Berita

Gunung Anak Krakatau Kembali Siaga, Warga Dilarang Mendekat hingga Radius 5 Kilometer

Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali mengalami peningkatan. Pada Jumat, 9 Oktober 2026, pukul 21.00 WIB, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menaikkan status gunung api tersebut dari Level II atau Waspada menjadi Level III atau Siaga.

Keputusan ini diambil setelah dilakukan analisis dan evaluasi terhadap perkembangan aktivitas vulkanik Anak Krakatau. Seiring perubahan status tersebut, radius kawasan yang harus dihindari masyarakat diperluas dari sebelumnya 2 kilometer menjadi 5 kilometer dari pusat erupsi.

Kondisi ini menjadi perhatian karena aktivitas gunung api tersebut juga diikuti kemunculan dua daratan baru di sekitarnya. Selain itu, informasi mengenai potensi tsunami setinggi 60 meter sempat beredar di media sosial dan menimbulkan kekhawatiran masyarakat.

Pemerintah mengimbau masyarakat tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, serta mengikuti informasi dari sumber resmi. Berikut sejumlah perkembangan terbaru terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau.

1. Status Naik Menjadi Siaga, Radius Aman Diperluas

Badan Geologi menetapkan status Gunung Anak Krakatau menjadi Level III atau Siaga pada 9 Oktober 2026. Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menyampaikan bahwa keputusan tersebut didasarkan pada hasil pemantauan, analisis, dan evaluasi aktivitas gunung api.

Dengan kenaikan status ini, masyarakat tidak diperbolehkan melakukan aktivitas dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi. Sebelumnya, batas kawasan yang harus dihindari berada pada jarak 2 kilometer.

Larangan tersebut berlaku bagi masyarakat umum, pengunjung, wisatawan, maupun pendaki. Badan Geologi juga meminta masyarakat menjauhi daratan baru di sisi barat laut dan tenggara gunung dalam radius 1 kilometer.

Kawasan sekitar Anak Krakatau berpotensi menghadapi berbagai bahaya, seperti lontaran batu pijar, hujan abu vulkanik, dan aliran lava. Ancaman lainnya adalah erupsi sekunder yang dapat terjadi ketika material vulkanik bersuhu tinggi bersentuhan dengan air laut atau air hujan.

Karena aktivitas gunung dapat berubah sewaktu-waktu, masyarakat tidak disarankan mendekati kawasan untuk menyaksikan erupsi secara langsung. Kepatuhan terhadap batas aman menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko jatuhnya korban.

2. Dua Daratan Baru Terdeteksi di Sekitar Gunung

Selain perubahan status, kemunculan dua daratan baru di sekitar Gunung Anak Krakatau turut menjadi perhatian. Keberadaan keduanya teridentifikasi melalui analisis citra satelit Sentinel bertanggal 23 September 2026.

Daratan pertama berada sekitar 760 meter di sebelah barat laut gunung, sedangkan daratan kedua berjarak sekitar 495 meter di sebelah tenggara. Posisi kedua daratan tersebut dilaporkan hampir segaris apabila ditarik melewati kawah Anak Krakatau.

Kemunculan daratan itu diduga berkaitan dengan aktivitas erupsi yang berlangsung selama kurang lebih 25 jam pada 4–6 September 2026. Material vulkanik diperkirakan keluar melalui retakan bawah laut yang membentang dari arah barat laut menuju tenggara, kemudian menumpuk di perairan dangkal hingga membentuk daratan yang terlihat di permukaan laut.

Meski demikian, proses pembentukan dan kestabilan kedua daratan tersebut masih memerlukan kajian lebih lanjut. Keberadaannya belum serta-merta membuktikan bahwa keduanya merupakan pulau baru yang permanen.

Anak Krakatau sendiri tumbuh akibat aktivitas vulkanik setelah kehancuran sebagian besar tubuh Gunung Krakatau dalam letusan besar pada 1883. Gunung tersebut kemudian berkembang menjadi daratan yang muncul secara permanen sekitar 1930.

Masyarakat diimbau tidak mendekati daratan baru untuk mengambil foto atau melihat kondisinya secara langsung. Material vulkanik yang masih muda dapat mengalami perubahan akibat gelombang, arus laut, maupun aktivitas gunung berikutnya.

3. Aktivitas Vulkanik Meningkat Sejak Juli 2026

Perubahan status Anak Krakatau dalam beberapa bulan terakhir memperlihatkan pentingnya pemantauan aktivitas vulkanik secara berkelanjutan.

Pada 2 Juli 2026, status gunung tersebut dinaikkan menjadi Level III atau Siaga setelah terdeteksi peningkatan kegempaan vulkanik dan deformasi tubuh gunung. Hingga 3 September 2026, tercatat sebanyak 224 kali erupsi.

