Kapal Tanker Pertamina Berhasil Mengevakuasi Belasan Penumpang saat Operasi Penyelamatan KMP Mutiara Sentosa 2 yang Terbakar di Perairan Utara Madura
Insiden kebakaran yang menimpa KMP Mutiara Sentosa 2 di perairan utara Madura memicu operasi penyelamatan besar-besaran yang melibatkan berbagai unsur. Di tengah situasi darurat tersebut, kapal tanker MT Transko Arafura menjadi salah satu armada yang berperan penting setelah berhasil mengevakuasi 17 penumpang dari kapal yang dilanda api.
Peristiwa yang terjadi pada Minggu, 2 Agustus 2026, itu menyita perhatian publik karena kobaran api muncul ketika kapal tengah berlayar dari Surabaya menuju Makassar. Ratusan penumpang dan awak kapal sempat berada dalam kondisi berbahaya sebelum bantuan datang dari berbagai arah.
Selain Basarnas dan Kementerian Perhubungan, sejumlah kapal niaga, kapal tunda, hingga nelayan ikut terlibat dalam proses penyelamatan yang berlangsung selama beberapa jam.
Kebakaran Terjadi Saat Kapal Berlayar Menuju Makassar

KMP Mutiara Sentosa 2 merupakan kapal jenis roll-on/roll-off (ro-ro) milik PT Atosim Lampung Pelayaran (ALP) yang melayani pelayaran antarpulau.
Pada Minggu pagi sekitar pukul 06.00 hingga 07.00 WIB, kapal dilaporkan mengalami kebakaran saat berada sekitar 19 mil laut di utara Pulau Sapudi, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.
Api yang muncul dari salah satu bagian kapal dengan cepat membesar dan menghasilkan asap pekat yang menyelimuti area dek.
Nakhoda segera mengirimkan sinyal darurat kepada operator pelayaran untuk melaporkan kondisi kapal. Namun setelah laporan awal dikirimkan, komunikasi dengan kapal sempat terputus sehingga situasi di lapangan belum dapat dipastikan.
Informasi tersebut kemudian diteruskan kepada Basarnas, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), serta kapal-kapal yang berada di sekitar lokasi agar segera memberikan bantuan.
MT Transko Arafura Ubah Haluan Demi Misi Kemanusiaan
Salah satu kapal yang pertama merespons informasi darurat tersebut adalah MT Transko Arafura.
Kapal tanker yang berada di bawah pengelolaan PT Pertamina Patra Niaga itu segera mengubah rute pelayaran menuju lokasi kebakaran setelah menerima koordinasi dari pihak terkait.
Nakhoda MT Transko Arafura, Capt. Hans Kurniadi Sofyan, memutuskan menghentikan sementara pelayaran sesuai jalur semula dan mengarahkan kapal menuju titik koordinat kapal yang terbakar.
Keputusan tersebut diambil setelah dilakukan komunikasi dengan Basarnas, otoritas pelayaran, serta kapal lain yang telah lebih dahulu berada di sekitar lokasi kejadian.
Meski kapal tanker memiliki tugas utama mengangkut bahan bakar minyak ke berbagai wilayah Indonesia, kru kapal memilih memprioritaskan penyelamatan korban yang membutuhkan bantuan segera.
Dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan karena kondisi di sekitar kapal masih dipenuhi asap, proses evakuasi dilakukan secara bertahap.
Dalam operasi tersebut, MT Transko Arafura berhasil menyelamatkan 17 penumpang yang kemudian dibawa menuju lokasi yang lebih aman.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, memberikan apresiasi kepada nakhoda beserta seluruh awak kapal atas tindakan cepat yang dilakukan.
Menurutnya, keselamatan manusia merupakan prioritas utama sehingga keberanian dan profesionalisme kru MT Transko Arafura menjadi wujud komitmen perusahaan dalam mendukung misi kemanusiaan.
Penumpang Bertahan di Tengah Kobaran Api
Sementara proses penyelamatan berlangsung, kondisi di atas KMP Mutiara Sentosa 2 semakin memburuk.
Api terus menjalar ke berbagai bagian kapal sehingga asap tebal membuat jarak pandang semakin terbatas.
Awak kapal kemudian mengarahkan seluruh penumpang menuju area anjungan dan haluan sambil membagikan jaket keselamatan.
Langkah tersebut dilakukan untuk mempersiapkan kemungkinan evakuasi apabila kondisi kapal tidak lagi memungkinkan ditempati.
Ketika kobaran api semakin besar, sebagian penumpang akhirnya memutuskan melompat ke laut demi menyelamatkan diri.
Sekitar pukul 10.20 WIB, sejumlah korban terlihat mengapung menggunakan jaket pelampung sebelum akhirnya dijangkau kapal-kapal yang berada di sekitar lokasi.
