Berita

‘Tanah Airku’ Menggema di Sudirman, Begini Penutup Aksi Mahasiswa “Merebut Kemerdekaan”

Sehari setelah peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, ratusan mahasiswa turun ke jalan dalam aksi bertajuk “Merebut Kemerdekaan” di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Selasa (18/8/2026). Aksi tersebut membawa sejumlah tuntutan, mulai dari persoalan ekonomi, demokrasi, kebijakan pemerintah, hingga penanganan bencana di sejumlah wilayah.

Demonstrasi berlangsung lebih dari empat jam. Massa yang sejak siang bergerak dari kawasan Universitas Indonesia (UI) menuju pusat Jakarta tidak dapat mencapai Bundaran Hotel Indonesia (HI), yang menjadi titik tujuan awal. Perjalanan mereka terhenti di depan Gedung UOB setelah polisi memasang barikade untuk membatasi pergerakan massa.

Meski tidak berhasil mencapai titik akhir, mahasiswa tetap menyampaikan aspirasi melalui orasi dan poster. Menariknya, suasana menjelang pembubaran justru berubah menjadi lebih tenang. Ratusan mahasiswa berdiri bersama dan menyanyikan lagu “Tanah Airku” karya Ibu Sud.

Setelah itu, mereka melanjutkan dengan “Bella Ciao” dan “Di Udara” milik Efek Rumah Kaca sebelum meninggalkan kawasan Sudirman secara bertahap.

Aksi Bermula dari Kampus UI, Massa Bergerak ke Sudirman

Massa mulai berkumpul sekitar pukul 13.50 WIB di Lapangan FISIP UI, Depok. Dari lokasi tersebut, mahasiswa berencana bergerak menuju Bundaran HI untuk menyampaikan tuntutan di salah satu kawasan strategis Jakarta.

Perjalanan menuju pusat kota tidak berlangsung mulus. BEM UI sebelumnya menyewa 24 unit Kopaja untuk mengangkut peserta aksi. Namun, menurut pihak mahasiswa, kendaraan tersebut tidak kunjung tiba karena para sopir diduga mengalami intimidasi.

Mahasiswa kemudian mencari alternatif dengan menggunakan angkutan umum lainnya. Kendaraan yang mereka tumpangi juga sempat dihentikan aparat. Akhirnya, peserta aksi melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki hingga mencapai kawasan Sudirman.

Setibanya di depan Gedung UOB, rombongan kembali tertahan. Polisi telah menempatkan barikade untuk mencegah massa bergerak menuju Bundaran HI. Sebelumnya, Polda Metro Jaya memang melarang demonstrasi digelar di kawasan Bundaran HI dengan alasan kawasan tersebut merupakan pusat aktivitas ekonomi dan transportasi Jakarta.

Polisi menawarkan lokasi lain, termasuk kawasan parlemen, sebagai alternatif penyampaian aspirasi. Namun, mahasiswa tetap memilih kawasan Sudirman sebagai lokasi aksi.

Walaupun tidak mencapai Bundaran HI, mahasiswa menilai tujuan utama demonstrasi tetap berjalan. Orasi dilakukan secara bergantian dari mobil komando, sementara peserta membentangkan spanduk dan poster yang memuat kritik terhadap berbagai kebijakan pemerintah.

Delapan Tuntutan Mahasiswa dalam Aksi “Merebut Kemerdekaan”

Koordinator lapangan aksi, Hafidz Hernanda, menyebut terdapat delapan tuntutan utama yang disampaikan mahasiswa. Salah satunya adalah seruan untuk menghentikan apa yang mereka sebut sebagai bentuk penjajahan negara terhadap rakyat sendiri.

Mahasiswa juga menuntut penurunan harga kebutuhan pokok dan bahan bakar minyak. Menurut mereka, kebijakan ekonomi harus mampu mengurangi beban masyarakat, terutama dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Tuntutan lainnya menyangkut pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), serta pelaksanaan reforma agraria. Mereka menilai persoalan ketimpangan penguasaan tanah masih menjadi masalah yang membutuhkan perhatian serius.

Mahasiswa turut menolak pemusatan kekuasaan dan meminta pemerintah menghentikan pemangkasan Transfer ke Daerah (TKD) serta memperkuat kembali otonomi daerah.

Selain itu, mereka mendesak adanya evaluasi terhadap Proyek Strategis Nasional (PSN), sekaligus menyerukan penghentian program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

Persoalan keterlibatan TNI dan Polri di ruang sipil juga menjadi perhatian. Mahasiswa meminta intervensi aparat di ruang sipil dihentikan, termasuk pembangunan batalyon teritorial di sejumlah daerah.

Tuntutan terakhir berkaitan dengan bencana di Sumatra dan Flores/NTT. Mereka meminta pemerintah menetapkan status bencana nasional sekaligus mempercepat pemulihan bagi masyarakat terdampak.

Hafidz menilai sejumlah kebijakan pemerintah menunjukkan kecenderungan pemusatan kewenangan di tingkat pusat. Ia bahkan membandingkannya dengan pola pemerintahan pada masa Orde Baru.

