Kecelakaan beruntun yang melibatkan tiga mobil jenis SUV terjadi di Jalan Gubernur Syarkawi, Desa Terantang, Kecamatan Mandastana, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, pada Minggu, 11 Oktober 2026. Insiden tersebut diduga berkaitan dengan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mengurangi jarak pandang pengemudi.
Peristiwa ini menjadi perhatian karena asap kebakaran tidak hanya berdampak pada kesehatan dan aktivitas masyarakat, tetapi juga dapat meningkatkan risiko kecelakaan di jalan raya. Ketika pandangan terhalang asap pekat, pengemudi akan lebih sulit mengenali kendaraan lain, kondisi permukaan jalan, maupun hambatan di depannya.
Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam kecelakaan tersebut. Namun, ketiga kendaraan mengalami kerusakan cukup parah, terutama pada sejumlah bagian bodi. Kondisi ini memperlihatkan pentingnya kewaspadaan saat berkendara di wilayah yang terdampak kabut asap.
Asap Tebal Ganggu Pandangan Pengendara

Keterangan warga menyebutkan bahwa asap sudah menyelimuti kawasan Jalan Gubernur Syarkawi pada Minggu pagi. Asap yang diduga berasal dari kebakaran lahan di sekitar lokasi membuat pandangan pengendara menjadi terbatas.
Salah seorang warga setempat bernama Umi mengungkapkan bahwa kondisi tersebut membahayakan pengguna jalan. Keterangan itu dikutip dari pemberitaan iNews.id.
Dalam situasi dengan jarak pandang rendah, pengemudi berisiko terlambat mengetahui ketika kendaraan di depan mengurangi kecepatan atau berhenti. Apabila jarak antarkendaraan terlalu dekat, waktu untuk mengerem menjadi semakin terbatas sehingga benturan lebih sulit dihindari.
Kondisi tersebut diduga menjadi salah satu faktor dalam kecelakaan yang melibatkan tiga mobil SUV. Meski demikian, penyebab pasti insiden tetap perlu mengacu pada hasil pemeriksaan pihak berwenang.
Kerusakan kendaraan yang dilaporkan cukup parah menjadi pengingat bahwa berkendara di tengah asap pekat memerlukan perhatian ekstra. Pengemudi tidak cukup hanya mengandalkan kecepatan rendah, tetapi juga harus memastikan jarak aman dan mempertimbangkan apakah perjalanan masih layak dilanjutkan.
Jalan Gubernur Syarkawi Perlu Diwaspadai
Jalan Gubernur Syarkawi menjadi salah satu jalur yang digunakan masyarakat untuk menunjang perjalanan dan aktivitas sehari-hari. Ketika asap menutupi kawasan tersebut, kelancaran lalu lintas dapat terganggu sekaligus meningkatkan potensi kecelakaan.
Pengguna jalan yang melintas perlu menyesuaikan cara berkendara dengan kondisi lingkungan. Mengurangi kecepatan, memperlebar jarak dengan kendaraan di depan, serta menghindari manuver mendadak merupakan langkah dasar yang dapat membantu mengurangi risiko tabrakan.
Pengemudi juga perlu memperhatikan lampu kendaraan dan memastikan kendaraan mudah dikenali oleh pengguna jalan lainnya. Namun, lampu bukan solusi untuk semua kondisi. Apabila asap terlalu tebal hingga jalan sulit terlihat, perjalanan sebaiknya tidak dipaksakan.
Jika harus berhenti, pengendara perlu mencari tempat yang benar-benar aman di luar jalur lalu lintas. Berhenti mendadak di badan jalan justru dapat menimbulkan bahaya tambahan bagi kendaraan yang datang dari belakang.
Masyarakat yang hendak melintasi kawasan rawan asap juga disarankan memantau informasi kondisi jalan dan kualitas udara sebelum berangkat. Apabila tersedia jalur alternatif yang lebih aman, pilihan tersebut dapat dipertimbangkan.
Ancaman Karhutla Masih Membayangi Kalimantan Selatan
Kecelakaan di Barito Kuala terjadi ketika Kalimantan Selatan masih menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan. Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan sebelumnya menetapkan status Siaga Darurat Karhutla untuk periode 6 Juli hingga 31 Oktober 2026.
Kabupaten Barito Kuala termasuk wilayah yang turut menghadapi ancaman kebakaran tersebut. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Selatan mencatat 1.651 kejadian karhutla hingga 21 Agustus 2026, dengan luas lahan terbakar sekitar 6.905 hektare.
