. Pertamina Dex juga naik dari Rp21.150 menjadi Rp25.200 per liter.
Perubahan harga tersebut menjadi gambaran bahwa kenaikan harga minyak mentah global mulai memberikan tekanan terhadap sejumlah produk BBM nonsubsidi.
Berbeda dengan BBM nonsubsidi, harga BBM yang memperoleh subsidi pemerintah masih belum mengalami perubahan. Pertalite tetap dijual Rp10.000 per liter, sedangkan Biosolar berada di level Rp6.800 per liter.
Apabila harga BBM nonsubsidi semakin mendekati Rp20 ribu, jarak antara harga BBM nonsubsidi dan BBM subsidi tentu akan semakin lebar. Hal tersebut dapat menjadi pertimbangan bagi masyarakat dalam mengatur pengeluaran transportasi sehari-hari.
Gejolak Timur Tengah Jadi Perhatian Pasar Energi
Salah satu faktor yang mendorong kenaikan harga minyak dunia saat ini adalah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya yang berkaitan dengan keamanan di sekitar Selat Hormuz.
Eko menilai dampak konflik di kawasan tersebut terhadap pasar energi global bahkan lebih berat dibandingkan tekanan yang muncul ketika perang Rusia-Ukraina pecah.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis dalam perdagangan energi internasional. Letaknya di antara Iran dan Oman menjadikan kawasan tersebut sebagai salah satu jalur penting bagi pengiriman minyak dari Timur Tengah ke berbagai pasar dunia.
Gangguan terhadap jalur tersebut dapat memicu kekhawatiran pasar mengenai kelancaran pasokan minyak. Risiko terhadap kapal tanker maupun fasilitas energi juga dapat mendorong pelaku pasar menaikkan harga minyak karena adanya kekhawatiran mengenai pasokan global.
Meningkatnya risiko keamanan pelayaran di kawasan tersebut ikut mengganggu aktivitas kapal pengangkut komoditas. Situasi ini kemudian memperbesar kekhawatiran bahwa gangguan pasokan energi dapat meluas dan berdampak pada pasar internasional.
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak mentah global pada akhirnya dapat memengaruhi biaya pengadaan BBM. Tekanan tersebut kemudian menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan harga BBM nonsubsidi di dalam negeri.
Brent dan WTI Tembus di Atas US$100
Tekanan terhadap pasar minyak semakin terlihat setelah dua harga minyak acuan dunia kembali berada di atas US$100 per barel.
Pada perdagangan Jumat, 11 September 2026, harga minyak Brent meningkat sekitar US$1,05 atau 1 persen menjadi US$108,68 per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik sekitar 95 sen atau 1 persen ke level US$103,45 per barel.
Kenaikan tersebut melanjutkan lonjakan yang terjadi sehari sebelumnya. Saat itu, harga Brent dan WTI sama-sama mengalami kenaikan lebih dari 6 persen.
Dalam periode satu pekan, kedua harga acuan tersebut telah melonjak hampir 13 persen. Pergerakan ini menunjukkan besarnya tekanan yang sedang terjadi di pasar minyak global.
Level tersebut juga jauh dari kisaran harga minyak yang sebelumnya diharapkan Pertamina. Perusahaan sebelumnya memperkirakan kondisi harga minyak yang lebih ideal berada di sekitar US$60-US$70 per barel.
Semakin tinggi harga minyak dibandingkan kisaran tersebut, semakin besar pula tantangan untuk menjaga harga BBM nonsubsidi agar tetap terjangkau.
Rupiah dan Faktor Lain Ikut Menentukan Harga BBM

Meski harga minyak mentah menjadi faktor penting, penentuan harga BBM nonsubsidi tidak hanya ditentukan oleh pergerakan minyak dunia.
Nilai tukar rupiah, pajak daerah, biaya pengadaan, serta kondisi ekonomi dan sosial juga menjadi bagian dari pertimbangan dalam menentukan harga akhir BBM yang dibayar masyarakat.
Artinya, kenaikan harga minyak dunia tidak secara otomatis membuat harga Pertamax langsung naik ke level tertentu. Masih terdapat proses evaluasi yang mempertimbangkan berbagai faktor sebelum keputusan harga ditetapkan.
Hal inilah yang membuat potensi Pertamax menembus Rp20 ribu per liter belum dapat disebut sebagai kepastian.
Baca Juga; Apartemen di Gading Serpong Jadi Markas Judi Online
Pertamax Rp20 Ribu Masih Berupa Potensi
Dengan kondisi saat ini, harga Pertamax Rp20 ribu per liter masih merupakan kemungkinan, bukan harga yang sudah diputuskan Pertamina.
Apabila harga minyak mentah dunia tetap berada di atas US$100 per barel dan tekanan geopolitik di Timur Tengah berlanjut, ruang kenaikan harga BBM nonsubsidi tetap terbuka.
Bagi konsumen, kondisi tersebut perlu diantisipasi karena kenaikan harga BBM dapat langsung meningkatkan biaya mobilitas, terutama bagi masyarakat yang menggunakan kendaraan setiap hari.
Pengendara dapat mulai meningkatkan efisiensi penggunaan bahan bakar dengan menjaga tekanan ban, melakukan perawatan kendaraan secara berkala, serta menghindari akselerasi dan pengereman yang berlebihan. Penggunaan transportasi umum untuk perjalanan tertentu juga dapat menjadi pilihan untuk menekan pengeluaran.
Namun, efisiensi tidak berarti mengganti BBM dengan jenis beroktan lebih rendah secara sembarangan. Kendaraan tetap sebaiknya menggunakan bahan bakar sesuai rekomendasi pabrikan agar performa dan kondisi mesin tetap terjaga.
Dengan demikian, perkembangan harga minyak global dalam beberapa pekan mendatang akan menjadi salah satu penentu penting bagi harga Pertamax. Jika tekanan pasar mereda, harga BBM dapat tetap bertahan. Sebaliknya, jika harga minyak terus tinggi, potensi penyesuaian harga BBM nonsubsidi semakin terbuka.