Aksi Sempat Ganggu Jalur Transjakarta

Secara keseluruhan, demonstrasi berlangsung relatif tertib. Namun, ketegangan sempat terjadi ketika sebagian peserta menutup jalur Transjakarta selama sekitar 20 menit.

Penutupan tersebut menyebabkan sejumlah bus tertahan. Polisi kemudian berupaya membuka kembali jalur agar kendaraan umum dapat melintas. Dalam proses tersebut terjadi aksi saling dorong antara aparat dan sejumlah mahasiswa.

Situasi kemudian mereda setelah orator dari mobil komando meminta massa tidak terprovokasi. Mahasiswa kembali melanjutkan penyampaian aspirasi dari depan barikade polisi.

Dampak demonstrasi juga terasa pada lalu lintas Jalan Sudirman. Kendaraan yang bergerak dari arah Sudirman menuju Bundaran HI dialihkan sebelum kawasan Stasiun MRT Dukuh Atas. Layanan Transjakarta yang melintasi lokasi aksi juga sempat dihentikan.

Di tengah demonstrasi, sejumlah peserta membawa poster yang menyinggung kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus. Serangan yang terjadi di kawasan Salemba pada 12 Maret 2026 tersebut menyebabkan luka bakar sekitar 24 persen pada bagian kanan tubuhnya, termasuk wajah, dada, tangan, dan mata.

Polisi Amankan 21 Orang Selama Pengamanan Aksi

Kepolisian menyatakan 21 orang diamankan melalui langkah preventif dan edukatif selama rangkaian pengamanan demonstrasi. Polisi juga melaporkan menemukan sejumlah barang, seperti petasan, flare, serta botol yang diduga dapat digunakan untuk membuat bom molotov.

Selain itu, petugas menemukan senjata tajam. Sebilah pisau disebut ditemukan dari seorang mahasiswa berinisial AM, sementara sebuah golok ditemukan di dalam mobil ambulans yang melintas di sekitar lokasi.

Polisi masih mendalami tujuan serta keterkaitan barang-barang tersebut dengan aksi. BEM UI membantah bahwa temuan senjata tajam tersebut berasal dari massa mereka. Mereka juga menyatakan pihak yang membawa barang tersebut bukan mahasiswa UI.

Pada Rabu (19/8/2026), polisi menyebut seluruh 21 orang yang sempat diamankan telah dipulangkan. Kepolisian menegaskan pendekatan pencegahan dan edukasi menjadi langkah utama, sementara proses hukum dilakukan apabila ditemukan pelanggaran.

Untuk mengamankan rangkaian aksi di Jakarta, lebih dari 9.000 personel dikerahkan.

Baca Juga; Kapal Asing Dicegat di Bengkalis

“Tanah Airku” Jadi Lagu Penutup di Tengah Sudirman

Setelah lebih dari empat jam berada di kawasan Sudirman, massa membubarkan diri sekitar pukul 18.10 WIB. Sebelum meninggalkan lokasi, mereka berdiri bersama dan menyanyikan “Tanah Airku”.

Momen tersebut menjadi salah satu bagian paling menonjol dari demonstrasi. Setelah lagu bernuansa nasionalisme itu selesai, mahasiswa melanjutkan dengan “Bella Ciao” dan “Di Udara” sebelum akhirnya meninggalkan lokasi.

Ketua BEM Fakultas Hukum UI, Dimas, menyatakan mahasiswa tidak menutup kemungkinan kembali menggelar aksi dengan jumlah massa dan eskalasi lebih besar apabila pemerintah tidak memberikan respons terhadap tuntutan mereka.

Pemilihan tanggal 18 Agustus, sehari setelah peringatan kemerdekaan, juga memiliki makna tersendiri bagi mahasiswa. Kemerdekaan tidak hanya dipandang sebagai perayaan, tetapi juga sebagai ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan kritik dan mempertanyakan arah perjalanan bangsa.

Aksi tersebut menjadi bagian dari rangkaian gerakan mahasiswa yang sebelumnya telah berlangsung pada Juni 2026. Selain BEM UI, demonstrasi turut melibatkan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi dan organisasi, termasuk Politeknik Negeri Jakarta, IPB, serta Front Mahasiswa Nasional.

Setelah massa meninggalkan lokasi, Jalan Sudirman kembali dibuka. Barikade polisi dibongkar dan arus kendaraan berangsur normal.

Di antara gedung-gedung tinggi dan lalu lintas Jakarta, lantunan “Tanah Airku” menjadi penutup yang mencolok. Bagi para mahasiswa, peringatan kemerdekaan bukan hanya tentang seremoni, tetapi juga tentang menyuarakan kritik dan mempertanyakan bagaimana kemerdekaan seharusnya diwujudkan dalam kehidupan masyarakat.

Related posts

Prabowo Luncurkan Sppg Polri Dukung Mbg Di Hari Bhayangkara Ke-79

Dolirena

Truk Bermuatan Galon Diduga Alami Rem Blong, Kecelakaan Beruntun di Sibolangit Libatkan Sembilan Kendaraan

dewapbn

Jubir Baru Komisi Pemberantasan Korupsi Tessa Mahardhika Milik Harta Rp 1,1 M

Dolirena