Kebakaran lahan kembali terjadi di Kota Semarang pada musim kemarau tahun ini. Kali ini, kobaran api melanda lahan kosong yang berada di seberang kawasan Bukit Teletubbies Tembalang, Rabu (22/7/2026), dan menghanguskan hamparan rumput serta ilalang kering. Peristiwa tersebut sempat membuat warga sekitar waswas karena api bergerak cukup cepat dan dikhawatirkan menjalar ke kawasan permukiman.
Meski tidak menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan rumah warga, kejadian ini kembali menunjukkan tingginya risiko kebakaran lahan selama musim kemarau. Vegetasi yang mengering membuat api mudah menyebar hanya dalam waktu singkat, sehingga membutuhkan penanganan cepat dari petugas pemadam kebakaran.
Kobaran Api Melanda Lahan Kosong di Kawasan Tembalang

Kebakaran terjadi di lahan kosong yang berada tidak jauh dari kawasan Bukit Teletubbies Tembalang, salah satu area yang dikenal masyarakat karena hamparan padang rumputnya. Siang itu, cuaca yang panas disertai angin membuat api dengan cepat meluas ke berbagai bagian lahan.
Asap hitam pekat terlihat membumbung tinggi dari lokasi kebakaran dan dapat disaksikan dari berbagai titik di sekitar kawasan Tembalang. Warga yang melintas pun sempat berhenti untuk melihat kondisi di lokasi karena kobaran api tampak cukup besar.
Ketika petugas dan awak media tiba sekitar pukul 14.00 WIB, sebagian besar rumput serta ilalang telah habis terbakar. Hamparan lahan yang sebelumnya dipenuhi vegetasi berubah menjadi tanah gosong berwarna hitam.
Sementara itu, personel Dinas Pemadam Kebakaran Kota Semarang masih melakukan proses pendinginan di sejumlah titik. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan tidak ada bara api yang tersisa dan berpotensi memicu kebakaran kembali setelah proses pemadaman selesai.
Beruntung, api berhasil dikendalikan sebelum mencapai area permukiman yang berada tidak terlalu jauh dari lokasi kejadian.
Warga Cemas Api Terus Membesar
Kebakaran tersebut sempat menimbulkan kepanikan warga yang tinggal maupun beraktivitas di sekitar lokasi.
Salah seorang warga, Sumini (62), mengaku menjadi salah satu orang pertama yang melihat kobaran api. Saat itu dirinya baru membuka lapak es yang berada sekitar 100 meter dari lokasi kebakaran.
Menurutnya, api mulai terlihat berkobar sekitar pukul 10.00 WIB. Dari kejauhan, ia melihat nyala api perlahan membesar dan terus merambat di antara ilalang yang sudah mengering akibat musim kemarau.
Kondisi itu membuatnya khawatir karena api tampak semakin meluas. Ia juga mengaku sempat cemas lantaran suaminya belum mengetahui adanya kebakaran di sekitar lokasi.
Meski begitu, Sumini memilih tetap berada di sekitar lapaknya sambil memantau perkembangan situasi. Kekhawatirannya mulai berkurang ketika beberapa mobil pemadam kebakaran tiba di lokasi untuk melakukan penanganan.
Ia bahkan membantu petugas dengan menunjukkan jalur tercepat menuju titik api melalui akses yang melewati area pemakaman sehingga proses pemadaman dapat dilakukan lebih cepat.
Sebagian Warga Baru Mengetahui Setelah Polisi Datang
Pengalaman berbeda dirasakan Listiani (65), warga lainnya yang tinggal di kawasan tersebut.
Ia mengaku tidak langsung menyadari adanya kebakaran karena rumahnya berada cukup jauh dari lokasi kejadian. Dari tempat tinggalnya, ia hanya melihat kepulan asap hitam tanpa mengetahui sumbernya secara pasti.
Baru setelah melihat sejumlah personel kepolisian berdatangan menuju lokasi, ia menyadari bahwa telah terjadi kebakaran lahan dengan skala cukup besar.
Perbedaan pengalaman kedua warga tersebut menunjukkan bahwa titik kebakaran berada di lahan kosong yang luas sehingga dampaknya tidak dirasakan secara sama oleh seluruh masyarakat di sekitar kawasan.
Meski demikian, sebagian besar warga tetap memilih memantau situasi dari kejauhan hingga proses pemadaman selesai dilakukan.
Musim Kemarau Tingkatkan Risiko Kebakaran Lahan

Kebakaran di sekitar Bukit Teletubbies Tembalang bukan menjadi satu-satunya kejadian yang terjadi selama musim kemarau tahun ini.