Sementara itu, pada 23 Agustus 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi 696 titik panas di Kalimantan Selatan. Sebanyak 21 titik di antaranya berada di Kabupaten Barito Kuala.
Data tersebut menggambarkan besarnya tantangan penanganan karhutla di wilayah tersebut. Namun, titik panas merupakan indikator yang perlu ditindaklanjuti dengan pemeriksaan lapangan dan tidak selalu berarti setiap titik merupakan kebakaran yang telah terkonfirmasi.
Titik Panas Meningkat, Jarak Pandang Sempat Menurun
Ancaman asap masih menjadi perhatian hingga akhir September 2026. Data Sistem Pemantauan Karhutla atau SiPongi dari Kementerian Kehutanan menunjukkan jumlah titik panas di Kalimantan Selatan meningkat dari enam menjadi 40 titik dalam sehari berdasarkan data per 26 September 2026.
Pada periode yang sama, jarak pandang di Banjarmasin tercatat sekitar 1,7 kilometer. Kondisi ini memperlihatkan bahwa asap karhutla dapat memengaruhi jarak pandang di kawasan permukiman maupun jalur transportasi.
Jumlah titik panas dapat berubah mengikuti kondisi cuaca dan aktivitas kebakaran. Meski demikian, penurunan jumlah titik panas tidak selalu berarti udara langsung kembali bersih. Asap yang telah menyebar masih dapat bertahan atau berpindah mengikuti arah angin.
Karena itu, pemantauan karhutla perlu dilakukan bersamaan dengan pengamatan kualitas udara dan jarak pandang. Wilayah yang tidak memiliki titik api aktif pun tetap berpotensi terdampak asap dari kawasan lain.
Mengapa Kabut Asap Bisa Lebih Pekat pada Pagi Hari?

Pada kondisi atmosfer tertentu, asap dan partikel polutan dapat terkumpul di dekat permukaan tanah ketika pergerakan udara terbatas. Akibatnya, kabut asap bisa terasa lebih pekat pada malam hingga pagi hari.
Ketika matahari mulai meninggi dan kondisi atmosfer berubah, asap dapat berangsur menyebar. Namun, proses tersebut tidak selalu berlangsung cepat karena dipengaruhi cuaca, angin, serta besarnya sumber emisi.
Kondisi ini patut diperhatikan karena pagi hari merupakan waktu ketika aktivitas masyarakat mulai meningkat. Kendaraan pribadi, angkutan umum, perjalanan menuju sekolah, dan distribusi barang sama-sama menggunakan jalan raya pada periode tersebut.
Ketika jarak pandang berkurang, pengemudi dapat terlambat melihat marka jalan, persimpangan, kendaraan yang berhenti, atau objek lain di depan. Oleh sebab itu, kewaspadaan perlu ditingkatkan ketika perjalanan dilakukan di kawasan terdampak asap.
Baca Juga; Threads Maia Estianty Diprivat Usai Dikritik
Langkah Aman Berkendara di Tengah Kabut Asap
Pengendara sebaiknya memeriksa informasi cuaca, kualitas udara, dan kondisi jalan sebelum melakukan perjalanan, terutama jika rute melewati wilayah rawan karhutla.
Apabila tetap harus berkendara, kurangi kecepatan dan jaga jarak aman dengan kendaraan di depan. Hindari menyalip secara terburu-buru karena pandangan yang terbatas membuat kondisi lalu lintas sulit diperkirakan.
Jika jarak pandang memburuk hingga pengemudi tidak dapat melihat jalan dengan aman, menunda perjalanan menjadi pilihan yang lebih bijak. Pengendara dapat berhenti di lokasi aman sambil menunggu kondisi membaik.
Selain langkah keselamatan di jalan, pencegahan karhutla juga perlu menjadi perhatian bersama. Pengawasan wilayah rawan kebakaran, pencegahan pembakaran lahan, serta penanganan titik api sejak dini diperlukan untuk mengurangi sumber asap.
Kecelakaan tiga SUV di Jalan Gubernur Syarkawi menjadi pengingat bahwa dampak karhutla dapat meluas hingga keselamatan transportasi. Karena itu, penanganan kebakaran dan kewaspadaan pengguna jalan perlu berjalan beriringan agar risiko kecelakaan akibat jarak pandang terbatas dapat ditekan.
