Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan kembali menyoroti risiko konflik Rusia-Ukraina berkembang menjadi persoalan keamanan yang lebih luas di Eropa. Menurut Erdogan, sejumlah insiden yang terjadi di sekitar negara-negara anggota NATO menunjukkan bahwa situasi kawasan semakin sensitif.
Pernyataan tersebut disampaikan Erdogan dalam wawancara tertulis dengan Newsweek yang diterbitkan pada Jumat, 25 September 2026. Ia mengatakan Ankara tidak mengabaikan kemungkinan perang Rusia-Ukraina meluas ke kawasan lain dan melibatkan lebih banyak negara.
Erdogan juga menyerukan kehati-hatian dalam merespons berbagai insiden keamanan. Menurutnya, tuduhan terhadap pihak tertentu perlu didukung bukti yang kuat agar sebuah kejadian tidak berkembang menjadi eskalasi yang lebih besar.
Peringatan tersebut muncul ketika negara-negara Eropa meningkatkan perhatian terhadap sejumlah insiden drone, aktivitas militer di Laut Baltik, serta dugaan aksi sabotase dan perang hibrida.
Sejumlah Insiden Terjadi di Wilayah NATO

Kekhawatiran mengenai kemungkinan meluasnya konflik tidak terlepas dari sejumlah kejadian yang berlangsung dalam beberapa pekan terakhir.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah masuknya sebuah drone ke wilayah udara Lithuania pada malam 14 hingga 15 September 2026. Dua jet Eurofighter Italia yang menjalankan misi pertahanan udara NATO kemudian dikerahkan dan menetralkan drone tersebut. Pemerintah Lithuania menyatakan kendaraan udara tanpa awak itu masuk dari arah Belarus dan membawa bahan peledak. Asal serta kepemilikan drone masih menjadi bagian dari penyelidikan.
Peristiwa itu menjadi perhatian karena Lithuania merupakan anggota NATO. Dengan demikian, pelanggaran wilayah udara tersebut terjadi langsung di wilayah salah satu negara anggota aliansi.
Namun, asal drone tidak boleh langsung disimpulkan sebagai tindakan Rusia. Otoritas Lithuania masih melakukan penyelidikan untuk menentukan asal, kepemilikan, serta tujuan penerbangan drone tersebut.
Kehati-hatian dalam menarik kesimpulan inilah yang juga menjadi bagian dari pesan Erdogan ketika membahas situasi keamanan Eropa.
Insiden Kapal Rusia dan Helikopter Denmark
Ketegangan juga muncul di kawasan Laut Baltik. Pada 14 September 2026, sebuah fregat Rusia menembakkan dua suar ke arah helikopter militer Denmark yang sedang melakukan misi pemantauan di perairan internasional dekat Denmark.
Menurut pihak Denmark, salah satu suar melintas dalam jarak sangat dekat dengan helikopter Fennec tersebut. Tidak ada korban dalam kejadian itu. Denmark kemudian memanggil duta besar Rusia untuk menyampaikan keberatan atas insiden tersebut.
Rusia memberikan penjelasan berbeda. Moskow menuding helikopter Denmark melakukan manuver berbahaya di sekitar kapal Rusia dan mengatakan pihaknya akan melakukan penyelidikan.
Perbedaan versi tersebut menunjukkan bagaimana sebuah insiden militer dapat dengan cepat berkembang menjadi persoalan diplomatik, terutama ketika terjadi di kawasan yang memiliki kepentingan strategis bagi Rusia dan negara-negara NATO.
Meski menimbulkan ketegangan, Denmark tidak mengaktifkan mekanisme pertahanan kolektif NATO karena kejadian tersebut tidak merupakan serangan terhadap wilayah Denmark.
Kekhawatiran terhadap Perang Hibrida Meningkat
Selain kejadian yang melibatkan drone dan aset militer, perhatian negara-negara Eropa juga tertuju pada aktivitas yang disebut sebagai perang hibrida.
Istilah tersebut umumnya digunakan untuk menggambarkan berbagai tindakan di bawah ambang perang konvensional, seperti serangan siber, sabotase, disinformasi, gangguan terhadap infrastruktur, serta operasi yang bertujuan memengaruhi atau mengacaukan negara lain.
Pada 24 September 2026, Dinas Intelijen Pertahanan Denmark memperingatkan bahwa Rusia kemungkinan meningkatkan aktivitas perang hibrida terhadap negara-negara Barat dalam beberapa bulan mendatang.