Dalam beberapa pekan terakhir, Dinas Pemadam Kebakaran Kota Semarang mencatat peningkatan signifikan jumlah kebakaran lahan, terutama pada area kosong yang dipenuhi rumput ilalang dan tumpukan sampah kering.
Data yang dimiliki dinas menunjukkan bahwa sepanjang Januari hingga Mei 2026 rata-rata hanya terjadi sekitar 11 hingga 12 kejadian kebakaran setiap bulan.
Namun, situasi berubah drastis ketika memasuki bulan Juni. Jumlah kebakaran meningkat hingga mencapai 44 kejadian dalam satu bulan.
Tren tersebut berlanjut pada Juli 2026. Hingga tanggal 20 Juli saja, jumlah kebakaran telah mendekati 50 kasus atau rata-rata lebih dari dua kejadian setiap hari.
Peningkatan tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah karena sebagian besar kebakaran terjadi pada lahan terbuka yang dipenuhi vegetasi kering.
Baca Juga; Trump Ancam Serang Fasilitas Nuklir Iran
Rumput Ilalang Kering Jadi Pemicu Api Mudah Menyebar
Sekretaris Dinas Pemadam Kebakaran Kota Semarang, Ade Bhakti Ariawan, sebelumnya menjelaskan bahwa cuaca kering selama musim kemarau menjadi salah satu faktor utama meningkatnya jumlah kebakaran.
Kondisi rumput dan ilalang yang kehilangan kadar air membuat api dapat menjalar dengan sangat cepat, terlebih apabila disertai angin.
Sementara itu, Kepala Bidang Operasional dan Penyelamatan Damkar Kota Semarang, Tantri Pradono, menyampaikan bahwa sebagian besar kejadian yang mereka tangani bukan merupakan kebakaran hutan, melainkan kebakaran lahan kosong yang dipenuhi rumput ilalang dan sampah.
Hingga pertengahan Juli 2026, sedikitnya 48 kasus kebakaran rumput dan sampah telah ditangani di berbagai wilayah Kota Semarang.
Wilayah Tembalang menjadi salah satu kawasan dengan jumlah kejadian terbanyak dalam beberapa waktu terakhir, disusul Kecamatan Ngaliyan dan Genuk.
Penyebab Kebakaran Masih Diselidiki
Hingga kini penyebab pasti kebakaran di sekitar Bukit Teletubbies masih dalam penyelidikan.
Meski demikian, dugaan sementara mengarah pada aktivitas manusia. Sejumlah faktor yang kerap memicu kebakaran saat musim kemarau antara lain pembakaran sampah, pembakaran rumput untuk membersihkan lahan, hingga puntung rokok yang dibuang sembarangan.
Pada kondisi vegetasi yang sangat kering, percikan api sekecil apa pun dapat berkembang menjadi kebakaran yang sulit dikendalikan apabila tidak segera ditangani.
Karena itu, masyarakat diminta lebih berhati-hati saat melakukan aktivitas di lahan terbuka selama musim kemarau berlangsung.
Keterbatasan Armada Jadi Tantangan Damkar
Di tengah meningkatnya jumlah kejadian kebakaran, Dinas Pemadam Kebakaran Kota Semarang juga menghadapi tantangan dari sisi operasional.
Pada tahun 2026, lima unit armada pemadam untuk sementara tidak dioperasikan sebagai dampak kebijakan efisiensi anggaran.
Meski demikian, pemerintah memastikan kendaraan tersebut tetap mendapatkan perawatan rutin agar sewaktu-waktu dapat digunakan kembali apabila diperlukan.
Dari total anggaran sekitar Rp41 miliar yang dimiliki dinas, sebagian besar digunakan untuk belanja pegawai yang mencakup sekitar 330 personel beserta gaji dan tunjangannya.
Sementara sekitar Rp6,5 miliar dialokasikan untuk kebutuhan operasional, perawatan kendaraan, serta pengadaan perlengkapan penanggulangan kebakaran.
Pemerintah Kota Semarang juga telah mengajukan kajian agar armada yang terdampak efisiensi dapat kembali dioperasikan sehingga kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau semakin optimal.
Peristiwa kebakaran di dekat Bukit Teletubbies Tembalang menjadi pengingat bahwa kewaspadaan masyarakat memiliki peran penting dalam mencegah kebakaran lahan. Warga diimbau tidak membakar sampah maupun rumput di area terbuka, menghindari membuang puntung rokok sembarangan, serta segera melaporkan apabila melihat asap atau tanda-tanda kebakaran. Dengan langkah pencegahan yang dilakukan bersama, risiko meluasnya kebakaran selama musim kemarau diharapkan dapat ditekan sehingga keselamatan masyarakat maupun lingkungan tetap terjaga.
