Berita

Pitbull Lepas dari Ikatan Serang Bocah 9 Tahun di Bandung, Korban Harus Jalani Operasi

Kejadian mengerikan menimpa seorang anak perempuan berusia 9 tahun di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Bocah yang masih duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar tersebut menjadi korban serangan anjing pitbull ketika sedang bermain di depan rumah.

Peristiwa itu terjadi pada Minggu, 23 Agustus 2026 sekitar pukul 17.08 WIB di Komplek Grand Cendana Residence, Desa Wargaluyu, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung.

Serangan berlangsung secara tiba-tiba dan terekam kamera CCTV. Rekaman tersebut kemudian beredar di media sosial dan memperlihatkan kepanikan warga ketika berusaha menyelamatkan korban.

Anjing yang menyerang diketahui sempat terlepas dari ikatan sebelum masuk ke kawasan permukiman. Korban mengalami luka cukup serius di bagian kepala hingga harus mendapatkan perawatan medis dan menjalani operasi.

Anjing Masuk ke Kompleks Setelah Lepas dari Ikatan

Berdasarkan informasi kepolisian, anjing yang menyerang korban bukan merupakan hewan peliharaan warga di kompleks tersebut. Anjing itu diketahui milik seorang pria berinisial F (40) yang tinggal di luar kawasan perumahan.

Pada Minggu sore, F sedang menjemur anjing tersebut. Hewan itu ditempatkan dalam kondisi terikat pada sebuah patok.

Namun, untuk alasan yang masih didalami, ikatan tersebut kemudian terlepas. Anjing pun keluar dari lokasi dan berjalan hingga memasuki kawasan Grand Cendana Residence.

Pada saat yang bersamaan, korban sedang bermain di luar rumah. Anjing tersebut kemudian mendekati korban dan serangan terjadi secara tiba-tiba.

Korban tidak sempat menghindar ketika anjing mulai menyerang. Suara jeritan dan tangisan anak tersebut kemudian membuat warga di sekitar lokasi keluar untuk melihat kejadian.

Situasi pun berubah menjadi kepanikan. Warga berusaha menghentikan serangan dan menyelamatkan korban yang masih berada dalam jangkauan anjing.

Warga Lempar Benda untuk Hentikan Serangan

Rekaman CCTV di sekitar lokasi memperlihatkan upaya warga ketika berusaha menolong korban. Karena anjing masih agresif, warga tidak bisa langsung mendekat dan mengambil anak tersebut.

Sejumlah warga kemudian menggunakan benda-benda yang tersedia di sekitar lokasi dan melemparkannya ke arah anjing. Cara tersebut dilakukan untuk mengalihkan perhatian hewan hingga akhirnya gigitan dapat dilepaskan.

Setelah anjing berhasil dijauhkan dari korban, warga segera mengamankan anak tersebut.

Orang tua korban kemudian bersama pemilik anjing membawa korban untuk mendapatkan pertolongan medis. Luka yang dialami korban cukup serius, terutama pada bagian kepala.

Kapolsek Pameungpeuk Kompol Asep Dedi membenarkan adanya kejadian tersebut. Polisi menyatakan perhatian utama setelah insiden adalah memastikan korban mendapatkan penanganan medis.

“Ya ada luka di bagian kepala. Jadi sekarang tengah fokus dalam penanganan korban,” ujar Asep Dedi saat dikonfirmasi pada Senin, 24 Agustus 2026.

Korban Jalani Operasi di Rumah Sakit

Setelah dievakuasi, korban mendapatkan perawatan di RSUD Welas Asih. Luka pada bagian kepala dilaporkan membutuhkan tindakan medis lebih lanjut.

Korban kemudian menjalani operasi pada Senin dini hari untuk menangani luka akibat serangan tersebut.

Selain tindakan pembedahan, korban juga mendapatkan vaksin rabies. Pemberian vaksin disebut dilakukan melalui Puskesmas Ciparay sebagai bagian dari penanganan setelah gigitan anjing.

Gigitan hewan perlu segera mendapat pemeriksaan medis karena kondisi hewan yang menyerang dan status vaksinasi rabiesnya menjadi informasi penting dalam menentukan langkah penanganan.

Pertolongan pertama setelah gigitan juga perlu dilakukan sesegera mungkin. Area yang terkena gigitan dapat dicuci menggunakan air mengalir dan sabun sebelum korban dibawa ke fasilitas kesehatan.

Masyarakat tidak dianjurkan menunggu munculnya gejala untuk mendapatkan pertolongan. Pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan luka ditangani dengan tepat dan risiko penyakit yang mungkin ditularkan dapat diantisipasi.

Polisi Periksa Saksi dan Pemilik Anjing

Setelah menerima laporan mengenai kejadian tersebut, polisi mendatangi lokasi untuk melakukan pemeriksaan.

Sejumlah saksi dimintai keterangan guna mengetahui kronologi serangan. Polisi juga menggali informasi mengenai pemilik anjing dan bagaimana hewan tersebut dapat terlepas dari ikatan.

Salah satu hal yang masih menjadi perhatian adalah sistem pengamanan yang digunakan ketika anjing tersebut dijemur. Penyidik perlu memastikan apakah terdapat kelalaian yang menyebabkan hewan bisa keluar dari area pemeliharaan.