Lembaga tersebut juga menilai terdapat risiko yang rendah tetapi meningkat terhadap kemungkinan serangan militer terbatas Rusia terhadap satu atau beberapa negara NATO yang berbatasan dengan Rusia. Penilaian tersebut mencakup kemungkinan serangan jarak jauh terhadap infrastruktur yang mendukung Ukraina maupun penyusupan terbatas.
NATO sendiri meningkatkan pertukaran informasi intelijen sebagai respons terhadap rangkaian insiden yang diduga berkaitan dengan Rusia. Panglima Tertinggi Sekutu Eropa NATO, Jenderal Alexus Grynkewich, mengatakan aliansi tetap meningkatkan kesiapan menghadapi berbagai ancaman.
Meski demikian, peningkatan kewaspadaan tersebut tidak berarti perang terbuka antara Rusia dan NATO telah terjadi.
Erdogan Dorong Negara Eropa Menahan Diri

Dalam situasi seperti ini, Erdogan menilai setiap insiden perlu ditangani dengan hati-hati. Bagi Ankara, respons yang terburu-buru dapat meningkatkan risiko salah perhitungan dan membuat insiden terbatas berkembang menjadi konfrontasi yang lebih besar.
Pendekatan tersebut sejalan dengan posisi Turki yang selama perang Rusia-Ukraina berusaha mempertahankan jalur komunikasi dengan kedua pihak.
Turki merupakan anggota NATO, tetapi Ankara juga menjaga hubungan dengan Moskow dan Kyiv. Erdogan sebelumnya berulang kali menyatakan bahwa Turki bersedia mendukung upaya diplomatik yang dapat membawa Rusia dan Ukraina kembali ke meja perundingan.
Dalam perkembangan terbaru, Erdogan juga mengatakan Turki ingin membantu membangun mekanisme permanen untuk menjaga keamanan pelayaran komersial di Laut Hitam selama perang masih berlangsung.
Posisi Laut Hitam sangat penting bagi Turki. Selain menjadi kawasan strategis yang berdekatan dengan Rusia dan Ukraina, wilayah tersebut juga berkaitan dengan perdagangan, pelayaran, dan keamanan kawasan.
Turki Tetap Membuka Ruang Diplomasi
Erdogan menempatkan diplomasi sebagai salah satu instrumen untuk mencegah konflik berkembang lebih luas. Ankara sebelumnya telah menjadi salah satu tempat berlangsungnya pembicaraan antara Rusia dan Ukraina serta terlibat dalam sejumlah upaya menjaga komunikasi kedua negara.
Bagi Turki, mempertahankan jalur komunikasi menjadi semakin penting ketika insiden keamanan mulai terjadi di sekitar negara-negara NATO.
Namun, peran Turki juga menghadapi situasi yang kompleks. Ankara tetap menjadi bagian dari aliansi NATO, sementara pada saat yang sama memiliki hubungan bilateral dengan Rusia. Erdogan juga mempertahankan kebijakan luar negeri yang berupaya menjaga hubungan dengan berbagai kekuatan, baik negara-negara Barat maupun negara di kawasan lain.
Baca Juga; Guruh Soekarnoputra Wafat di Usia 73
Konflik Ukraina dan Keamanan Eropa Makin Beririsan
Serangkaian kejadian dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan bagaimana perang Rusia-Ukraina memiliki dampak keamanan yang melampaui medan pertempuran di Ukraina.
Drone yang masuk ke wilayah udara negara NATO, insiden antara aset militer Rusia dan Denmark, serta meningkatnya perhatian terhadap dugaan sabotase membuat negara-negara Eropa memperkuat pengawasan.
Namun, setiap insiden tetap membutuhkan penyelidikan sebelum kesimpulan mengenai pelaku maupun motif dapat ditetapkan. Dalam kasus drone Lithuania, misalnya, pemerintah setempat masih menyelidiki asal dan kepemilikan kendaraan tersebut.
Peringatan Erdogan pada akhirnya menyoroti pentingnya mencegah kesalahan perhitungan. Selama perang Rusia-Ukraina masih berlangsung, insiden di sekitar wilayah NATO berpotensi menjadi persoalan keamanan yang lebih besar jika tidak ditangani secara hati-hati.
Karena itu, Ankara terus menekankan pentingnya bukti, komunikasi, pengendalian diri, dan diplomasi untuk mencegah konflik berkembang menjadi konfrontasi yang melibatkan lebih banyak negara.
