Berita

Menembus Perut KM Virgo, Penyelam Temukan Banyak Jasad di Kamar Penumpang

KM Virgo

Sepuluh hari setelah KM Virgo Transport 8 terbalik di perairan Masalembo, Laut Jawa, operasi pencarian korban memasuki fase yang semakin sulit. Tim SAR gabungan kini tidak hanya menyisir permukaan laut, tetapi juga berupaya masuk ke bagian dalam bangkai kapal yang masih berada di bawah permukaan.

Dalam penyelaman yang dilakukan tim gabungan, sejumlah jasad ditemukan berada di kamar-kamar penumpang. Sebagian korban diduga tidak sempat menyelamatkan diri ketika kapal mulai terbalik sehingga terjebak di dalam ruangan.

Kondisi bangkai kapal yang terbalik membuat proses evakuasi tidak mudah. Penyelam harus mencari akses yang memungkinkan untuk masuk ke bagian dalam kapal. Bahkan, kaca jendela pada sejumlah kamar harus dipecahkan agar tim dapat menjangkau ruangan yang sulit dimasuki melalui jalur normal.

Selain ruang yang gelap dan sempit, penyelam juga menghadapi arus bawah laut serta kondisi kapal yang tidak sepenuhnya stabil. Karena itu, setiap proses masuk ke dalam bangkai kapal harus dilakukan secara hati-hati untuk mencegah risiko terhadap keselamatan personel.

Operasi tersebut melibatkan Basarnas Special Group, Kopaska, Pangkoarmada II TNI AL, PT Jasalindo, serta sejumlah unsur terkait lainnya.

Fokus Pencarian Bergeser ke Dalam Bangkai Kapal

Temuan jasad di dalam kapal membuat strategi pencarian mengalami perubahan. Pada tahap awal, tim SAR lebih banyak melakukan penyisiran di permukaan laut untuk mencari korban yang kemungkinan terlepas dari kapal dan terbawa arus.

Kini, bagian dalam KM Virgo Transport 8 menjadi salah satu titik utama pencarian. Kamar penumpang, baik kelas ekonomi maupun eksekutif, diperiksa secara bertahap. Setiap kompartemen harus ditelusuri untuk memastikan tidak ada korban yang masih tertinggal.

Kepala Kantor SAR Kelas A Banjarmasin sekaligus SAR Mission Coordinator, I Putu Sudayana, mengatakan penyelam telah berusaha melakukan evakuasi terhadap beberapa korban pada Selasa (22/9). Namun, proses tersebut belum seluruhnya berjalan sesuai rencana.

Beberapa jasad yang ditemukan telah dipasangi tali agar dapat ditarik keluar dari bangkai kapal. Namun, upaya tersebut menghadapi kendala karena diduga terdapat korban yang posisinya terjepit oleh bagian kapal maupun benda lain di dalam ruangan.

“Sepertinya ada korban kejepit di dalam kapal,” ujar Putu dalam konferensi pers di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, Selasa malam.

Situasi tersebut membuat proses evakuasi membutuhkan penanganan lebih dari sekadar menarik jasad menggunakan tali. Penyelam harus memastikan terlebih dahulu posisi korban, kondisi ruangan, serta benda-benda yang menghalangi jalur keluar.

Langkah ini penting agar korban dapat dievakuasi tanpa menimbulkan risiko tambahan bagi penyelam yang bekerja di ruang terbatas.

Baca ; Minta Uang untuk Pengobatan Anak, Istri Tikam Suami ASN hingga Tewas

Sebanyak 34 Penyelam Dikerahkan

Operasi penyelaman kembali dilanjutkan pada Rabu (23/9). Sebanyak 34 penyelam dari unsur Basarnas dan TNI AL dikerahkan untuk mendukung proses pencarian serta evakuasi korban dari dalam kapal.

Dari jumlah tersebut, 22 penyelam berasal dari TNI AL, sedangkan 12 lainnya merupakan personel Basarnas. KRI Nala dari Pangkoarmada II Surabaya juga kembali dilibatkan untuk memperkuat operasi di sekitar lokasi kecelakaan.

Kondisi cuaca dan gelombang menjadi faktor penting dalam menentukan aktivitas penyelaman. Tim membutuhkan perairan yang cukup tenang agar penyelam dapat bekerja dengan aman dan memiliki waktu yang memadai di bawah permukaan.

Berdasarkan perkiraan BMKG, tinggi gelombang di sekitar lokasi pencarian berada pada kisaran 0,5 hingga 1,5 meter. Kondisi tersebut masih memungkinkan kegiatan operasi, meski keselamatan penyelam tetap menjadi prioritas.

Pencarian di permukaan juga tidak dihentikan. Tim tetap menyisir kawasan sekitar lokasi kapal ditemukan karena masih terdapat kemungkinan korban terlepas dari bangkai kapal dan terbawa arus.

Dengan demikian, operasi saat ini berlangsung di dua area utama, yakni bagian dalam kapal dan perairan di sekitar lokasi kecelakaan.

