Berita

Jasad Surakman, ABK Kapal Pembawa 5 Jurnalis, Sempat Dimakamkan di Bengkulu

Kabar tentang salah satu dari delapan orang yang hilang bersama KM Arupadhatu 1 di perairan Selat Sunda akhirnya terungkap. Namun, kabar tersebut sekaligus membawa kesedihan bagi keluarga karena orang yang ditemukan ternyata telah meninggal dunia.

Korban diketahui bernama Surakman, seorang anak buah kapal (ABK) KM Arupadhatu 1 yang berangkat bersama lima jurnalis untuk meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. Setelah lebih dari dua pekan sejak kapal dinyatakan hilang kontak, identitas Surakman akhirnya dipastikan melalui pemeriksaan DNA.

Yang membuat kisah ini semakin memilukan, jenazah Surakman ternyata ditemukan bukan di sekitar lokasi terakhir KM Arupadhatu 1 dilaporkan berada. Jasadnya ditemukan ratusan kilometer jauhnya, tepatnya di wilayah Pulau Enggano, Bengkulu.

Sebelum identitasnya diketahui, jenazah tersebut bahkan sempat dimakamkan warga sebagai jenazah tanpa identitas atau Mister X.

KM Arupadhatu 1 Hilang Saat Membawa Lima Jurnalis

Peristiwa bermula pada Senin, 7 September 2026. KM Arupadhatu 1 berangkat dari kawasan dermaga Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten.

Kapal tersebut membawa delapan orang. Lima di antaranya merupakan jurnalis yang hendak melakukan peliputan mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau yang saat itu sedang mengalami erupsi. Selain lima jurnalis, terdapat tiga awak kapal, termasuk Surakman.

Setelah keberangkatan tersebut, komunikasi dengan KM Arupadhatu 1 terputus. Kapal kemudian dilaporkan hilang dan pencarian dilakukan oleh tim SAR gabungan.

Petugas menyisir wilayah perairan Selat Sunda dengan melibatkan berbagai unsur. Pencarian berlangsung selama tujuh hari sesuai prosedur, kemudian diperpanjang selama tiga hari setelah dilakukan evaluasi terhadap perkembangan operasi.

Namun, hingga batas waktu perpanjangan tersebut, belum ditemukan tanda-tanda keberadaan kapal maupun delapan orang yang berada di dalamnya.

Operasi pencarian secara resmi dihentikan pada Kamis, 17 September 2026.

Hingga kini, penyebab hilangnya KM Arupadhatu 1 juga belum diketahui secara pasti. Kapolda Banten Irjen Hengki sebelumnya menegaskan belum dapat memastikan apakah kapal tersebut tenggelam, terbakar, mengalami kecelakaan, atau menghadapi kondisi lain di tengah perjalanan.

Baca : Bocah Kelas 3 SD di Lampung Tengah Meninggal Usai Tersedak Kelengkeng Menu MBG

Jenazah Ditemukan di Pulau Enggano

Di tengah pencarian yang dilakukan di Selat Sunda, sebuah informasi dari wilayah Bengkulu kemudian membuka titik terang.

Pada Sabtu, 12 September 2026, atau sekitar hari kelima pencarian, nelayan menemukan sesosok jenazah di perairan Sawang Bengkok, Desa Kahyapu, Kecamatan Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara.

Lokasi penemuan tersebut berada sekitar 340 kilometer dari titik terakhir KM Arupadhatu 1 dilaporkan hilang kontak.

Ketika ditemukan, kondisi jenazah sudah mengalami pembusukan. Tidak ada identitas yang dapat langsung memastikan siapa korban tersebut. Warga setempat juga tidak mengetahui adanya keluarga yang sedang mencari anggota keluarga yang hilang.

Karena itu, jenazah tersebut kemudian dimakamkan warga sebagai jenazah tanpa identitas atau Mister X.

Informasi mengenai keberadaan jenazah itu kemudian diteruskan kepada pihak kepolisian. Kapolda Banten Irjen Hengki mendapat informasi dari Kapolda Bengkulu mengenai adanya penemuan jenazah tersebut.

Jenazah kemudian dievakuasi dan dibawa ke RS Bhayangkara Polda Bengkulu untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut, termasuk proses autopsi dan pengambilan sampel DNA.

Dari pemeriksaan awal, jenazah diketahui memiliki sejumlah ciri fisik. Korban ditemukan mengenakan celana pendek berwarna hitam, memiliki tinggi sekitar 163 sentimeter, dan pada awalnya diperkirakan berusia sekitar 50 tahun.

Hasil DNA Memastikan Jenazah Adalah Surakman

Untuk memastikan identitas korban, Tim Disaster Victim Identification (DVI) Pusdokkes Polri melakukan pencocokan data.

