Berita

Rekayasa Kehamilan 10 Bulan Terbongkar, Pasutri di Bontang Kubur Bantal dan Guling

BONTANG, KALIMANTAN TIMUR – Warga Kota Bontang dibuat terkejut oleh peristiwa pemakaman bayi yang ternyata merupakan rekayasa sepasang suami istri. Pasangan berinisial AR dan DN diketahui membuat cerita palsu mengenai kehamilan hingga kematian seorang bayi. Untuk meyakinkan keluarga dan warga, keduanya bahkan menyiapkan bungkusan menyerupai jenazah bayi yang ternyata hanya berisi bantal dan guling.

Kasus tersebut terungkap setelah warga mencurigai isi bungkusan kain kafan yang hendak dimakamkan. Peristiwa yang terjadi pada Rabu (28/10/2026) di Kelurahan Loktuan, Kecamatan Bontang Utara, itu kemudian menjadi perhatian publik setelah video pembongkaran bungkusan beredar luas di media sosial.

Sebelumnya, AR mengaku telah menjalani kehamilan selama kurang lebih 10 bulan. Kepada keluarganya, ia kemudian menyampaikan kabar bahwa bayi yang dikandungnya meninggal dunia ketika proses persalinan. Cerita tersebut dipercaya oleh keluarga hingga mereka mempersiapkan pemakaman.

Kecurigaan Warga Membongkar Kebohongan

Kabar meninggalnya bayi membuat keluarga dan warga sekitar turut berduka. Sejumlah warga bersama tokoh agama setempat kemudian membantu mempersiapkan prosesi pemakaman. Sebuah bungkusan yang dibalut kain kafan disiapkan dan dianggap sebagai jenazah bayi pasangan tersebut.

Namun, sebelum prosesi pemakaman dilaksanakan, beberapa warga mulai merasa ada kejanggalan. Mereka kemudian meminta agar bungkusan tersebut dibuka terlebih dahulu untuk memastikan isinya.

Permintaan itu akhirnya mengungkap fakta yang tidak terduga. Saat kain kafan dibuka, tidak ditemukan jasad bayi seperti yang sebelumnya dikabarkan. Bungkusan tersebut justru berisi bantal dan guling berwarna merah muda.

Penemuan itu membuat warga yang berada di lokasi terkejut. Pemakaman yang semula dipersiapkan sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada seorang bayi ternyata merupakan bagian dari cerita palsu yang dibuat pasangan tersebut.

Video Viral Sempat Kaitkan Kasus dengan RS Yabis

Terbongkarnya kejadian tersebut semakin ramai diperbincangkan setelah rekaman pembukaan kain kafan tersebar melalui media sosial, terutama Facebook. Video itu memperlihatkan warga berkumpul ketika bungkusan yang hendak dimakamkan dibuka dan diketahui tidak berisi jenazah bayi.

Di tengah penyebaran video tersebut, muncul spekulasi yang mengaitkan kejadian dengan dugaan penukaran bayi di RS Yabis Bontang. Informasi tersebut membuat nama rumah sakit ikut menjadi perhatian masyarakat.

Menanggapi kabar yang berkembang, Polres Bontang melakukan penelusuran untuk memastikan kebenaran peristiwa tersebut. Polisi memeriksa keterangan mengenai kehamilan dan persalinan AR sekaligus menelusuri dugaan keterlibatan pihak rumah sakit.

Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa AR ternyata tidak pernah tercatat sebagai pasien RS Yabis Bontang. Ia juga tidak pernah memperoleh pelayanan persalinan di fasilitas kesehatan tersebut.

Kanit Pidum Polres Bontang, Ipda Putra Ginting, menjelaskan kepada Kompas.com bahwa kehamilan yang selama ini diklaim AR tidak pernah terjadi. Demikian pula bayi yang disebut meninggal ketika persalinan, karena faktanya tidak pernah ada proses kelahiran.