Status hukum pemilik anjing dan langkah selanjutnya terkait hewan tersebut masih dalam proses pendalaman.

Kasus ini menjadi perhatian karena serangan berlangsung di kawasan permukiman yang menjadi tempat warga beraktivitas, termasuk anak-anak.

Pemilik Hewan Punya Tanggung Jawab

Insiden tersebut juga mengingatkan bahwa memelihara hewan bukan hanya soal memberi makan dan merawat kesehatan. Pemilik memiliki tanggung jawab memastikan hewan tidak membahayakan orang lain.

Secara hukum, kelalaian dalam menjaga hewan dapat menimbulkan konsekuensi apabila menyebabkan orang lain mengalami kerugian atau bahaya.

KUHP baru melalui Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 yang berlaku sejak 2 Januari 2026 mengatur persoalan kelalaian dalam memelihara hewan yang dapat membahayakan orang lain.

Selain ketentuan pidana, terdapat pula aspek perdata. Pasal 1368 KUH Perdata mengatur tanggung jawab pemilik atau pihak yang menggunakan hewan terhadap kerugian yang ditimbulkan oleh hewan tersebut.

Karena itu, pengamanan hewan, khususnya anjing berukuran besar dengan kekuatan fisik tinggi, perlu dilakukan secara serius. Tali atau ikatan saja tidak selalu cukup apabila tidak sesuai dengan ukuran dan karakter hewan.

Penggunaan kandang, pagar yang aman, serta perlengkapan pengendalian ketika berada di ruang terbuka dapat menjadi bagian dari upaya pencegahan.

Baca Juga; Dari Taipan Properti Hingga Penjara Seumur Hidup

Kasus Serangan Anjing terhadap Anak Pernah Terjadi

Kejadian di Kabupaten Bandung bukan satu-satunya kasus serangan anjing terhadap anak yang terjadi di Jawa Barat.

Pada akhir Januari 2026, dua anak bersaudara di Kelurahan Warung Muncang, Kecamatan Bandung Kulon, dilaporkan menjadi korban serangan anjing. Salah satu dari lima anjing yang berada di sebuah gang padat penduduk menyerang kedua anak tersebut.

Kasus itu kemudian diselesaikan melalui mediasi antara keluarga korban dan pemilik anjing.

Peristiwa lainnya terjadi di Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Seorang siswi sekolah dasar berusia 7 tahun dilaporkan mengalami luka setelah dikepung sejumlah anjing liar ketika sedang dalam perjalanan pulang sekolah.

Rangkaian kasus tersebut menunjukkan bahwa pengawasan terhadap hewan di kawasan permukiman tidak bisa dianggap sepele.

Pengamanan Anjing Perlu Diperhatikan

Pemilik anjing, terutama yang memelihara ras berukuran besar, perlu memastikan hewan tidak dapat keluar dari area yang telah ditentukan.

Kandang dan pagar yang kokoh dapat digunakan sebagai pengamanan tambahan. Ketika anjing dibawa ke ruang terbuka, penggunaan tali kekang yang sesuai juga perlu diperhatikan.

Moncong atau muzzle dapat digunakan pada kondisi tertentu sesuai kebutuhan dan karakter hewan. Vaksinasi rabies juga perlu dilakukan secara rutin dengan catatan kesehatan yang tersimpan dengan baik.

Pelatihan perilaku sejak dini juga dapat membantu pemilik mengendalikan hewan. Hal ini semakin penting apabila tempat tinggal berada di lingkungan yang ramai dan banyak anak-anak.

Sementara itu, orang tua juga perlu mengingatkan anak agar tidak mendekati anjing yang berkeliaran tanpa pengawasan.

Jika melihat hewan yang menunjukkan perilaku agresif, anak sebaiknya menjauh dan mencari bantuan orang dewasa.

Keselamatan Korban Jadi Prioritas

Serangan pitbull di Grand Cendana Residence menjadi pengingat bahwa kelalaian dalam mengamankan hewan peliharaan dapat berujung pada konsekuensi serius.

Dalam kasus ini, korban yang masih berusia 9 tahun mengalami luka di bagian kepala hingga membutuhkan operasi dan penanganan medis lanjutan.

Polisi masih mendalami kronologi serta tanggung jawab pihak terkait. Sementara itu, perhatian utama diarahkan pada pemulihan korban.

Peristiwa tersebut juga menjadi pelajaran bagi pemilik hewan agar tidak meremehkan sistem pengamanan. Hewan yang terlepas dapat bergerak tanpa terkendali dan membahayakan siapa pun yang berada di sekitarnya.

Dengan pengawasan yang lebih ketat, perlengkapan pengamanan yang memadai, serta kesadaran pemilik terhadap lingkungan sekitar, risiko kejadian serupa diharapkan dapat diminimalkan.

Related posts

Spesies Baru di Amazon Peru: Keajaiban Keanekaragaman

Dolirena

Perang Klaim Penembakan di Yahukimo: OPM Sebut Korban Mata-Mata, TNI Tegaskan Mereka Warga Sipil

dewapbn

Pengantin Baru Di Lombok Gantung Diri Gegara Istri Main Tiktok

Dolirena