Pemeriksaan tidak hanya mengandalkan ciri fisik. Tim DVI membandingkan data postmortem jenazah dengan data antemortem yang diperoleh dari keluarga delapan orang yang sebelumnya dilaporkan hilang bersama KM Arupadhatu 1.

Data yang diperiksa antara lain sidik jari, karakteristik gigi, hingga DNA keluarga.

Hasil pemeriksaan genetik akhirnya memberikan kepastian. Jenazah yang sebelumnya dimakamkan sebagai Mister X di Pulau Enggano tersebut dipastikan merupakan Surakman.

Surakman diketahui merupakan ayah biologis Yayat. Dalam informasi terbaru, usia Surakman disebut mencapai 60 tahun.

Kepastian tersebut kemudian disampaikan kepada keluarga. Yayat mendapat kabar mengenai hasil identifikasi pada Selasa malam, 22 September 2026.

Saat ditemui di Polda Banten, Yayat terlihat menahan tangis. Di tengah duka karena kehilangan sang ayah, ia menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah terlibat dalam pencarian.

Jenazah Surakman direncanakan dipulangkan ke keluarga pada Kamis, 24 September 2026 melalui Bandara Soekarno-Hatta.

Tujuh Korban Lain Masih Belum Ditemukan

Teridentifikasinya Surakman menjadi titik terang dalam kasus hilangnya KM Arupadhatu 1. Namun, kabar tersebut sekaligus menunjukkan bahwa masih ada tujuh orang lainnya yang hingga kini belum diketahui keberadaannya.

Kepala Kantor SAR Banten Al Amrad menyatakan operasi pencarian resmi tidak kembali dibuka. Keputusan tersebut diambil setelah pencarian dan masa perpanjangan tidak menemukan petunjuk baru yang dapat mengarahkan tim kepada korban lainnya.

Meski operasi resmi dihentikan, pemantauan tetap dilakukan melalui penyebaran informasi kepada kapal-kapal yang melintas.

Basarnas menyampaikan e-broadcast dan maklumat pelayaran melalui berbagai jaringan, termasuk Vessel Traffic Service (VTS), stasiun radio pantai, nelayan, hingga masyarakat pesisir. Wilayah pemantauan juga diperluas hingga kawasan pesisir Lampung.

Sampai saat ini, belum ada laporan baru mengenai penemuan korban lainnya.

Keputusan untuk tidak melanjutkan operasi pencarian mendapat perhatian dari komunitas pers. Pewarta Foto Indonesia (PFI) meminta agar pencarian terhadap lima jurnalis yang berada di KM Arupadhatu 1 kembali dibuka.

Sementara itu, Kapolda Banten Irjen Hengki memilih tidak berspekulasi mengenai kemungkinan lokasi korban lainnya. Termasuk mengenai dugaan bahwa kapal dan para penumpangnya dapat terbawa arus hingga wilayah yang sangat jauh.

Gunung Anak Krakatau Masih Perlu Diwaspadai

Di tengah proses pencarian dan identifikasi korban, aktivitas Gunung Anak Krakatau juga tetap menjadi perhatian.

Gubernur Banten Andra Soni berharap tujuh korban yang masih hilang dapat segera ditemukan. Ia juga mengingatkan masyarakat agar tetap mengikuti ketentuan keselamatan di sekitar kawasan gunung api tersebut.

Masyarakat diminta tidak mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius 2 kilometer dari kawah aktif. Meskipun status aktivitas gunung telah berada pada Level II atau Waspada, potensi bahaya dari lontaran material erupsi masih perlu diperhitungkan.

Penemuan Surakman di Pulau Enggano juga memperlihatkan betapa luasnya kemungkinan pergerakan korban di wilayah perairan. Jarak sekitar 340 kilometer dari titik terakhir kapal diketahui membuat proses pencarian menjadi jauh lebih kompleks.

Kini, keluarga Surakman setidaknya telah mendapatkan kepastian mengenai nasib orang yang mereka tunggu. Namun, bagi keluarga tujuh orang lainnya, penantian masih terus berlangsung tanpa jawaban pasti mengenai keberadaan anggota keluarga mereka.

Related posts

Trump Ancam Serang Pickaxe Mountain, Fasilitas Nuklir Iran yang Disebut Kebal Bom Penembus Bunker

dewapbn

Dapur MBG Sukorejo 2 Blora Disanksi Berat, Kepala SPPG Dicopot Usai Ratusan Warga Sakit

dewapbn

Tiga Pegawai Pertanian Jayawijaya Tewas Ditembak, Rombongan Sempat Dihadang Kelompok Bersenjata

dewapbn