Aktivitas berlanjut pada 4–6 September 2026 ketika gunung mengalami erupsi menerus selama sekitar 25 jam. Setelah periode tersebut, letusan bertipe Strombolian juga dilaporkan terjadi.

Pada 21 September 2026, status Anak Krakatau diturunkan menjadi Level II atau Waspada. Radius aman yang direkomendasikan saat itu adalah 2 kilometer dari pusat aktivitas.

Selanjutnya, citra satelit bertanggal 23 September mengidentifikasi dua daratan baru di sekitar gunung. Aktivitas erupsi kembali tercatat pada 5 Oktober 2026, dengan amplitudo maksimum 33 milimeter dan durasi sekitar satu menit berdasarkan informasi dalam laporan tersebut.

Empat hari kemudian, status gunung kembali dinaikkan menjadi Siaga. Perubahan ini menunjukkan bahwa penetapan status gunung api bergantung pada evaluasi kondisi terbaru, bukan hanya pada letusan yang terlihat secara langsung.

4. Kabar Tsunami Setinggi 60 Meter Diminta Tidak Dipercaya

Peningkatan status Anak Krakatau diikuti beredarnya kabar mengenai potensi tsunami setinggi 60 meter akibat erupsi. Informasi tersebut memicu kekhawatiran, khususnya di kalangan masyarakat yang tinggal di pesisir Banten dan Lampung.

Namun, Badan Geologi membantah narasi yang menyebut aktivitas erupsi saat ini berpotensi memicu tsunami setinggi 60 meter. Dalam laporan tersebut, unggahan akun TikTok bernama XinShi disebut merupakan hasil penyuntingan dari konten asli milik Badan Geologi.

Masyarakat diminta memeriksa sumber informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Video yang dipotong atau diberi keterangan tambahan tanpa konteks dapat menimbulkan kesalahpahaman dan kepanikan.

Meski demikian, masyarakat tetap perlu memperhatikan perkembangan aktivitas Anak Krakatau dan potensi bahaya di kawasan Selat Sunda. Bantahan terhadap klaim tertentu tidak berarti seluruh risiko bencana dapat diabaikan.

Warga pesisir disarankan memantau informasi dari Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), BMKG, serta BPBD setempat. Jika terdapat peringatan resmi atau instruksi evakuasi, masyarakat harus mengikuti arahan petugas.

Baca Juga; Rumah Dinas TNI Cijantung Jadi Markas Judol

5. Promosi Wisata ke Anak Krakatau Diminta Dihentikan

Seiring meningkatnya aktivitas vulkanik, kegiatan wisata ke kawasan Anak Krakatau juga menjadi perhatian. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) sebelumnya memberikan teguran kepada 34 akun media sosial dan pelaku usaha wisata yang masih mempromosikan paket perjalanan ke kawasan tersebut.

Teguran itu disampaikan melalui surat tertanggal 7 Oktober 2026. Pihak yang menerima teguran berasal dari sejumlah daerah, termasuk Lampung, Banten, Jawa Barat, Sumatera Selatan, Jambi, Yogyakarta, dan Jakarta.

BKSDA meminta promosi, penjualan paket, pendaftaran peserta, serta pemberangkatan wisatawan ke Cagar Alam Gugus Pulau Anak Krakatau dihentikan. Kegiatan yang menjadi perhatian mencakup pendakian, trekking, berkemah, aktivitas pantai, hingga pengambilan foto untuk kepentingan wisata di dalam kawasan konservasi.

Kepala Seksi KSDA Wilayah III Lampung BKSDA Bengkulu, Itno Itoyo, menegaskan bahwa Anak Krakatau merupakan kawasan konservasi berstatus cagar alam, bukan objek wisata yang dapat dimasuki secara bebas.

Untuk penanganan pelanggaran, BKSDA juga perlu berkoordinasi dengan kepolisian dan aparat penegak hukum terkait.

Masyarakat sebaiknya tidak memaksakan kunjungan hanya untuk melihat daratan baru. Foto dan video yang beredar di media sosial tidak dapat dijadikan patokan untuk menentukan keamanan suatu lokasi.

Informasi terbaru mengenai status gunung dan radius bahaya dapat dipantau melalui kanal resmi Badan Geologi dan MAGMA Indonesia. Dengan mematuhi rekomendasi keselamatan, menghindari kawasan terlarang, dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, masyarakat dapat membantu mengurangi risiko bencana di sekitar Gunung Anak Krakatau.

Related posts

MT Transko Arafura Ikut Selamatkan Korban Kebakaran KMP Mutiara Sentosa 2, Evakuasi Berlangsung Dramatis di Laut Jawa

dewapbn

Guru Sekolah Internasional di Tangsel Dilaporkan, Dugaan Pelecehan Bermula dari Les Mengaji

dewapbn

Video Pria di Tengah Barisan Polisi Saat Demo Hari Tani Bengkulu Viral, Polda Lakukan Pendalaman

dewapbn