Dengan demikian, dugaan penukaran bayi yang sempat beredar di masyarakat tidak terbukti berdasarkan hasil pemeriksaan kepolisian.

Takut Mendapat Penilaian Negatif dari Keluarga

Polisi kemudian mengungkap alasan di balik tindakan pasangan tersebut. Kasi Humas Polres Bontang, Dany Purwantoro, menyampaikan bahwa AR dan DN terlibat dalam rekayasa cerita mengenai kehamilan hingga kematian bayi.

Salah satu alasan yang melatarbelakangi tindakan tersebut adalah kekhawatiran AR terhadap penilaian keluarga. Ia takut dianggap tidak mampu hamil atau tidak bisa memberikan keturunan.

Kekhawatiran itu diduga mendorong AR menciptakan cerita bahwa dirinya sedang mengandung. Kebohongan tersebut kemudian berlanjut hingga muncul pengakuan bahwa ia telah melahirkan seorang bayi yang akhirnya meninggal dunia.

Untuk membuat ceritanya terlihat meyakinkan, pasangan tersebut menyiapkan bungkusan kain kafan berisi bantal dan guling. Bungkusan itu kemudian diperlakukan seolah-olah merupakan jenazah bayi yang akan dimakamkan.

Dalam video klarifikasi yang beredar, AR mengaku bahwa gagasan membuat cerita tersebut berasal dari dirinya sendiri. Ia juga menyampaikan penyesalan atas perbuatannya. Sementara itu, keterangan kepolisian menyebutkan bahwa rekayasa tersebut dilakukan bersama suaminya, DN.

Baca Juga; RANS Carnival Terdampak Seruan Boikot

Pasutri Sampaikan Permintaan Maaf

Setelah kebohongan tersebut terungkap, Polres Bontang memfasilitasi pertemuan antara AR dan DN, keluarga dari kedua belah pihak, serta perwakilan manajemen RS Yabis.

Pertemuan tersebut dilakukan untuk memberikan penjelasan mengenai kejadian sebenarnya sekaligus menyelesaikan persoalan yang telanjur berkembang di masyarakat.

Dalam kesempatan itu, AR dan DN menyampaikan permintaan maaf atas cerita palsu mengenai kehamilan dan kematian bayi yang telah mereka sampaikan. Keduanya juga meminta maaf kepada keluarga dan warga Bontang yang sempat dibuat resah.

Permintaan maaf turut disampaikan kepada pihak RS Yabis karena rumah sakit tersebut ikut terseret dalam isu dugaan penukaran bayi. Padahal, hasil pemeriksaan polisi menunjukkan bahwa AR tidak pernah menjalani persalinan di fasilitas kesehatan tersebut.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa informasi yang beredar di media sosial perlu diperiksa kebenarannya sebelum dipercaya atau disebarluaskan. Tuduhan yang tidak didukung bukti dapat merugikan individu maupun lembaga yang namanya ikut disebutkan.

Selain itu, persoalan pribadi yang disembunyikan melalui kebohongan berpotensi berkembang menjadi masalah yang melibatkan banyak pihak. Kekhawatiran terhadap penilaian keluarga akhirnya membuat pasangan tersebut menciptakan cerita yang berdampak pada keluarga, masyarakat, hingga reputasi fasilitas kesehatan.

Hingga informasi ini disusun, belum terdapat keterangan lebih lanjut mengenai perkembangan proses hukum terhadap AR dan DN. Kepolisian telah memastikan bahwa cerita kehamilan selama 10 bulan dan kematian bayi tersebut merupakan rekayasa.

Related posts

Empat Jasad Ditemukan dalam Tiga Hari di Jeju, Ratusan Kasus Orang Hilang Kini Diperiksa

dewapbn

Video Pegawai SPPG Dlingo Viral, BGN Beri Teguran Usai Singgung Korban MBG

dewapbn

Iseng Bakar Lalang Saat Menunggu Galon, Dua Remaja di Belitung Timur Diamankan Polisi

dewapbn