KM Virgo Hilang Kontak dalam Perjalanan Surabaya-Banjarmasin

KM Virgo Transport 8 sebelumnya berangkat dari Surabaya menuju Banjarmasin pada Sabtu (12/9). Berdasarkan manifes, kapal tersebut membawa 243 orang.

Sekitar pukul 02.00 Wita pada Minggu (13/9), kapal dilaporkan hilang kontak ketika berada di wilayah Laut Jawa. Tidak lama setelah itu, kapal ditemukan dalam kondisi terbalik di perairan Masalembo.

Dugaan awal menyebut kapal sempat menghadapi kondisi cuaca buruk sebelum kecelakaan terjadi. Namun, penyebab pasti kapal sampai terbalik masih menjadi bagian dari proses penyelidikan dan penanganan pihak terkait.

Salah satu penumpang yang selamat, Faisal Weskurni, menceritakan kondisi ketika kecelakaan berlangsung. Pria berusia 25 tahun asal Kabupaten Bandung Barat tersebut sedang melakukan perjalanan seorang diri menuju Kalimantan Tengah untuk bekerja di perkebunan kelapa sawit.

Kepada Republika, Faisal mengatakan sempat mendengar suara seperti ledakan dari sisi kiri kapal sebelum badan kapal mulai miring. Ia juga mengaku tidak mendengar alarm peringatan ketika situasi mulai berubah.

Dalam keadaan panik, Faisal mengambil pelampung dan berusaha menyelamatkan diri dengan menuju bagian atas kapal. Ia memperkirakan tinggi gelombang ketika kejadian mencapai sekitar 2,5 hingga 3 meter.

Faisal kemudian berhasil selamat dan telah kembali ke rumahnya di Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat. Kesaksiannya menjadi salah satu gambaran mengenai situasi yang dialami penumpang ketika kapal mengalami kecelakaan.

19 Orang Meninggal, 116 Masih Dicari

Hingga Rabu (23/9) pukul 09.00 Wita, Basarnas mencatat 108 orang berhasil ditemukan dalam kondisi selamat. Sebanyak 19 orang dinyatakan meninggal dunia, sementara 116 lainnya masih dalam pencarian.

Jumlah tersebut berasal dari total 243 orang yang tercatat dalam manifes KM Virgo Transport 8.

Pada Selasa pagi, penyelam berhasil mengevakuasi tiga jasad dari dalam bangkai kapal. Temuan tersebut membuat jumlah korban meninggal menjadi 18 orang. Kemudian pada Selasa sore, seorang nelayan menemukan kembali jasad laki-laki yang mengapung di laut.

Jasad tersebut selanjutnya dibawa ke RS Bhayangkara Banjarmasin untuk menjalani proses identifikasi.

Pencarian juga diperluas dengan mengerahkan KN SAR Pacitan menuju lokasi terakhir kapal diketahui. Kapal tersebut berangkat sekitar pukul 06.20 Wita dengan membawa 97 personel gabungan.

Sejumlah peralatan selam dan satu perahu karet dari TB Jaya Dragon turut dipindahkan untuk mendukung operasi penyelaman serta pencarian di permukaan.

Sementara itu, proses identifikasi jenazah terus dilakukan oleh Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Kalimantan Selatan di RS Bhayangkara Banjarmasin.

Tim DVI masih menangani sembilan jenazah yang telah berada di rumah sakit sejak Minggu (20/9). Tujuh korban di antaranya ditemukan di dalam badan kapal, sedangkan dua lainnya ditemukan terdampar di perairan Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, sebelum dievakuasi warga.

Polri menyebut sembilan korban meninggal lainnya telah berhasil diidentifikasi dan diserahkan kepada keluarga masing-masing untuk dimakamkan.

Dengan masih adanya 116 orang yang belum ditemukan, operasi SAR KM Virgo Transport 8 masih menghadapi tantangan besar. Pencarian kini semakin diarahkan ke bagian dalam bangkai kapal, terutama kamar-kamar penumpang yang diduga masih menyimpan korban.

Setiap penyelaman menjadi upaya untuk membuka bagian kapal yang sebelumnya sulit dijangkau. Tim bukan hanya dituntut menemukan korban, tetapi juga harus menentukan metode paling aman untuk mengeluarkan mereka dari ruang sempit yang kemungkinan telah mengalami kerusakan berat.

Bagi keluarga yang masih menunggu kabar, proses tersebut menjadi bagian penting dalam upaya mendapatkan kepastian mengenai keberadaan anggota keluarga mereka. Operasi pencarian dan evakuasi pun terus dilanjutkan dengan dukungan penyelam, armada laut, peralatan khusus, serta kondisi cuaca yang memungkinkan tim bekerja di lokasi kecelakaan.

Related posts

Ledakan Tambang Batu Bara di Pakistan Tewaskan 34 Pekerja, Proses Evakuasi Berlangsung Hampir Dua Hari

dewapbn

Kembang Goyang Ini Dapat Jadi Bukaan Sehat Untuk Anak Autis

Dolirena

Kematian Winda Lorenza Gowasa Masih Misterius, Polisi Sebut Bunuh Diri Keluarga Minta Diselidiki

dewapbn