Tug Boat Hasnur 26 dan kapal niaga British Mentor termasuk di antara armada yang berhasil mengevakuasi para korban dari permukaan laut.
Proses evakuasi berlangsung dalam situasi yang cukup sulit karena asap masih menyelimuti area sekitar kapal.
Keberadaan perlengkapan keselamatan di atas kapal juga menjadi perhatian tim penyelidik yang nantinya akan mengevaluasi apakah seluruh prosedur penanganan keadaan darurat telah dijalankan sesuai ketentuan.
Operasi SAR Libatkan Banyak Kapal

Operasi penyelamatan dilakukan secara terpadu dengan melibatkan berbagai instansi.
Kantor SAR Surabaya menerima laporan resmi dari Syahbandar Tanjung Perak sekitar pukul 08.24 WIB.
Posisi kapal kemudian berhasil dipastikan melalui komunikasi dengan kapal Meratus Project 3 sekitar pukul 09.45 WIB.
Namun kapal tersebut tidak dapat mendekat karena sedang membawa muatan yang mudah terbakar sehingga berisiko apabila berada terlalu dekat dengan sumber api.
Evakuasi pertama dilakukan oleh TB Hasnur 26 sebelum disusul pengerahan RIB 01 milik Pos SAR Sumenep.
Selain kapal pemerintah, sejumlah kapal niaga, kapal negara, kapal tunda, hingga nelayan yang sedang berada di sekitar lokasi juga ikut membantu menyelamatkan para korban.
Kementerian Perhubungan turut mengerahkan KN Grantin P.211 dan KN Masalembo untuk memperkuat operasi pencarian dan penyelamatan.
Pada Selasa, 4 Agustus 2026, korban terakhir yang berada di Pulau Masalembu berhasil dibawa menuju Surabaya menggunakan KN Masalembo.
Baca Juga; Pasien BPJS Viral Usai Unggahan Keluhan Menunggu 8 Jam
Ratusan Penumpang Berhasil Diselamatkan
Direktur Jenderal Perhubungan Laut Muhammad Masyhud menyampaikan bahwa seluruh proses evakuasi berhasil menyelamatkan sebagian besar penumpang dan awak kapal.
Berdasarkan data yang dihimpun, terdapat 238 orang yang berhasil dievakuasi dari insiden tersebut.
Sebanyak 233 orang dinyatakan selamat, sementara lima orang meninggal dunia.
Setelah seluruh korban ditemukan, operasi pencarian resmi dihentikan dan statusnya dikembalikan menjadi Operasi SAR Rutin Kesiapsiagaan.
Korban yang mengalami luka-luka mendapatkan penanganan medis di sejumlah rumah sakit di Surabaya maupun Sumenep.
Sementara itu, PT Jasa Raharja memastikan seluruh korban memperoleh perlindungan sesuai ketentuan yang berlaku, termasuk biaya perawatan serta santunan bagi korban meninggal dunia.
Pemerintah juga memfasilitasi proses pemulangan jenazah ke daerah asal agar keluarga tidak terbebani biaya tambahan.
Penyebab Kebakaran Masih Didalami
Hingga kini penyebab pasti kebakaran KMP Mutiara Sentosa 2 masih dalam tahap investigasi.
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah menurunkan tim untuk mengumpulkan berbagai data, memeriksa kondisi kapal, serta meminta keterangan dari pihak-pihak yang terkait.
Di sisi lain, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut juga memanggil PT Atosim Lampung Pelayaran guna menjalani audit terhadap penerapan sistem manajemen keselamatan perusahaan.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyatakan hasil investigasi nantinya akan menjadi dasar evaluasi terhadap standar keselamatan pelayaran nasional.
Evaluasi tersebut meliputi pemeriksaan kelaikan kapal, kesiapan awak kapal, kelengkapan alat keselamatan, hingga efektivitas prosedur penanganan keadaan darurat.
Apabila dalam penyelidikan ditemukan adanya pelanggaran terhadap ketentuan keselamatan maupun unsur pidana, pemerintah memastikan proses hukum akan dilakukan sesuai aturan yang berlaku.
Insiden kebakaran KMP Mutiara Sentosa 2 menjadi pengingat penting bahwa keselamatan pelayaran membutuhkan kesiapan seluruh pihak. Respons cepat Basarnas, TNI, Polri, Kementerian Perhubungan, operator pelayaran, nelayan, hingga kapal-kapal yang berada di sekitar lokasi seperti MT Transko Arafura berhasil menyelamatkan ratusan nyawa. Namun, kejadian yang menelan korban jiwa tersebut sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat sistem keselamatan transportasi laut agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi di masa mendatang.
